EtIndonesia. Presiden AS Donald Trump pada 23 Mei mengumumkan bahwa mulai 1 Juni, pemerintahannya akan memberlakukan tarif sebesar 50% terhadap produk impor dari Uni Eropa. Hal ini menyusul kekecewaannya atas mandeknya pembicaraan perdagangan antara kedua pihak. Menurut sumber yang mengetahui situasi, pemicu utama ancaman Trump ini adalah karena lambannya proses negosiasi, tidak adanya solusi konkret atas isu-isu yang menjadi perhatian AS, serta kegagalan Uni Eropa untuk berkomitmen menerapkan tarif baru terhadap industri Tiongkok.
Trump Ancam Tarif Tinggi karena Uni Eropa Tak Terapkan Pajak terhadap Produk Tiongkok
Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump berusaha menggunakan pendekatan tarif yang setara untuk memaksa mitra dagang duduk di meja perundingan. Dia ingin mendorong terbentuknya kesepakatan bilateral serupa dengan Inggris, yang sebelumnya menyetujui penerapan tarif terhadap baja asal Tiongkok dalam kesepakatan perdagangan baru-baru ini. Hasilnya, tarif Inggris terhadap produk terkait dapat dipertahankan di angka 10%.
Namun, hingga kini, AS belum mendapat komitmen resmi dari para pemimpin Uni Eropa untuk menerapkan tarif baru terhadap industri asal Tiongkok, meskipun pejabat UE telah menyatakan kesediaannya menangani masalah Tiongkok sebagai “ekonomi non-pasar”.
Tim penasihat ekonomi Trump secara konsisten mengeluhkan perbedaan prioritas di antara negara-negara anggota Uni Eropa, yang dinilai menghambat kemajuan negosiasi. Selain itu, Uni Eropa dinilai enggan menanggapi isu-isu utama yang menjadi perhatian AS, seperti biaya layanan streaming, pajak pertambahan nilai (PPN), regulasi otomotif, dan denda antimonopoli.
Uni Eropa Tolak Tuntutan Kunci AS, Balas Menyebut Ancaman Tak Kredibel
Pihak Uni Eropa menolak beberapa tuntutan utama Trump, dan menyatakan tidak berencana mengubah sistem PPN maupun regulasi kesehatan dan digital.
Seorang diplomat UE pada 23 Mei menyatakan skeptis terhadap kredibilitas ancaman Trump, dengan mengatakan: “Sulit untuk menganggap serius maksudnya hanya dari satu unggahan di Truth Social. Kami tidak bisa membuat kebijakan berdasarkan postingan media sosial.”
Beberapa jam setelah ancaman tarif diumumkan, Komisaris Perdagangan Uni Eropa, Maroš Šefčovič melakukan panggilan telepon dengan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer dan Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick. Šefčovič kemudian menyatakan bahwa UE tetap berkomitmen pada negosiasi, namun juga siap membela kepentingannya, dan menegaskan bahwa hubungan dagang seharusnya dilandasi saling menghormati, bukan ancaman.
Seorang pejabat Uni Eropa menambahkan bahwa Tiongkok bukan inti masalah utama dalam pembicaraan saat ini.
Gaya Negosiasi Berbeda Jadi Penghambat
Laporan dari berbagai media asing menyebutkan bahwa gaya negosiasi Uni Eropa yang hati-hati dan birokratis sangat kontras dengan pendekatan Trump yang agresif dan langsung. Komisi Eropa perlu berkonsultasi dengan 27 negara anggotanya, yang menurut penasihat Trump justru memperlambat proses negosiasi.
Menurut sejumlah analis, UE kini tengah mencari posisi tengah dalam bernegosiasi dengan AS—tidak sekeras Tiongkok, tapi juga tidak seagresif Inggris. Namun, mekanisme pengambilan keputusan kolektif di antara 27 negara UE dinilai menjadi hambatan dalam memenuhi keinginan pemerintahan Trump yang ingin mencapai kesepakatan secara cepat.
Pemicu Utama Akhirnya Terungkap
Ketegangan dagang antara AS dan UE mencapai puncaknya pada 23 Mei, saat Trump secara blak-blakan menyatakan di Kantor Oval Gedung Putih: “Saya tidak sedang mencari kesepakatan dengan Uni Eropa,”
Pernyataan ini merupakan sinyal jelas bahwa Trump siap melaksanakan ancamannya memberlakukan tarif tinggi.
Trump selama masa jabatan pertamanya telah berulang kali mengkritik Uni Eropa, termasuk soal pengeluaran pertahanan yang dianggap terlalu rendah, serta menyebut denda antimonopoli UE terhadap perusahaan AS sebagai “pajak terselubung”.
Trump Ingin “Menyulut” Uni Eropa agar Negosiasi Lebih Serius
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancara terbaru mengatakan bahwa ancaman tarif 50% ini diharapkan mampu menjadi “pemicu” agar Uni Eropa lebih serius dalam bernegosiasi. Dia juga mengungkapkan keprihatinan atas lambatnya perkembangan pembicaraan.
Meski demikian, Uni Eropa tetap mempertahankan posisi awalnya dalam berbagai isu sensitif, termasuk menolak perubahan sistem PPN dan regulasi digital, yang dianggap oleh Washington sebagai hambatan perdagangan utama.
Perang Dagang Bisa Pecah Kembali
Uni Eropa sebelumnya telah menyetujui tarif balasan senilai 21 miliar euro terhadap produk AS, namun kebijakan itu sempat dibekukan setelah AS juga menangguhkan tarifnya. Kini, jika negosiasi benar-benar gagal, UE telah menyiapkan gelombang kedua tarif balasan terhadap produk AS senilai hingga 95 miliar euro. Situasi ini berpotensi memicu perang dagang besar antara kedua kekuatan ekonomi tersebut.
Pada bulan Februari tahun ini, Trump bahkan pernah mengatakan bahwa: “Uni Eropa dibentuk untuk menghancurkan ekonomi Amerika.”
Dia juga menyamakan denda antimonopoli Uni Eropa terhadap perusahaan-perusahaan teknologi AS sebagai bentuk pajak terselubung terhadap bisnis Amerika.(jhn/yn)


