EtIndonesia. Setelah serangkaian serangan brutal oleh kelompok bersenjata terhadap beberapa wilayah di ibu kota Haiti, ribuan warga pada Rabu (2/4) turun ke jalan-jalan di Port-au-Prince. Mereka menyuarakan kemarahan atas kegagalan pemerintah dalam menghadapi kelompok bersenjata yang kini menguasai hampir seluruh wilayah ibu kota dan sekitarnya. Aksi protes ini memanas hingga terjadi bentrokan dengan pihak kepolisian, di mana sedikitnya belasan demonstran yang bersenjata lengkap melepaskan tembakan ke arah aparat.
Menurut laporan Central News Agency (CNA), ini merupakan aksi protes besar pertama terhadap pemerintahan Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aimé, yang baru menjabat sejak November tahun lalu. Jurnalis dari Associated Press yang berada di lokasi menyatakan bahwa tidak terlihat adanya korban luka atau meninggal dunia dalam insiden tersebut.

Kelompok bersenjata yang tergabung dalam aliansi geng “Viv Ansanm” terus melakukan aksi kekerasan besar-besaran yang telah memaksa lebih dari 1 juta orang mengungsi dari rumah mereka. Situasi ini memperburuk kondisi ekonomi yang membeku, menyebarnya kelaparan massal, dan meningkatnya kasus pemerasan, kekerasan seksual, serta pembunuhan yang dilakukan oleh geng-geng tersebut.
Pemerintahan transisi yang dipimpin oleh Dewan Kepresidenan Sementara, yang dibentuk secara bergiliran sejak hampir satu tahun lalu, bersama dengan Misi Dukungan Keamanan PBB yang kekurangan personel dan dana, dinilai hampir tidak berbuat apa-apa dalam menghentikan ekspansi kekuasaan geng.
Seorang demonstran yang diwawancarai oleh Reuters menyatakan dengan lantang, : “Kamu lihat sendiri, hari ini rakyat Haiti berjuang demi kebebasan. Kami adalah orang-orang bebas. Mereka tidak bisa membuatku takut!”

Warga memenuhi jalanan Port-au-Prince sambil mengangkat spanduk dan daun palem sebagai simbol protes. Namun, beberapa dari mereka juga terlihat membawa parang besar dan senjata api. Aksi yang awalnya berlangsung damai, berubah tegang ketika suara tembakan terdengar di tengah kerumunan, memicu kepanikan massal dan warga berlarian menyelamatkan diri.
Seorang penyelenggara aksi yang mewawancarai media dengan wajah tertutup demi alasan keamanan mengatakan : “Tujuan kami hari ini adalah menduduki kantor Perdana Menteri dan membakar Dewan Kepresidenan Sementara Haiti.”
Saat ini, geng-geng kriminal telah menguasai sekitar 85% wilayah Port-au-Prince, dan semakin berani menjarah wilayah-wilayah yang sebelumnya dikenal aman dan tenang. Kondisi ini telah menyulut kemarahan besar di kalangan masyarakat.Menurut laporan dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), gelombang kekerasan geng yang meletus dalam satu bulan terakhir telah memaksa lebih dari 60.000 orang mengungsi dari rumah mereka dalam waktu singkat. (jhn/yn)


