Pada 20 Mei, terjadi kebakaran besar di sebuah pabrik tekstil di Pingshan, Kota Yibin, Sichuan, Tiongkok. Api terus menyala selama 37 jam dan belum juga berhasil dipadamkan. Asap hitam tebal membumbung tinggi di lokasi kejadian. Beberapa orang yang mengetahui situasi menyatakan bahwa pemilik pabrik menunggak gaji sebesar RMB.800 (mata uang Tiongkok) kepada seorang karyawan. Setelah berulang kali menagih tanpa hasil, karyawan tersebut akhirnya membakar pabrik.
ETIndonesia. Berdasarkan penuturan warganet daratan Tiongkok, terjadi kebakaran yang dimulai pada 20 Mei 2025 siang di sebuah pabrik tekstil di Pingshan, Kota Yibin, Sichuan, Tiongkok. Kobaran Sempat padam selama beberapa jam, namun api kembali menyala dengan intensitas lebih besar. Hingga 21 Mei malam, asap hitam masih terlihat. Beberapa video menunjukkan asap tebal membumbung hingga puluhan meter di atas gedung, api menyala dengan sangat hebat.
Pada 22 Mei, Kepolisian Kabupaten Pingshan, Kota Yibin merilis pernyataan bahwa sekitar pukul 12 siang tanggal 20 Mei, tersangka bermarga Wen (pria, 27 tahun) membakar sebuah ruang kerja di pabrik tekstil tersebut. Karena banyaknya bahan katun di dalam ruangan, pemadaman api menjadi sangat sulit. Saat ini, api telah berhasil dikendalikan.
Dalam pernyataan tersebut juga disebutkan bahwa Wen telah ditahan oleh pihak kepolisian, dan motif serta kerugian akibat peristiwa ini masih dalam penyelidikan.
Pabrik tempat kejadian adalah milik Sichuan Jinyu Textile Co., Ltd., yang berlokasi di Kawasan Pengembangan Ekonomi Pingshan, Sichuan. Wen adalah karyawan di pabrik tersebut.
Sumber yang mengetahui kejadian ini menyebutkan bahwa demi gaji sebesar RMB.800 , yang tidak diberikan oleh pemilik, sang karyawan sempat menusuk bagian keuangan (akunting), lalu berkata, “Toh akhirnya juga mati,” dan kemudian membakar semuanya.
Ada yang mengatakan, “Ini kisah yang menyedihkan. Bos tidak membayar uang seorang pemuda — hanya RMB.800 . Setelah berkali-kali menagih tanpa hasil, dia memilih membakar pabrik! Kalau ingin tahu lebih lanjut, cari saja di Douyin (TikTok versi Tiongkok)!”
“Ini terjadi tepat di seberang rumah saya. Bukan karena gaji satu bulan, tapi karena dipotong RMB.800 . Pemuda itu lahir tahun 1998, usianya 27 tahun. Hingga kini, lebih dari 80 mobil pemadam kebakaran dari Chengdu dan Mianyang telah dikerahkan, namun api belum padam. Bukan hanya bertengkar, tapi dia menusuk bagian keuangan.”
Peristiwa ini memicu perhatian luas di kalangan masyarakat Tiongkok:
“Hanya karena RMB. 800 , satu pabrik terbakar.”
“Pekerja pabrik tekstil menuntut RMB.800 , menyebabkan asap tebal membumbung. Hampir dua hari dua malam, api belum juga padam. Bos pasti rugi besar kali ini.”
“Pekerja itu menyiram bahan kain di dalam ruang kerja dengan bensin, lalu membakarnya.”
“Pembakaran disengaja — asuransi tidak akan membayar.”
“Pembakaran harus dihukum berat.”
“Bagian keuangan dan bos itu satu pihak. Memberi atau tidak memberi uang tergantung bos. Saat kejadian, bos pun ada di tempat, kemungkinan juga ikut diamankan.”
Kejadian ini juga memicu empati dari para pekerja lainnya. Banyak yang berkata:
“RMB.800 bagi karyawan bisa dipakai untuk biaya hidup anak satu bulan. Tapi bagi bos, bahkan tidak cukup untuk sekali makan di luar. Jangan sampai memojokkan orang kecil seperti ini.”
“RMB.800 mungkin kecil bagi bos, tapi bagi kami pekerja, itu setengah bulan biaya hidup.”
“Yang mengejutkan, komentar-komentar di media sosial malah mendukung si pemuda. Ini menunjukkan suara hati rakyat.”
“Apa yang terjadi pada masyarakat ini? Komentar malah membela tindakan pembakaran. Padahal ini seharusnya dikecam. Bukankah sudah waktunya pemerintah dan para bos merenung? Jangan anggap rakyat kecil bukan manusia — mereka bisa saja membuat kalian tidak melihat matahari esok hari.”
“Apakah kejadian seperti ini akan makin sering terjadi?”
“Seperti percikan api kecil, bisa menyebar luas.” (Hui)
Laporan oleh jurnalis Li Enzhen / Editor penanggung jawab: Li Quan – NTD


