Belakangan ini, beredar rumor bahwa kekuasaan besar Xi Jinping mulai tergeser, bersamaan dengan meningkatnya perhatian publik terhadap kondisi kesehatannya. Yuan Hongbing, seorang akademisi Tiongkok yang tinggal di Australia, baru-baru ini membocorkan bahwa keluarga elit “generasi kedua merah” Partai Komunis Tiongkok (PKT) sedang menggalang petisi ke Komite Sentral PKT untuk menuntut pengunduran diri Xi.
EtIndonesia. Pada 16 Juni 2025, Xi Jinping mengunjungi Kazakhstan untuk menghadiri KTT Tiongkok–Asia Tengah ke-2. Siang hari, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev menyambutnya di bandara, dan pada sore harinya mereka mengadakan pertemuan di Istana Kepresidenan.
Menurut laporan Kantor Berita Internasional Kazakhstan, Tokayev secara khusus menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Xi, sembari menyatakan harapan agar Xi sehat, bahagia dalam keluarga, dan sukses dalam memimpin negara.
Zhou Xiaohui, seorang komentator politik, menulis dalam artikel Epoch Times pada 17 Juni bahwa ucapan selamat ini tidak biasa. Ucapan seperti “semoga sehat selalu” yang ditujukan kepada Xi tidak ditampilkan di media resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang justru mengindikasikan dua hal: Pertama, kesehatan Xi memang bermasalah; kedua, pihak Kazakhstan tampaknya mengetahui rahasia yang disembunyikan PKT soal kesehatan Xi dan kemungkinan hilangnya kekuasaannya.
Selama bertahun-tahun, isu kesehatan Xi terus menjadi sorotan. Sebelum naik jabatan pada 2012, beredar kabar bahwa Xi menderita tumor hati dan telah menjalani operasi. Kemudian muncul lagi rumor bahwa dia mengidap kanker pankreas. Pada Juli 2024, muncul kabar bahwa Xi pingsan karena stroke dalam Sidang Paripurna Ketiga (Pleno Ketiga) dan dilarikan ke rumah sakit.
Zhou menyatakan bahwa sejak kabar stroke tahun lalu, kondisi kesehatan Xi menjadi rahasia besar yang coba ditutup-tutupi oleh PKT. Namun “tembok pun bisa bocor angin”—muncul banyak tanda mencurigakan, seperti penundaan publikasi foto/video Xi, atau kejanggalan dalam laporan media pemerintah. Semua itu menunjukkan bahwa kesehatan Xi memang memburuk.
Masyarakat juga memperhatikan jumlah cangkir di meja Xi Jinping selama Kongres Rakyat Nasional (dua sesi tahunan). Umumnya pejabat tinggi hanya memiliki satu cangkir, namun pada tahun 2019, 2021, 2023, dan 2024, meja Xi selalu memiliki dua cangkir.
Publik berspekulasi, satu berisi air, satunya lagi berisi obat.
Setelah kunjungan kerja Xi ke Luoyang, Henan pada 20 Mei, Xi menghilang dari publik hingga 3 Juni, atau selama 14 hari. Ia baru muncul pada 4 Juni pagi ketika media pemerintah menyebutkan bahwa Xi bertemu dengan Presiden Belarus Lukashenko di Zhongnanhai. Bahkan rapat Politbiro bulan Mei tak pernah diberitakan, memicu banyak dugaan.
Pasca “menghilang”, kembali beredar rumor bahwa Xi jatuh sakit. Akun Telegram Rusia terkenal, “General SVR”, mengklaim bahwa pada 25–26 Mei malam, Xi terkena serangan jantung, dan pada minggu pertama Juni kembali mengalami dua kali serangan jantung.
Pada 17 Juni, pengamat politik luar negeri bernama “Xiaoshuojia” dalam program terbarunya menganalisis kondisi Xi Jinping. Ia mengatakan, berdasarkan video saat Xi turun dari pesawat di Kazakhstan, langkah Xi tampak stabil dan tidak perlu bantuan orang lain—ini menandakan Xi tidak sakit parah.
Menurutnya, rumor Xi menjalani dua kali operasi jantung dan sekarat, bahkan disebut didukung oleh “intelijen Rusia”, kemungkinan disebar oleh kubu Xi sendiri sebagai persiapan pengunduran diri secara “terhormat”.
Ia menilai, karena Xi sebelumnya terlalu diagungkan, maka jika ia mundur begitu saja karena “kesalahan sendiri” akan terlihat buruk. Maka dari itu, narasi “sakit berat” menjadi alasan yang cocok agar Xi bisa turun dengan wajah tetap terjaga, dan PKT juga tidak kehilangan muka.
Sejak 2023, berbagai fenomena aneh muncul di kalangan elite PKT. Banyak orang kepercayaan Xi ditunjuknya langsung telah diturunkan, termasuk Menlu Qin Gang, dua Menteri Pertahanan Wei Fenghe dan Li Shangfu, serta banyak jenderal dan pimpinan industri militer.
Jenderal Miao Hua, kepala urusan personel militer Xi, turun jabatan pada November 2024. Wakil Ketua Komisi Militer Pusat, He Weidong, menghilang sejak Maret 2025. Pada 2 Juni, mantan wakil ketua CMC, Xu Qiliang, meninggal dunia secara mendadak.
Menurut sumber terpercaya Epoch Times, sejak April tahun lalu, kekuasaan Xi mulai runtuh. Meski secara lahiriah masih berkuasa, nyatanya sudah tidak memegang kendali, dan kini tokoh-tokoh seperti Wen Jiabao dan Zhang Youxia menjadi penentu arah politik Tiongkok. Xi hanya “berperan” dan menjalankan instruksi.
“Xiaoshuojia” mengutip sumber internal di Tiongkok bahwa Zhang Youxia kini sepenuhnya menguasai kekuatan militer, dan para jenderal tinggi yang belum jatuh pun sudah berpihak ke Zhang.
Yuan Hongbing juga menyebut bahwa keluarga elit ‘merah’ PKT kini berkumpul dan menggalang kekuatan, mereka menandatangani petisi ke Komite Sentral, menuntut Xi untuk mundur, serta menuduh Xi menggunakan kampanye anti-korupsi untuk menyingkirkan lawan dan memperkuat kediktatorannya.
Namun, banyak pakar Tiongkok menyatakan bahwa satu-satunya jalan keluar bagi Tiongkok adalah runtuhnya PKT itu sendiri. Jenderal AU AS yang telah pensiun, Blaine D. Holt, dalam artikel untuk Newsweek, juga menyebut bahwa PKT sedang berada di ambang kehancuran, dan Xi kemungkinan besar akan menjadi pemimpin terakhirnya. (Hui/asr)
Laporan gabungan oleh Tang Zheng – NTDTV.com
Zhongnanhai : Kantor Pusat Partai Komunis Tiongkok


