EtIndonesia. Pada Kamis (13 Maret), Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengunjungi Gedung Putih untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Trump. Keduanya membahas berbagai isu penting, termasuk pembagian biaya pertahanan NATO, situasi di Ukraina, serta kerja sama pertahanan Eropa. Trump menegaskan komitmen Amerika Serikat terhadap NATO, tetapi sekali lagi mendesak sekutu-sekutunya untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan mereka.
“Saat ini, negosiasi perjanjian gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina sedang memasuki tahap paling krusial. Sementara itu, Eropa berusaha mengurangi ketergantungannya pada Amerika Serikat sekaligus ingin mempengaruhi kebijakan Washington. Oleh karena itu, pertemuan ini mendapat perhatian besar dari berbagai pihak. Selain itu, Trump dan Rutte juga membahas kepemilikan Greenland dan keamanan di wilayah Arktik,” demikian laporan reporter NTD dari Gedung Putih.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin memuji upaya Amerika Serikat dalam memfasilitasi perjanjian gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump: “Situasi ini seharusnya tidak pernah terjadi dan telah berlangsung terlalu lama.”
Sekjen NATO Mark Rutte: “Amerika Serikat telah memecahkan kebuntuan, dan ini sangat penting.”
Trump: “Ya, kami telah memecahkan kebuntuan. Saya harap ini benar-benar berarti.”
Sementara itu, perjanjian gencatan senjata selama 30 hari yang diinisiasi oleh AS telah disetujui oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky setelah sehari penuh pembicaraan di Arab Saudi pada 11 Maret. Kini, persetujuan dari Rusia masih diperlukan.
Pada Kamis, Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan konferensi pers di Moskow dan menyatakan kesediaannya untuk menerima gencatan senjata selama 30 hari, tetapi ia meminta agar rincian perjanjian diperjelas lebih lanjut.
Presiden Rusia Vladimir Putin: “Siapa yang akan memberikan perintah untuk menghentikan pertempuran? Apa konsekuensinya? Bayangkan garis depan sepanjang hampir 2.000 kilometer. Bagaimana cara memastikan pihak mana yang melanggar gencatan senjata, di lokasi dan waktu tertentu?”
Trump menjelaskan bahwa perjanjian gencatan senjata mencakup persoalan kepemilikan wilayah yang diduduki kedua belah pihak selama konflik, serta berbagai rincian lainnya. Kesepakatan ini telah dirundingkan dengan kedua belah pihak sebelum dirancang.
Trump: “Sekarang kita akan melihat apakah Rusia akan menyetujuinya atau tidak. Jika mereka menolak, ini akan menjadi kekecewaan besar bagi seluruh dunia.”
Pada hari yang sama, utusan khusus Trump, Steve Witkov, tiba di Moskow untuk membahas perjanjian gencatan senjata dengan pihak Rusia. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Putin berencana bertemu dengan Witkov.
Mengenai keamanan internasional, Trump juga membahas kapal perang yang beroperasi di perairan pantai, secara tidak langsung menyinggung kapal perang Rusia dan PKT yang melintasi Selat Bering sebagai ancaman bagi dunia bebas dan Amerika Serikat.
Ia juga menyinggung isu kepemilikan Greenland.
Trump: “Kami membutuhkan Greenland demi keamanan internasional. Bukan hanya keamanan biasa, tetapi keamanan global.”
Rutte menghindari membahas kepemilikan Greenland, tetapi ia setuju dengan pandangan Trump mengenai keamanan di wilayah Arktik. Ia menekankan bahwa tujuh negara di kawasan Arktik sedang bekerja sama untuk mencegah pelanggaran hukum internasional oleh PKT dan pihak lain.
Dalam pertemuan tersebut, Trump juga berbicara dengan Rutte mengenai penegakan hukum di perbatasan selatan AS serta isu keamanan dalam negeri.
Trump: “Kami tidak ingin kejahatan terjadi di jalanan. Kami tidak ingin ada orang yang didorong ke rel kereta bawah tanah dan terbunuh.”
Setelah menjawab pertanyaan wartawan, Trump mengundang Rutte untuk makan siang kerja bersama. (Hui)
Sumber : NTDTV.com


