EtIndonesia. Ada orang berkata, setiap kali pulang dari mengantar jenazah ke krematorium, hati mereka selalu terasa lebih ringan, penuh renungan. Seolah setelah keluar dari tempat itu, setiap orang mendapat pemahaman baru tentang hidup—meski biasanya, pemahaman itu hanya bertahan sementara. Tak lama kemudian, mereka kembali larut dalam hiruk-pikuk kehidupan duniawi.
Konon, seorang pengusaha terkenal di Jepang pun punya kebiasaan serupa. Setiap beberapa waktu, dia akan mengajak istri dan anak-anaknya mengunjungi krematorium. Ketika ditanya mengapa dia melakukan hal yang terkesan aneh itu, sang pengusaha menjawab:
“Begitu sampai di krematorium, hati yang tadinya gelisah dan penuh ambisi akan tenang seketika. Di sana, kemuliaan, harta, dan status berubah jadi tak berarti. Hanya dengan begitu, kita bisa tetap menjaga kejernihan batin di tengah dunia yang penuh hiruk-pikuk, tetap tenang dalam menghadapi pujian maupun caci maki, tetap teguh saat digoda oleh kekuasaan atau kekayaan.”
Krematorium: Pemberhentian Terakhir
Krematorium adalah pemberhentian terakhir dalam kehidupan manusia. Di tempat ini, tidak ada lagi perbedaan antara:
· Raja atau rakyat jelata,
· Orang kaya raya atau pengemis,
· Tokoh terhormat atau penjahat keji,
· Mereka yang disanjung atau mereka yang dikutuk…
Semua akan sampai ke sini, dengan cara yang sama: berbaring diam, lalu didorong ke dalam tungku yang menyala. Dan ketika keluar lagi, hanya tersisa sebuah kotak kecil yang dibungkus kain merah—sekotak abu, ringan dan sunyi.
Hikmah Kehidupan: Kita Datang Tanpa Apa-apa, Pergi Tanpa Membawa Apa-apa
“Kita datang ke dunia tanpa sehelai benang, dan pergi juga tidak membawa apa-apa.”
Sesungguhnya, hidup ini memang sesederhana itu. Kejayaan, kemewahan, kekuasaan—semua itu hanyalah debu dalam sekejap angin di hadapan kematian.
Cinta, dendam, kemarahan, dan benci yang begitu kuat dan mendalam pun akan menghilang begitu saja menjadi abu, tanpa bekas, tanpa kelanjutan.
Dunia saat ini begitu dikuasai oleh nafsu dan hasrat materi. Kita dikelilingi oleh:
· Godaan uang,
· Kekuasaan dan jabatan,
· Keinginan untuk diakui dan dihormati,
· Dan berbagai keinginan duniawi lainnya…
Sedikit saja kita lengah, maka hati kita akan diguncang. Ketenangan jiwa tergantikan oleh kegelisahan, kejernihan pikiran berubah menjadi kebingungan. Dan saat itulah kita mudah kehilangan arah.
Saat Hati Tersesat, Datanglah ke Krematorium
Ketika kita mulai merasa kecewa pada kenyataan,
Ketika hidup terasa tak adil,
Ketika merasa tidak dihargai,
Ketika dihantui dendam dan penyesalan,
Ketika kita mulai mengukur segalanya dengan untung rugi,
Ketika kita tunduk pada kekuasaan,
Ketika kita bertengkar demi gengsi, atau menipu demi posisi…
Mungkin inilah saatnya kita perlu mengunjungi krematorium.
Di sana, semua yang kita kejar mati-matian selama puluhan tahun—uang, status, ambisi, kebanggaan—ternyata tak ada satu pun yang bisa dibawa.
Orang yang semasa hidupnya paling berkuasa pun, pada akhirnya hanya menjadi sekepal abu.
Lalu… apa lagi yang sulit kita lepaskan?
Hidup Ini Pendek dan Tak Pasti — Maka Jalani dengan Penuh Syukur
Hidup itu singkat, dan penuh ketidakpastian.
Jika dalam hidup ini, kita tak mampu melepaskan, selalu memendam, terus mencari-cari pembenaran, atau sibuk menyalahkan orang lain, maka kehidupan kita tak lebih dari sekadar bertahan, bukan benar-benar hidup.
Tapi jika kita bisa…
· Menjalani setiap hari dengan syukur,
· Mencintai hari ini seolah itu hari terakhir,
· Menghargai waktu, kesehatan, dan kebersamaan,
· Maka kita akan hidup dengan penuh makna.
Tidak perlu waktu untuk menyesali.
Tidak perlu tenggelam dalam cemas atau amarah.
Karena setiap hari adalah kesempatan emas untuk mencintai dan dicintai.
Penutup: Hidup Itu Sebuah Perjalanan Singkat, Bukan Kepemilikan Abadi
Ketika hidup dimulai, kita tidak membawa apa-apa.
Ketika hidup berakhir, kita pun tak bisa membawa apa-apa.
Maka, belajarlah untuk tidak terbelenggu oleh keterikatan hati.
Belajarlah untuk melepaskan dengan tenang.
Dan selama masih bisa tersenyum hari ini— bersyukurlah, karena itu sudah cukup.(jhn/yn)


