EtIndonesia. Pada Rabu, 26 Maret, para pejabat intelijen menghadiri sidang di Dewan Perwakilan Rakyat AS untuk menjawab pertanyaan. Mereka menegaskan bahwa akan dilakukan investigasi terkait mengapa seorang jurnalis secara keliru dimasukkan ke dalam grup, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada informasi rahasia yang bocor.
Trump: Ini Hanya Perburuan Politik
Jurnalis NTD Tao Ming melaporkan: “Terkait insiden viral baru-baru ini, di mana seorang jurnalis secara tidak sengaja dimasukkan ke dalam grup obrolan Signal pejabat tinggi AS, Trump pada Rabu (26 Maret) menanggapinya. Ia menyebut pemberitaan media sebagai tuduhan yang dibuat-buat dan bagian dari perburuan politik. Sementara itu, Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, menegaskan bahwa tidak ada informasi rahasia yang didiskusikan dalam grup tersebut.”
Presiden AS Donald Trump: “Media membesar-besarkan masalah ini. Saya pikir ini semua hanya perburuan penyihir politik. (Serangan terhadap kelompok Houthi) sangat sukses, dan itulah yang seharusnya kalian bahas.”
Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard: “Penasihat Keamanan Nasional telah mengambil tanggung jawab penuh atas insiden ini. Dewan Keamanan Nasional sedang bekerja sama dengan para pakar teknologi untuk menyelidiki bagaimana seorang jurnalis bisa secara keliru ditambahkan ke dalam grup.”
Gedung Putih: Media Mainkan Berita Palsu
Menanggapi insiden ini, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengkritik Jeffrey Goldberg, pemimpin redaksi The Atlantic, serta beberapa media lain. Ia menuduh mereka memanipulasi kata-kata untuk membuat berita palsu.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt: “Sekali lagi, informasi yang dibagikan di Signal tidak mengandung rahasia negara, juga tidak ada diskusi tentang rencana operasi militer. Mengapa The Atlantic mengubah tuduhan mereka dari ‘rencana perang’ menjadi hanya ‘rencana serangan’? Mereka sedang memainkan permainan kata-kata.”
Namun, pada Rabu (26 Maret), The Atlantic merilis transkrip lengkap percakapan grup Signal tersebut. Dokumen itu menunjukkan bahwa Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sempat membagikan waktu pasti lepas landas dan waktu pengeboman jet tempur sebelum serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman.
Politisi Partai Demokrat memperingatkan bahwa kebocoran ini bisa mengancam keamanan militer AS.
Anggota DPR AS Jim Himes: “Semua orang tahu bahwa Rusia atau PKT bisa saja mendapatkan informasi ini dan memberikannya kepada kelompok Houthi. Ini memungkinkan mereka mengubah posisi senjata, menyusun ulang strategi, atau bahkan menembak jatuh pesawat atau menenggelamkan kapal perang AS.”
Kasus kebocoran ini masih terus berkembang, dan Kongres AS berencana untuk melanjutkan penyelidikan lebih lanjut guna memahami dampak serta kronologi kejadian.
Jurnalis Tao Ming: “Juru bicara Gedung Putih memberi tahu kami bahwa Dewan Keamanan Nasional dan tim hukum Gedung Putih saat ini bekerja sama dengan para pakar yang dibawa oleh Elon Musk untuk menyelidiki bagaimana jurnalis itu bisa masuk ke grup Signal. Tujuannya adalah mencegah insiden serupa terjadi di masa depan.” (Hui)


