EtIndonesia. Sejak 13 Juni, Israel meluncurkan operasi militer besar-besaran bertajuk “Rising Lion” (Kebangkitan Sang Singa) terhadap Iran. Dalam waktu singkat, berbagai fasilitas militer, pabrik senjata, hingga pusat pengembangan senjata nuklir di Iran, termasuk yang berada di ibu kota Teheran, telah menjadi target serangan udara Israel.
Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, memperingatkan bahwa akan ada “kejutan besar” dalam waktu dekat. Dia menegaskan, Israel sangat serius dalam mencegah Iran membangun kekuatan militer, dan aksi mereka tidak akan terbatas hanya di Gaza atau Lebanon selatan.
Dubes Israel: “Kejutan Besar Akan Terjadi Kamis atau Jumat”
Dalam wawancara eksklusif dengan Merit TV pada 16 Juni, Leiter menyatakan: “Akan ada kejutan pada akhir pekan ini. Dunia akan menyaksikan seberapa serius kami dalam menghentikan Iran.”
Meski tak membeberkan rincian operasi, dia mengisyaratkan bahwa skala serangan tersebut bisa lebih besar dari insiden pada September tahun lalu yang melibatkan ledakan massal alat komunikasi milik Hizbullah.
Sebagai konteks, pada September 2024, badan intelijen luar negeri Israel, Mossad, berhasil menyusup ke dalam rantai pasokan alat komunikasi Hizbullah dan menanam bahan peledak di dalam baterai lithium alat pemanggil (pager). Ledakan serentak yang terjadi menewaskan setidaknya 42 orang dan melukai lebih dari 3.500 lainnya. Karena metode yang sangat canggih, bahan peledak dalam baterai tersebut tidak terdeteksi sebelumnya.
Leiter menyiratkan bahwa Israel masih memiliki banyak kejutan yang belum diungkap ke publik, dan menambahkan : “Tunggu saja sampai debu mereda—pada Kamis malam atau Jumat, Anda akan melihat sesuatu yang mengejutkan.”
Trump: Dua Hari ke Depan Akan Jadi Penentu
Presiden AS Donald Trump juga memberikan pernyataan bahwa situasi akan tetap tidak menentu setidaknya dalam dua hari ke depan. Dia memperkirakan Israel tidak akan menghentikan ofensif militernya, dan bahkan mengimbau warga untuk segera meninggalkan Teheran.
Dalam penerbangan di atas pesawat kepresidenan Air Force One pada pagi hari 17 Juni, Trump menegaskan: “Kita akan segera tahu—tidak ada yang memperlambat serangan. Jika Iran menyentuh warga kami, balasannya akan sangat keras. Iran harus sepenuhnya meninggalkan ambisi nuklirnya.”
Trump juga menyebut bahwa dia tengah mempertimbangkan untuk mengirim Wakil Presiden JD Vance serta utusan Timur Tengah, Steve Witkoff, untuk menjalin komunikasi dengan Iran. Namun, dia menekankan bahwa yang diinginkan adalah “penyelesaian total terhadap persoalan Iran”, bukan hanya gencatan senjata semata.
Menanggapi pertanyaan soal kemungkinan penggunaan bom penghancur bunker (bunker buster) oleh militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran, Trump menjawab dengan nada tajam.
“Saya harap kita tidak perlu sampai sejauh itu—semoga program nuklir mereka sudah dihancurkan sebelum itu diperlukan,” katanya.
Inti Kepemimpinan Iran Lumpuh, Risiko Salah Langkah Meningkat
Pada hari yang sama, seorang pejabat Israel mengatakan kepada Al Arabiya TV bahwa Israel telah melancarkan serangan udara semalaman terhadap puluhan target yang terkait dengan program nuklir dan rudal balistik Iran, memaksa banyak pemimpin militer Iran melarikan diri.
Meski fasilitas bawah tanah di Fordow belum menjadi sasaran langsung, pejabat tersebut menyatakan bahwa serangan ke sana tetap sangat mungkin terjadi. Dia juga menegaskan bahwa Israel telah menyiapkan langkah pencegahan untuk menghindari terjadinya bencana nuklir.
Sementara itu, Reuters melaporkan berdasarkan keterangan lima narasumber bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang kini berusia 86 tahun, semakin terisolasi. Beberapa penasihat militer dan keamanan utama di lingkaran dalamnya telah tewas dalam serangan Israel, meninggalkan kekosongan strategis yang sangat berisiko.
Lingkaran dalam Khamenei—sekitar 15–20 orang—terdiri atas komandan Garda Revolusi, ulama senior, dan tokoh politik, biasanya hanya berkumpul untuk membahas keputusan besar. Namun, kesetiaan mereka terhadap Khamenei sangat tinggi dan menjadi penopang utama stabilitas internal rezim.
Sayangnya, sejak dimulainya operasi pada 13 Juni, sejumlah tokoh penting telah tewas:
· Hossein Salami – Komandan Garda Revolusi (IRGC)
· Mohammad Kazemi – Kepala Intelijen IRGC
· Amir Ali Hajizadeh – Kepala program rudal Iran
Hilangnya mereka tidak hanya melemahkan kemampuan operasional Iran, tetapi juga meningkatkan risiko kesalahan strategis dalam pengambilan keputusan, termasuk kemungkinan salah perhitungan yang bisa memicu eskalasi lebih luas.(jhn/yn)


