EtIndonesia. Presiden Donald Trump pada tanggal 2 April secara resmi mengumumkan daftar negara yang akan dikenai “tarif resiprokal” oleh Amerika Serikat. Dalam daftar tersebut, Taiwan dikenakan tarif sebesar 32%, menjadikannya peringkat ke-23 tertinggi secara global. Dan Tiongkok, meskipun secara resmi hanya dikenai tarif baru sebesar 34%, jika digabungkan dengan tarif sebelumnya sebesar 20% yang masih berlaku, maka total tarif yang dibebankan terhadap produk Tiongkok mencapai 54%, menjadikannya negara dengan beban tarif tertinggi di dunia saat ini.
Namun, yang paling membuat pemerintah Beijing murka bukan hanya soal tarif. Yang membuat situasi semakin panas adalah papan informasi yang dibawa Trump saat konferensi pers, di mana Taiwan ditampilkan sebagai negara yang terpisah dari Tiongkok.
Menanggapi hal ini, Duta Besar Tiongkok untuk AS, Xie Feng, hanya memberikan pernyataan diplomatik singkat.
“Taiwan adalah milik Tiongkok. Kami akan terus berupaya keras dan dengan niat tulus mengejar reunifikasi damai. Namun kami tidak akan memberi ruang sedikit pun kepada kekuatan separatis ‘kemerdekaan Taiwan’,” katanya.
5 Negara yang Paling Terdampak oleh Tarif Trump
Sebagai negara pengimpor terbesar di dunia dan mitra dagang utama kedua setelah Tiongkok, kebijakan tarif baru AS akan memiliki dampak global yang signifikan. Pada tanggal 2 April, Gedung Putih mengumumkan bahwa lebih dari 100 negara akan dikenai tarif dasar sebesar 10% atas semua barang impor, berlaku mulai 6 April. Selain itu, sekitar 60 negara yang dianggap melakukan praktik tidak adil seperti pembatasan perdagangan dan manipulasi mata uang, akan dikenai tarif tambahan mulai 9 April.
Menurut analisis Sydney Morning Herald, berikut adalah 5 negara yang paling terkena dampak kebijakan tarif Trump:
1. China – 54% (34% tarif baru + 20% sebelumnya)
Tiongkok adalah negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia dan juga mitra dagang terbesar kedua AS. Pada tahun 2024, defisit perdagangan AS terhadap Tiongkok mencapai 440 miliar dolar, yang dianggap tidak adil oleh pemerintah Trump. Tiongkok menyumbang sekitar 17% dari total impor AS, dengan ekspor utama berupa peralatan penyiaran, komputer, dan suku cadang mesin kantor.
Tiongkok juga memberlakukan tarif pada ekspor AS seperti kedelai, daging babi, dan produk otomotif tertentu, yang menyebabkan hubungan perdagangan kian memburuk.
2. Lesotho – 50%
Lesotho, negara kecil di Afrika Selatan, terkena tarif sangat tinggi hingga 50%, sama seperti wilayah luar negeri Prancis, Saint Pierre dan Miquelon. Lesotho mengekspor berlian dan pakaian rajutan ke AS senilai 237 juta dolar, namun hanya mengimpor dari AS sekitar 2,8 juta dolar. Ketimpangan perdagangan yang besar membuat Trump menjatuhkan tarif tinggi.
Selain itu, Lesotho mengikuti sistem tarif SACU (Southern African Customs Union), yang mengenakan biaya bea masuk 119–180 dolar per unit barang yang diimpor dari AS.
3. Uni Eropa – 20%
Uni Eropa merupakan mitra perdagangan dan investasi bilateral terbesar bagi Amerika Serikat, dengan volume perdagangan harian mencapai 44 miliar euro (sekitar 77 miliar dolar). Negara-negara seperti Jerman, Irlandia, dan Italia merupakan eksportir utama dari UE ke AS, khususnya di sektor obat-obatan dan kendaraan.
AS mencatat defisit perdagangan sebesar 157 miliar euro (273 miliar dolar) terhadap UE. UE juga menerapkan tarif 10% untuk mobil AS serta bea masuk untuk pakaian dan alas kaki, yang menjadi alasan Trump menyebut UE “memanfaatkan AS”.
4. Swiss – 31%
Sejak 2021, Swiss menjadi pasar ekspor terbesar bagi AS di sektor tertentu. Ekspor utama Swiss ke AS mencakup vaksin, produk darah, toksin, dan jam tangan mewah. Namun, Swiss mengenakan tarif hingga 61% terhadap barang-barang dari AS, dan AS mencatat defisit perdagangan sebesar 38,5 miliar dolar terhadap Swiss.
5. Vietnam – 46%
Sekitar 30% ekspor Vietnam ditujukan ke pasar AS, terutama berupa peralatan siaran, komputer, dan furnitur. Defisit perdagangan AS terhadap Vietnam pada tahun 2024 mencapai 124 miliar dolar.Meskipun rata-rata tarif Vietnam terhadap barang AS di bawah 15%, beberapa produk seperti makanan dan hasil pertanian menghadapi tarif tinggi. Vietnam juga melarang impor mainan anak tertentu, yang dinilai sebagai hambatan dagang oleh AS.(jhn/yn)


