EtIndonesia. Menurut laporan Reuters pada 21 Mei, platform komunikasi TeleMessage mengalami serangan siber besar-besaran pada bulan ini. Akibatnya, pesan-pesan dari lebih dari 60 pejabat Pemerintah AS diketahui telah bocor. Beberapa media menyebut bahwa mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, Mike Waltz juga pernah menggunakan aplikasi ini.
Data hasil kebocoran tersebut dibagikan oleh organisasi nirlaba asal AS, Distributed Denial of Secrets (DDoSecrets), yang dikenal mengarsipkan dokumen-dokumen yang bocor akibat peretasan atas nama kepentingan publik.
Dari hasil analisis terhadap data yang dibocorkan, diketahui bahwa lebih dari 60 pengguna berasal dari instansi pemerintah. Di antara mereka terdapat petugas penanganan bencana, pejabat bea cukai, diplomat, staf Gedung Putih, hingga anggota Dinas Rahasia (Secret Service).
Reuters telah memverifikasi bahwa sebagian pesan yang bocor memang otentik. Meskipun tidak ditemukan percakapan langsung dari Waltz maupun pejabat lain di pemerintahan Trump, namun beberapa pesan yang bocor memuat informasi sensitif mengenai aktivitas dan rencana perjalanan pejabat tinggi, termasuk kunjungan ke Vatikan dan Yordania.
TeleMessage, Aplikasi yang Tiba-Tiba Menjadi Sorotan
Sebelum kejadian ini, TeleMessage adalah aplikasi yang nyaris tidak dikenal di luar lingkup lembaga pemerintah dan keuangan. Namun, pada 30 April, sebuah foto dari Reuters memperlihatkan Mike Waltz tengah memeriksa aplikasi tersebut—yang merupakan versi modifikasi dari aplikasi terenkripsi Signal—saat berada dalam rapat kabinet. Momen tersebut sontak menarik perhatian media.
TeleMessage diketahui mengembangkan versi modifikasi dari Signal, WhatsApp, Telegram, dan WeChat, yang dirancang untuk mengarsipkan pesan secara terpusat, umumnya digunakan oleh institusi resmi.
Awalnya berbasis di Israel, TeleMessage diakuisisi pada Februari 2024 oleh perusahaan teknologi Smarsh, yang berbasis di Portland, negara bagian Oregon, AS.
Serangan Siber: Cuma Butuh 20 Menit
Peretasan terhadap server TeleMessage terjadi sebanyak dua kali pada tanggal 4 Mei, dilakukan oleh lima peretas berbeda. Salah satu hacker bahkan membanggakan diri karena hanya membutuhkan waktu kurang dari 20 menit untuk menembus sistem.
Selanjutnya, seorang pakar keamanan siber melakukan investigasi terhadap kode sumber versi modifikasi aplikasi Signal yang dikembangkan TeleMessage. Pada 6 Mei, dia menyimpulkan bahwa aplikasi tersebut tidak menerapkan enkripsi end-to-end, sehingga rawan dibobol.
Menanggapi kejadian ini, pada 6 Mei, Smarsh selaku pemilik TeleMessage mengumumkan telah menutup seluruh layanan TeleMessage untuk sementara waktu guna menghindari risiko lebih lanjut dan melakukan evaluasi keamanan secara menyeluruh.
Kesimpulan: Ancaman Siber Kembali Mengguncang Dunia Pemerintahan
Insiden ini menunjukkan betapa rentannya sistem komunikasi bahkan di lingkungan pemerintahan tertinggi terhadap serangan siber. Dengan melibatkan data pejabat Gedung Putih, diplomat, dan badan keamanan, peretasan terhadap TeleMessage menjadi peringatan serius akan pentingnya keamanan data dan transparansi teknologi dalam komunikasi resmi.(jhn/yn)


