EtIndonesia. Di tengah memanasnya konflik antara Israel dan Iran yang memasuki babak baru serangan udara, perhatian dunia kini tertuju pada sikap Rusia. Berbeda dari ekspektasi banyak pihak, Rusia memilih bersikap pasif dan belum menunjukkan niat membantu Iran menghadapi gempuran Israel. Bahkan, sejumlah analis menilai Moskow cenderung mengambil posisi yang menguntungkan bagi kepentingan nasionalnya sendiri di tengah kekacauan ini.
Rusia Belum Siap Beri Bantuan, Tak Ada yang Bisa Hentikan Israel
Mengutip laporan Bloomberg tanggal 17 Juni, seorang narasumber yang sangat dekat dengan lingkaran Kremlin menyatakan secara tegas bahwa hingga saat ini Iran sama sekali belum mengajukan permintaan bantuan militer atau pertahanan kepada Rusia. Lebih jauh lagi, Moskow sendiri juga tidak berencana menawarkan dukungan atau intervensi untuk membantu Teheran.
Narasumber tersebut mengungkapkan realitas pahit bagi Iran, bahwa tak satu pun negara, bahkan Rusia, mampu menghentikan ambisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu untuk melanjutkan operasi militernya terhadap Iran.
“Jika tujuan Israel memang ingin melakukan perubahan rezim di Iran, maka posisi Rusia tidak akan mampu menjadi penengah, apalagi menghentikan konflik yang kian memanas ini,” ujar sumber itu.
Pernyataan Resmi Kremlin: Situasi Bergerak Menuju Eskalasi Besar
Senada dengan narasumber tersebut, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov pada 17 Juni menegaskan dalam pernyataan resminya bahwa perkembangan situasi saat ini berlangsung sangat cepat dan berpotensi menimbulkan eskalasi besar, terutama dari pihak Israel.
“Israel sama sekali tidak menginginkan adanya mediator ataupun proses negosiasi damai,” ungkap Peskov, menandakan bahwa jalan menuju resolusi damai kian tertutup rapat.
Hubungan Rusia-Iran di Tengah Perubahan Drastis
Sejak Presiden Vladimir Putin memerintahkan invasi militer ke Ukraina pada 2022, hubungan strategis antara Rusia dan Iran memang semakin erat. Iran diketahui telah memasok ratusan drone tempur kepada Rusia yang digunakan dalam pertempuran di Ukraina, menurut data intelijen Gedung Putih. Selain itu, sepanjang tahun lalu, Amerika Serikat dan Eropa menuding Iran juga telah mengirimkan rudal balistik ke Moskow.
Namun, dalam situasi genting kali ini, Rusia tidak menunjukkan keinginan untuk turun tangan membela Iran, bahkan cenderung mengambil sikap menunggu dan memantau perkembangan demi kepentingan nasional mereka.
“Hadiah Geopolitik” di Tengah Krisis
Pakar pertahanan Rusia, Ruslan Pukhov, menilai bahwa serangan besar-besaran Israel terhadap Iran justru berpotensi menjadi dua “hadiah geopolitik” bagi Rusia. Pertama, serangan ini dapat melemahkan kritik moral Barat terhadap invasi Rusia ke Ukraina. Sorotan dunia yang beralih ke konflik baru akan mengurangi tekanan internasional terhadap Moskow. Kedua, perang di Timur Tengah diyakini akan memicu lonjakan harga minyak dunia—dan ini menjadi keuntungan besar bagi Rusia, yang sangat bergantung pada pendapatan minyak untuk membiayai operasi militernya.
Lebih lanjut, Pukhov menambahkan, terbukanya front konflik baru di Timur Tengah otomatis akan mengalihkan perhatian Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Bantuan militer yang sebelumnya diarahkan untuk Ukraina dikhawatirkan akan dialihkan ke Israel, sehingga posisi Rusia di medan perang Ukraina menjadi lebih leluasa.
Kerjasama Strategis Terancam Gagal
Nikolai Smagin, pakar masalah Iran dari Dewan Urusan Internasional Rusia, menyampaikan kekhawatiran atas nasib kerjasama strategis Rusia-Iran di masa mendatang. Salah satu proyek vital yang saat ini berjalan adalah Koridor Transportasi Utara-Selatan, yang menjadi jalur penting untuk meminimalisir tekanan sanksi internasional terhadap kedua negara. Jika krisis di Iran makin parah dan rezim di Teheran jatuh, Smagin memperingatkan bahwa seluruh proyek ini bisa gagal total. Lebih jauh, Smagin menyebut potensi terulangnya skenario “Suriah kedua”—yakni kekacauan berkepanjangan seperti yang menimpa rezim Bashar al-Assad di Suriah.
Ancaman Gagal Total: Ketakutan Terbesar Rusia di Timur Tengah
Andrei Kortunov, analis politik senior Rusia, dalam tulisannya di harian Kommersant tanggal 16 Juni, mengakui bahwa pada awal konflik, sejumlah media Rusia memang menyoroti peluang Moskow untuk mendapatkan keuntungan finansial dari lonjakan harga minyak. Namun, dia mengingatkan, semakin dalam operasi militer Israel di Iran, kekhawatiran terbesar justru terletak pada ancaman hilangnya pengaruh Rusia di Timur Tengah.
Sebagai catatan, pada Desember tahun lalu, Moskow telah kehilangan salah satu sekutu utama di kawasan, yakni rezim Bashar al-Assad di Suriah yang terguling akibat dinamika politik dan tekanan internasional. Kini, jika Iran—yang selama ini menjadi mitra strategis terpenting Rusia di Timur Tengah—ikut tumbang, maka tatanan geopolitik yang selama ini dibangun oleh Moskow akan ambruk satu demi satu.
Dunia di Ambang Pergeseran Geopolitik Global
Krisis beruntun di Timur Tengah menandakan perubahan besar dalam tatanan geopolitik dunia. Banyak pengamat kini bertanya-tanya: Setelah kehilangan Suriah dan kemungkinan Iran, masihkah Rusia bisa mempertahankan mitra-mitra strategis berikutnya? Ataukah Moskow benar-benar harus menata ulang strategi globalnya di tengah pergeseran kekuatan besar-besaran ini?


