EtIndonesia. Kerusuhan di Los Angeles telah memasuki hari kelima. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa (10 Juni), secara terbuka menyampaikan kepada media bahwa apabila terbukti ada tindakan pemberontakan di jalanan Los Angeles, ia akan mengaktifkan Undang-Undang Pemberontakan (Insurrection Act) dan mengerahkan militer untuk menenangkan situasi. Ia juga secara tegas menyatakan bahwa banyak demonstran dibayar untuk menghasut massa. Saat ini, ratusan Marinir AS yang diperbantukan oleh Presiden Trump telah mulai tiba di Los Angeles secara bertahap.
Hal yang patut diperhatikan adalah, beredar sebuah video di media sosial yang memperlihatkan demonstran mengenakan bendera palu arit milik Partai Komunis, yang menimbulkan dugaan bahwa kekuatan di balik demonstrasi ini tidaklah sederhana. Menanggapi hal ini, FBI menjawab kepada Epoch Times bahwa mereka sedang menyelidiki sumber pendanaan di balik kerusuhan di Los Angeles.
Presiden AS, Donald Trump: “Jika ada tindakan pemberontakan, saya pasti akan mengaktifkan Undang-Undang Pemberontakan.”
“Mereka (para demonstran) melemparkan bongkahan semen dari atas jembatan ke mobil polisi dan ke arah petugas kami.”
“Mereka adalah pemberontak bayaran, pembuat onar yang dibayar. Mereka menerima uang untuk ini.”
Pada Senin (9 Juni), Presiden Trump mengerahkan 700 personel Marinir AS yang langsung berangkat menuju Los Angeles pada malam hari. Ia juga menyatakan bahwa Garda Nasional akan tetap ditempatkan hingga situasi benar-benar aman.
Trump: “Lihat saja beberapa malam terakhir ini, kerusuhan mulai berkurang. Karena mereka menghadapi perlawanan yang kuat. Orang-orang jahat ini benar-benar kelewatan.”
“Mereka adalah provokator,” lanjutnya.
Pada Selasa pagi, Trump juga menulis di platform media sosial Truth Social bahwa jika ia tidak mengirim pasukan, Los Angeles “sudah rata dengan tanah oleh perusuh.”
Reporter NTD: “Pada Selasa pagi, pusat kota Los Angeles terlihat lebih tenang dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Wartawan hanya melihat sejumlah kecil demonstran serta para pekerja yang sedang membersihkan grafiti di dinding yang ditinggalkan oleh para demonstran.”
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, juga menyampaikan dalam sidang dengar pendapat di Kongres pada Selasa bahwa Departemen Pertahanan merencanakan masa tanggap selama 60 hari untuk memastikan agar kekerasan terhadap polisi, demonstrasi anarkis, perusakan, dan penjarahan tidak terulang kembali.
Menteri Pertahanan AS, Hegseth: “Kami meyakini bahwa ICE (Badan Imigrasi dan Bea Cukai) harus diizinkan menjalankan tugasnya dengan aman. Kami juga telah mengerahkan Garda Nasional dan Marinir untuk melindungi mereka dalam menjalankan misi. Karena kami harus bisa menegakkan hukum imigrasi di negara ini.”
Di hari yang sama, Komandan Korps Marinir, Jenderal Eric Smith, juga menyatakan bahwa ia “tidak khawatir” jika Marinir harus menggunakan kekuatan mematikan terhadap warga sipil AS.
Rekaman video yang beredar di internet menunjukkan bahwa dalam kerusuhan tersebut terlihat demonstran yang mengenakan bendera berlambang Partai Komunis. Warganet ramai-ramai menyoroti bahwa ini adalah kerusuhan yang terorganisir dan direncanakan, dan menyebut bahwa insiden ini adalah “bagian dari metode revolusi kekerasan ala Partai Komunis.”
Warga Los Angeles, Charlie Fladis: “(Penjarahan dan kejahatan) yang terjadi saat ini adalah salah, karena ini sedang menghancurkan kota ini.”
Reporter NTD: “Jaksa Agung AS, Pam Bondy, pada Senin dalam acara Fox News menyatakan bahwa berdasarkan Undang-Undang Hobbs, otoritas federal berwenang menangkap pelaku perampokan, pelempar bom molotov, serta pelaku kriminal lainnya. Ia juga memperingatkan bahwa pelaku penjarahan toko dapat dijatuhi hukuman penjara hingga 20 tahun. Adapun demonstran yang meludahi petugas federal juga akan diproses secara hukum.” (Hui)
Laporan dari jurnalis NTD, Zhang Boyuan dan Wang Ziyi dari Los Angeles, AS


