EtIndonesia. Pada 18 Mei, Portugal menggelar pemilu legislatif lebih awal. Hasilnya, partai tengah-kanan yang tengah berkuasa meraih jumlah kursi terbanyak, namun kembali gagal memperoleh mayoritas di parlemen. Sementara itu, partai Chega—yang oleh banyak pihak dikategorikan sebagai kelompok sayap kanan ekstrem—menjadi kejutan besar dan disebut sebagai pemenang sejati dalam pemilu ini.
Ini adalah pemilu ketiga yang digelar Portugal dalam tiga tahun terakhir. Hasilnya berpotensi memperburuk ketidakstabilan politik di negara anggota NATO dan Uni Eropa ini, terutama di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global dan upaya Uni Eropa memperkuat pertahanan kolektif.
Berdasarkan hasil penghitungan resmi yang hampir selesai, Partai Aliansi Demokratik (Democratic Alliance, AD) yang dipimpin Perdana Menteri Luís Montenegro meraih 32,7% suara. Sementara Partai Sosialis (PS) dan partai Chega bersaing ketat untuk posisi kedua.
Dari total 230 kursi parlemen Portugal, AD memperoleh 89 kursi—bertambah 9 kursi dibandingkan pemilu sebelumnya. Chega berhasil mendapatkan 58 kursi, naik 8 kursi dari sebelumnya. Partai Sosialis juga memperoleh 58 kursi, namun kehilangan 20 kursi dari pemilu lalu, menjadikannya hasil terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Akibat kekalahan ini, ketua Partai Sosialis mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab.
Partai “Inisiatif Liberal” (Initiative Liberal, IL), sebuah partai baru yang pro-bisnis, berhasil memperoleh 9 kursi. Namun, bahkan dengan dukungan partai ini, kubu pemerintah tetap memerlukan dukungan Chega untuk membentuk mayoritas agar dapat meloloskan undang-undang secara efektif di parlemen.
Marina Costa Lobo, pakar ilmu politik dari Universitas Lisbon, mengatakan kepada AFP : “Belum jelas apakah hasil ini akan meningkatkan kemampuan pemerintah untuk memerintah.” Ia menambahkan bahwa Chega adalah “pemenang terbesar malam ini.”
Arah Politik Eropa Berubah
Tak hanya Portugal, beberapa negara Eropa juga menggelar pemilu pada bulan Mei ini. Di Rumania, kandidat dari kubu tengah pro-Uni Eropa, Mircea Dănă, memenangkan putaran kedua pemilu presiden dengan perolehan suara lebih dari 55%. Sementara itu, Polandia juga akan menggelar putaran pertama pemilu presiden, dan hasil jajak pendapat menunjukkan kandidat pro-Uni Eropa dari kubu tengah, Radosław Sikorski, unggul tipis dengan 30,8% suara.
Di ujung barat Eropa, partai Aliansi Demokratik (AD) yang dipimpin Luís Montenegro memang berhasil keluar sebagai pemenang dalam pemilu Portugal, namun tetap gagal meraih mayoritas absolut. Montenegro sendiri menolak untuk membentuk koalisi dengan Chega, dengan alasan bahwa partai tersebut “tidak dapat dipercaya” dan “tidak cocok untuk memerintah.”
Pengamat di Barat menilai bahwa meskipun secara teknis kubu tengah-kanan masih mendominasi, kenyataan bahwa partai kiri-tengah dan sayap kanan ekstrem hampir menyamai mereka dalam jumlah kursi menunjukkan bahwa arah angin politik di Portugal telah berubah secara signifikan.(jhn/yn)


