EtIndonesia. Pada 30 Mei, Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyampaikan pidato dalam sebuah forum pertahanan di Singapura, di mana dia secara terbuka memperingatkan Beijing: jika Tiongkok tidak mengambil langkah-langkah nyata untuk mencegah Korea Utara terlibat dalam perang Rusia-Ukraina, maka NATO bisa saja meningkatkan kehadirannya di kawasan Asia.
Menurut laporan Politico, dalam pidatonya di forum Dialog Shangri-La ke-22, yang merupakan salah satu konferensi pertahanan terpenting di kawasan Indo-Pasifik, Macron menyebut secara langsung Pemerintah Tiongkok.
Dia mengatakan: “Kehadiran Korea Utara di Ukraina merupakan masalah besar bagi kita semua. Jika Tiongkok tidak ingin NATO terlibat lebih dalam di Asia Tenggara, maka mereka harus menghentikan keterlibatan militer Korea Utara di tanah Eropa.”
Konferensi Pertahanan Terbesar di Asia
Dialog Shangri-La yang berlangsung selama tiga hari dari 30 Mei hingga 1 Juni, dikenal sebagai “forum pertahanan tingkat tinggi” di kawasan Indo-Pasifik. Lebih dari 550 perwakilan militer dan keamanan dari lebih dari 40 negara dan wilayah menghadiri forum ini.
Selain Macron yang menyampaikan pidato utama, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth dijadwalkan berbicara pada hari Sabtu. Namun, Menteri Pertahanan Tiongkok, Dong Jun, dilaporkan tidak hadir dalam forum ini.
Macron: Prancis Awalnya Menolak Ekspansi NATO ke Asia, Tapi…
Selama ini, Prancis dikenal menentang perluasan pengaruh NATO ke Asia, dan pada tahun 2023 bahkan memimpin upaya menghentikan pembukaan kantor penghubung NATO di Jepang.
Dalam pidatonya, Macron menegaskan: “Saya dulunya menentang keterlibatan NATO di Asia karena saya tidak ingin Prancis terseret dalam konfrontasi strategis antar negara lain.”
Namun, dia juga memberikan peringatan halus: jika Beijing terus membiarkan Korea Utara ikut campur dalam perang di Ukraina, maka Prancis bisa saja meninjau kembali sikapnya terhadap kehadiran NATO di Asia.
Bukan Pertama Kali Macron Menegur Beijing
Ini bukan kali pertama Macron menyampaikan peringatan keras kepada Tiongkok. Pada 20 Februari, sebelum kunjungannya ke Washington, dia sempat menyerukan kepada Presiden Donald Trump agar tidak bersikap lemah terhadap Vladimir Putin.
Menurut Macron: “Jika Ukraina jatuh ke tangan Rusia, maka itu akan mengirimkan sinyal kepada Tiongkok bahwa mereka juga punya hak untuk menginvasi Taiwan.”
Dia juga menegaskan bahwa bersikap lemah terhadap Putin hanya akan:
· Membuat Ukraina tunduk pada kesepakatan yang buruk,
· Merusak kredibilitas AS dalam menghadapi Tiongkok,
· Melemahkan upaya pencegahan terhadap program nuklir Iran, dan
· Menjadi kesalahan strategis besar dalam jangka panjang.
Korea Utara Dukung Rusia Secara Terbuka
Sejak awal tahun 2024, telah beredar laporan bahwa Korea Utara mengirimkan pasukan dan peralatan militer ke Rusia untuk mendukung invasi ke Ukraina. Pada April 2025, Moskow dan Pyongyang secara terbuka mengakui kerja sama mereka, dengan mengeluarkan pernyataan bersama yang menegaskan kehadiran pasukan Korea Utara di garis depan pertempuran melawan militer Ukraina.
Ancaman Nuklir dan Runtuhnya Tatanan Internasional
Dalam pidatonya, Macron juga memperingatkan dunia mengenai:
· Ancaman proliferasi senjata nuklir, dan
· Potensi runtuhnya tatanan internasional yang dibangun sejak berakhirnya Perang Dunia II.
Dia kembali menekankan posisi tradisional Prancis yang mendukung kedaulatan strategis dan kemerdekaan pengambilan keputusan di tengah konflik geopolitik antara kekuatan besar dunia.
“Kami, Prancis, akan terus membela prinsip kebebasan dan kedaulatan strategis. Bukan hanya untuk Eropa, tetapi juga untuk kawasan Indo-Pasifik,” ujar Macron.(jhn/yn)


