Gempa Dahsyat di Myanmar Tewaskan Lebih dari 3.000 Orang, Junta Militer Umumkan Gencatan Senjata 20 Hari

Sudah lima hari berlalu sejak gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar, menewaskan lebih dari 3.000 orang. Pada Rabu (2 April), junta militer yang berkuasa mengumumkan gencatan senjata sementara dengan alasan untuk mendukung operasi penyelamatan dan bantuan kemanusiaan. Namun, para analis menilai bahwa junta militer berusaha memanfaatkan bencana ini untuk memperkuat posisi mereka.

EtIndonesia. Pihak militer Myanmar menyatakan bahwa gencatan senjata akan berlangsung hingga 22 April. Sementara itu, Pemerintahan Persatuan Nasional (National Unity Government), yang mewakili pemerintah sipil yang digulingkan, telah lebih dulu mengumumkan penghentian serangan militer ofensif selama dua minggu di daerah terdampak sejak 30 Maret, kecuali untuk pertahanan diri.

Menurut laporan Associated Press, pada 2 April, dua orang pria berhasil diselamatkan dari reruntuhan sebuah hotel di ibu kota Myanmar, dan satu orang lainnya ditemukan selamat di reruntuhan penginapan di kota lain. Namun, sebagian besar tim penyelamat hanya menemukan jenazah.

Hingga  2 April, jumlah korban mencapai 3.003 tewas dan lebih dari 4.500 terluka. Getaran gempa ini bahkan terasa hingga 1.100 kilometer jauhnya, menyebabkan sebuah gedung yang dibangun oleh perusahaan Tiongkok roboh di Bangkok, dengan puluhan orang masih dinyatakan hilang.

Junta Militer Gunakan Bencana untuk Mencari Keuntungan Diplomatik?

Setelah kudeta militer empat tahun lalu yang menyebabkan perang saudara di Myanmar, junta militer telah menghadapi isolasi diplomatik. Namun, para analis menilai bahwa bencana ini dapat membuka kembali jalur diplomasi bagi pemimpin junta, Min Aung Hlaing, dan membantunya mempertahankan kekuasaan.

Menurut Reuters, Min Aung Hlaing seharusnya menghadiri pertemuan BIMSTEC (Bay of Bengal Initiative for Multi-Sectoral Technical and Economic Cooperation) pada 2–4 April di Bangkok, Thailand. Timnya dikabarkan sibuk mengatur pertemuan dengan para pemimpin negara lain.

Namun, gempa yang terjadi pada 28 Maret menghancurkan ribuan bangunan, jembatan, dan jalan. Tidak jelas apakah Min Aung Hlaing akan tetap menghadiri pertemuan BIMSTEC, tetapi bencana ini telah membantunya mengakhiri isolasi diplomatik.

Sejak gempa terjadi, Min Aung Hlaing telah berbicara dengan Pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Bantuan internasional pun mulai berdatangan, dengan Tiongkok, India, Rusia, dan negara-negara ASEAN memberikan jutaan dolar bantuan serta mengirimkan ratusan tim penyelamat.

Seorang analis di Singapura, Angshuman Choudhury, mengatakan bahwa negara-negara besar seperti India, Tiongkok, dan Rusia sedang bersaing untuk meningkatkan pengaruh mereka di Myanmar.

Sementara itu, junta militer Myanmar memanfaatkan interaksi terbuka dengan negara-negara regional untuk menunjukkan bahwa mereka masih menjadi otoritas utama di Myanmar.

Namun, pihak junta tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.

Militer Myanmar dalam Tekanan, Kini Kembali ke Panggung Diplomatik

Dalam perang saudara yang berlangsung sejak kudeta 2021, militer Myanmar mengalami kekalahan bertubi-tubi. Meski masih mendapat dukungan dari Tiongkok, Min Aung Hlaing tetap berada di bawah tekanan berat.

Pada November 2023, Min Aung Hlaing mengunjungi Tiongkok, tetapi tidak diterima oleh  Xi Jinping. Sebaliknya, saat berkunjung ke Moskow pada Maret 2025, ia disambut langsung oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, yang merupakan salah satu pemimpin dunia pertama yang mendukung junta setelah kudeta.

Seorang diplomat di Yangon mengatakan bahwa Min Aung Hlaing kini memiliki lebih banyak akses diplomatik. Selain bisa berbicara dengan Modi dan menghadiri pertemuan ASEAN, ia juga kembali ke lingkaran pergaulan internasional.

Jika Min Aung Hlaing menghadiri pertemuan BIMSTEC, ia bisa memperkuat hubungan diplomatiknya dengan India dan Thailand. BIMSTEC adalah organisasi yang dipimpin oleh India dan beranggotakan Myanmar, India, Thailand, Bangladesh, Nepal, Sri Lanka, dan Bhutan.

Namun, seorang diplomat lain di Myanmar menilai bahwa junta militer sedang berusaha memanfaatkan bencana ini untuk kepentingan mereka sendiri.

Analis Choudhury juga memperingatkan bahwa junta bisa menggunakan bencana ini untuk memperkuat posisi mereka di medan perang, karena kelompok pemberontak akan kesulitan mendapatkan dukungan dari masyarakat lokal setelah gempa ini. (Hui)

Laporan oleh Cheng Yiren – New Tang Dynasty Television

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine