Baru-baru ini, muncul berbagai kabar bahwa telah terjadi perubahan besar di Zhongnanhai (pusat kekuasaan Partai Komunis Tiongkok). Menurut informasi terbaru dari dalam Partai Komunis Tiongkok (PKT), para keturunan elit partai (generasi kedua merah atau red princelings) tengah menggalang dukungan untuk meminta pemimpin partai saat ini agar mundur. Sementara itu, mantan Wakil Presiden PKT, Zeng Qinghong, juga terseret dalam rumor tidak menyenangkan yang menarik perhatian luas.
EtIndonesia. Acara peringatan 120 tahun kelahiran tokoh senior PKT, Chen Yun, baru saja digelar di Beijing. Banyak anak cucu dari tokoh-tokoh senior PKT yang hadir dalam acara tersebut. Namun, tidak satu pun anggota keluarga mendiang mantan pemimpin PKT Jiang Zemin maupun keluarga Zeng Qinghong yang terlihat hadir.
“Kenapa tidak hadir? Ada dua alasan. Pertama, Jiang Zemin dianggap sebagai ‘palsu ganda’ (二奸二假), dia bukan keturunan asli revolusioner merah. PKT menutup-nutupi hal ini dari publik, tetapi di kalangan elit merah, semua orang tahu. Di dalam hati mereka, mereka meremehkan keluarga Jiang,” kata Li Dayu, pembawa acara program Dayu: Kejutan Besar.
Wang He, kolumnis dari The Epoch Times, menyatakan: “Saat ini, situasi politik di dalam PKT sedang berada dalam masa yang sangat sensitif dan penuh perubahan besar. Ketidakhadiran keluarga Jiang dan Zeng menunjukkan sinyal politik: bahwa kedua keluarga besar ini, atau fraksi Jiang-Zeng, secara politik nyaris sudah tidak ada lagi.”
Pada 14 Juni, komentator independen Cai Shenkun dalam program medianya mengutip informasi dari Beijing yang menyatakan bahwa Zeng Qinghong telah dijadikan tahanan rumah.
Selain itu, kekuatan politik dari “faksi Jiangxi” — yang merupakan basis kekuasaan lama Zeng Qinghong — juga sedang dibersihkan secara intensif. Sejumlah pejabat yang memiliki hubungan tersembunyi dengan Zeng di wilayah Guangxi turut tumbang, termasuk mantan Wakil Ketua CPPCC Guangxi, Peng Xiaochun.
Wang He menambahkan: “Bisa dipastikan bahwa keluarga dan faksi politik Zeng Qinghong sudah tersingkir dari lingkaran pengambil keputusan utama dalam politik Tiongkok saat ini.”
Selain itu, meski pemimpin PKT Xi Jinping sempat memberikan pidato tertulis dalam acara peringatan Chen Yun, namun tidak terdengar lagi pernyataan seperti sepuluh tahun lalu, saat ia menyerukan “seluruh partai harus mendukung otoritas pusat dan bertindak serempak”.
Akademisi diaspora di Australia, Yuan Hongbing, mengutip sumber dari dalam sistem PKT bahwa aksi berkumpulnya para keturunan merah kali ini menyimpan dinamika politik besar di belakang layar. Mereka dikabarkan sedang menyusun petisi bersama kepada Komite Sentral PKT agar Xi Jinping mengundurkan diri. Yuan juga mengungkapkan bahwa Xi menggunakan kampanye anti-korupsi untuk memusatkan kekuasaan diktator dan melakukan pembersihan terhadap faksi-faksi lawan politiknya.
“Keluarga Chen Yun, keluarga Deng Xiaoping, keluarga Liu Shaoqi, dan keluarga penting lainnya sedang merancang sebuah surat usulan kepada Komite Sentral menjelang Kongres Nasional ke-21 PKT. Mereka sedang mencoba mencapai konsensus dan menyusun dokumen tersebut. Inti dari usulan ini adalah mengkritik kesalahan besar dalam kebijakan domestik dan luar negeri sejak Xi memerintah, dan menyimpulkan bahwa Xi Jinping sebaiknya mundur dari jabatan tertinggi partai,” ujar Yuan Hongbing.
Namun, beberapa pakar masalah Tiongkok menunjukkan bahwa satu-satunya solusi mendasar bagi krisis dalam dan luar negeri yang dihadapi Tiongkok adalah pembubaran PKT. Blaine Holt, pensiunan jenderal angkatan udara AS, dalam tulisannya di Newsweek sebelumnya juga menyatakan bahwa PKT tengah berada di ambang kehancuran, dan kemungkinan besar Xi akan menjadi pemimpin terakhir partai tersebut. (Hui/asr)
Laporan oleh wartawan Tang Rui dan kontributor Luo Ya dari NTD Television.


