Era Senjata Nuklir Bangkit Kembali: PKT Kini Miliki 600 Hulu Ledak Nuklir

Era senjata nuklir global kini bangkit kembali dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Menurut laporan tahunan terbaru dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), sembilan negara pemilik senjata nuklir di dunia tidak hanya meningkatkan modernisasi persenjataan mereka, tetapi untuk pertama kalinya sejak Perang Dingin berakhir 30 tahun lalu, jumlah hulu ledak nuklir global yang sebelumnya terus menurun berbalik arah dan meningkat. Partai Komunis Tiongkok (PKT) disebut sebagai pendorong utama lonjakan ini, dengan jumlah hulu ledak nuklirnya melonjak menjadi 600 unit.

EtIndonesia. Menurut Laporan Tahunan 2025 yang dirilis SIPRI pada 16 Juni, saat ini Tiongkok memiliki setidaknya 600 hulu ledak nuklir, dan meningkat sekitar 100 hulu ledak setiap tahun, menjadikannya negara dengan pertumbuhan persenjataan nuklir tercepat di dunia.

Meskipun Tiongkok belum menempatkan hulu ledak tersebut dalam posisi siaga penuh, sekitar 350 silo peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) telah dibangun secara massif, atau hampir rampung, di gurun utara dan kawasan pegunungan timur negara itu. 

SIPRI memperkirakan, jika tren ini terus berlanjut, pada tahun 2030 Tiongkok dapat menyamai Amerika Serikat dan Rusia dalam jumlah peluncur ICBM. Ketiga negara nuklir besar ini—AS, Rusia, dan Tiongkok—tengah berada dalam konfrontasi langsung, menjadikan berbagai perjanjian pengendalian senjata global nyaris tak berarti, dan perundingan nuklir pun mandek, menyebabkan kestabilan strategis dunia kian rapuh.

“Jika jumlah senjata nuklir Tiongkok meningkat, maka pertama, daya tawar politik internasionalnya akan semakin besar; kedua, jika mereka melakukan tindakan militer terhadap negara-negara tetangga seperti Taiwan, Filipina, atau bahkan Jepang di masa depan, maka kekuatan nuklir ini akan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara tersebut,” ujar Su Tzu-yun, Kepala Institut Strategi dan Sumber Daya di Institut Penelitian Pertahanan Nasional Taiwan. 

Sementara itu, Ye Yaoyuan, Guru Besar Studi Internasional di Universitas St. Thomas, AS, berpendapat bahwa jumlah hulu ledak yang banyak tidak berarti kemampuan militer yang lebih kuat:

“Hulu ledak lebih dari 10 saja sudah tidak akan digunakan. Jadi, ketika Anda punya begitu banyak senjata nuklir, tujuan sebenarnya bukan untuk menghancurkan lawan, melainkan untuk:

  1. Menggentarkan negara lain agar tidak menyerang atau mencampuri urusan dalam negeri Anda;
  2. Membangkitkan nasionalisme dan semangat patriotisme di kalangan rakyat sebagai simbol kekuatan nasional.”

Departemen Pertahanan AS memprediksi bahwa pada tahun 2035, Tiongkok dapat memiliki hingga 1.500 hulu ledak nuklir. Tren peningkatan senjata ini menimbulkan kekhawatiran serius dari NATO dan Amerika Serikat.

Tahun lalu, NATO mulai membahas rencana kesiapsiagaan senjata nuklir (standby nuclear plan).

Pada 10 Juni, dalam sidang dengar pendapat di Komite Anggaran DPR AS, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan bahwa pendanaan untuk strategi pencegahan nuklir terhadap Tiongkok adalah prioritas utama:

“PKT sedang melakukan ekspansi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Presiden Trump sedang memperbaiki kesalahan-kesalahan ini.”

Su Tzu-yun menambahkan: “Saat ini, tiga negara anggota NATO memiliki senjata nuklir. Yang terbesar adalah Amerika Serikat dengan sekitar 6.000 hulu ledak, disusul Inggris dan Prancis yang jika digabung jumlahnya sekitar 800 hulu ledak. Tapi dengan pertumbuhan cepat Tiongkok, keseimbangan global bisa terganggu. Maka NATO sekarang mulai menata ulang kesiapsiagaan pasukan nuklirnya.

Dulu, di masa Perang Dingin, sistem siaga nuklir bisa siap menembak dalam waktu satu menit setelah ada perintah dari presiden—kapal selam bisa langsung naik ke permukaan untuk meluncurkan serangan balik. 

Setelah Perang Dingin berakhir, siaga ini diturunkan menjadi 30 menit. Namun, karena invasi Rusia dan pertumbuhan kekuatan nuklir Tiongkok, kesiagaan mungkin akan kembali ditingkatkan.”

Sementara itu, pada 16 Juni, juru bicara Kementerian Luar Negeri PKT , Guo Jiakun, mengklaim bahwa Tiongkok tetap berkomitmen pada strategi nuklir defensif, dan selalu menjaga kekuatan nuklirnya pada tingkat minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional. Ia juga menegaskan bahwa Tiongkok mematuhi kebijakan tidak menggunakan senjata nuklir sebagai yang pertama dalam kondisi apa pun.

Ye Yaoyuan menanggapi: “Kalau sampai merasa perlu mengembangkan sebanyak ini, itu menunjukkan dua hal:

  1. Rasa tidak aman yang tinggi;
  2. Keyakinan bahwa semakin banyak musuh harus ditakut-takuti.

Tapi dalam kondisi seperti itu, tak seorang pun bisa menjamin apakah mereka benar-benar akan menggunakannya atau tidak.”

Su Tzu-yun menyimpulkan: “Itu (pernyataan PKT) hanya bisa didengar saja. Saat ini, strategi pencegahan nuklir berarti mereka hanya ingin menghalangi negara lain menyerang. Tapi di masa depan, jika mereka punya lebih banyak hulu ledak, mereka bisa menuntut negara lain untuk melakukan sesuatu. Jika tidak dipenuhi, mereka bisa gunakan ancaman nuklir. Dari posisi defensif, ini bisa berubah menjadi alat pemaksaan nuklir.”

Dalam laporan SIPRI tahun lalu juga disebutkan bahwa “Tiongkok terus memperluas persenjataan nuklirnya tidak hanya lebih cepat dari negara lain, tetapi untuk pertama kalinya dalam masa damai menempatkan hulu ledaknya dalam “status siaga tinggi.” (Hui/asr)

Penyunting: Wang Ziqi Reporter: Yi Ru – NTDTV.com 

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine