Pada 3 April, Israel memperluas operasi militernya di Gaza. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa tekanan militer terhadap Hamas akan terus ditingkatkan hingga semua sandera dibebaskan. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terhadap kelompok Houthi di Yaman yang didukung oleh Iran.
EtIndonesia. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, pada hari Rabu mengatakan bahwa Israel sedang meningkatkan tekanan militer terhadap Hamas untuk memaksa mereka menyerahkan semua sandera.
“Malam ini di Jalur Gaza, kami meningkatkan operasi kami. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) merebut wilayah, menyerang teroris, dan menghancurkan infrastruktur mereka. Kami juga melakukan hal lain—mengambil alih Koridor Morag,” ujarnya.
Militer Israel merilis video yang menunjukkan bahwa pasukan mereka memperkuat operasi darat di Kota Rafah, Gaza Selatan.
Dalam sebuah pernyataan, militer Israel mengatakan bahwa pasukan mereka telah menyelesaikan pengepungan di daerah “Tal al-Sultan” di Rafah.
Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengumumkan bahwa operasi militer di Jalur Gaza semakin diperluas untuk membersihkan militan Hamas di wilayah tersebut. Ia juga mendesak penduduk Rafah dan daerah sekitarnya untuk mengungsi.
Sehari sebelumnya, Israel melakukan serangan udara di pinggiran selatan ibu kota Lebanon, Beirut, yang menewaskan komandan Hizbullah, Hassan Bdeir. Ia dituduh membantu Hamas dalam merencanakan serangan teror besar terhadap warga sipil Israel.
Di sisi lain, citra satelit menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan enam pesawat pembom siluman B-2 ke Pangkalan Militer Diego Garcia di Samudera Hindia. Para analis menilai ada beberapa kemungkinan alasan di balik langkah ini.
“Alasan pertama adalah bahwa AS sedang melakukan serangan udara intensif yang berkelanjutan terhadap pemberontak Houthi di Yaman. Pesawat B-2 ini sebelumnya digunakan oleh pemerintahan Biden untuk menyerang terowongan bawah tanah yang digunakan oleh pemberontak Houthi. Kemudian ada juga kemungkinan serangan terhadap Iran,” ujar Jurnalis Jon Gambrell.
Sejak pemerintahan Trump mulai menjabat, AS telah melakukan serangan udara intensif terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran, meskipun Gedung Putih belum mengungkapkan rincian spesifik dari operasi ini.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan bahwa hanya dalam satu hari, yaitu pada hari Selasa, AS telah melancarkan lebih dari 200 serangan udara terhadap kelompok Houthi.
Pada Rabu, Presiden AS Donald Trump menulis di media sosial Truth Social bahwa AS sedang memberikan pukulan mematikan terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran untuk menjaga kebebasan navigasi di Laut Merah.
“Pilihan Houthi sangat jelas: berhenti menembaki kapal Amerika, maka kami akan berhenti menembak kalian. Jika tidak, kami baru saja memulai. Penderitaan yang sebenarnya masih akan datang, baik bagi kelompok Houthi maupun para pendukung mereka di Iran,” tulis Trump.
Laporan oleh Zhao Fenghua – New Tang Dynasty Television


