Netanyahu Ancam “Hapuskan Khamenei”, Dunia Menahan Napas Menanti Langkah Israel!

EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah kian memanas setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara tegas bersumpah bahwa Iran harus “membayar lunas” atas serangan rudal terbaru yang mengguncang kawasan. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memilih untuk menunda keputusan terkait kemungkinan intervensi militer ke Iran, setidaknya untuk dua pekan ke depan. Ketegangan antara negara-negara besar pun semakin mencuat, dengan perhatian dunia kini tertuju pada manuver Israel, Iran, Amerika Serikat, Rusia, hingga Tiongkok di panggung global.

Serangan Rudal Mengguncang Israel, Netanyahu Bicara Soal Eliminasi Khamenei

Pada 19 Juni, roket yang ditembakkan dari wilayah Iran menghantam Pusat Medis Soroka di Israel. Insiden ini memicu kepanikan di kalangan warga sipil, serta menyebabkan sejumlah korban luka dan kerusakan infrastruktur rumah sakit. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, segera melakukan kunjungan langsung ke rumah sakit tersebut. Di hadapan media, Netanyahu menyampaikan sikap keras dan menyinggung kemungkinan untuk “menyingkirkan” Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran.

“Kami menanggapi ancaman ini dengan sangat serius. Semua opsi ada di atas meja, namun sebaiknya tidak dibahas secara terbuka di media,” ujar Netanyahu, memberikan sinyal keras kepada Teheran tanpa merinci langkah strategis berikutnya.

Respons Dunia: Rusia Menahan Diri, Trump Pilih Menunggu

Sementara dunia menantikan respons dari Amerika Serikat dan sekutunya, perhatian juga tertuju pada Rusia sebagai salah satu aktor utama di kawasan. Dalam konferensi pers di Moskow, seorang jurnalis bertanya langsung kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin, tentang kemungkinan Israel—dengan atau tanpa dukungan AS—melakukan aksi eliminasi terhadap Khamenei. 

Putin menolak berspekulasi lebih jauh dan menjawab dingin: “Saya bahkan tidak ingin mendiskusikan kemungkinan itu.”

Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump, yang masih berpengaruh di panggung politik, mengambil langkah berbeda. Alih-alih langsung memberi lampu hijau untuk aksi militer, Trump justru menunda keputusan soal intervensi militer ke Iran hingga dua pekan mendatang. Keputusan ini menambah ketidakpastian, sekaligus memperlihatkan betapa berhati-hatinya Washington dalam menentukan sikap di tengah ketegangan global.

NYT: Putin “Mengkhianati” Iran?

Dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan New York Times, disebutkan bahwa Rusia “mengkhianati” Iran, meski selama ini Teheran telah memasok drone tempur, membangun pabrik drone bersama, hingga menandatangani berbagai perjanjian pertahanan dengan Moskow. Namun, ketika Israel mulai menggempur fasilitas nuklir Iran dan menargetkan para jenderal pentingnya, Rusia seolah memilih diam dan tidak turun tangan secara nyata.

Pengamat politik internasional, Tang Jingyuan, menilai artikel NYT ini sebagai manuver licik. 

“Tampaknya ada upaya untuk mendorong Putin agar segera turun tangan dan membela Iran. Di sisi lain, tulisan itu juga seolah menunggu agar Tiongkok tampil sebagai penyokong utama Iran di tengah krisis,” ujarnya.

Faktanya, hubungan Iran dan Amerika Serikat kini semakin tegang, dengan kedua belah pihak benar-benar berhadapan secara frontal di panggung internasional.

Perang Propaganda di Dunia Maya dan Tuduhan Kontrol Media

Di tengah serangan rudal dan retorika politik, perang propaganda pun memanas di ranah media sosial. Sebuah akun X (sebelumnya Twitter) dari Iran mem-posting gambar gedung stasiun TV pemerintah Iran yang hancur dibom. 

“Sekarang puas, kan?” tulis akun tersebut dengan nada sinis, menyindir kondisi politik dalam negeri.

Bahkan muncul tuduhan bahwa narasi media di Iran kini “dikendalikan” oleh Departemen Propaganda Tiongkok. Namun, sejumlah pengguna mengklaim bahwa masih ada ‘pemberontak’ di dalam sistem yang berani menyisipkan informasi asli dan gambar-gambar yang mengungkap kebenaran. 

“Setidaknya kali ini bukan hasil edit AI, ini sudah kemajuan,” tulis seorang netizen menyoroti fenomena tersebut.

Israel Tegaskan: Khamenei Adalah “Hitler Zaman Modern”

Dalam pernyataan resmi, Menteri Pertahanan Israel, Irael Katz, menggelar konferensi pers usai meninjau lokasi serangan rudal. Katz secara terbuka menyebut Ayatollah Khamenei sebagai “Hitler modern”—seorang diktator yang secara terang-terangan ingin melenyapkan negara Israel dari peta dunia.

“Kita sudah pernah menghadapi musuh seperti ini dalam sejarah. Dulu, bangsa Yahudi harus mengirim pasukan untuk memburu dan menangkap Hitler di dalam bunkernya, demi menggagalkan rencana pemusnahan. Sekarang, Israel juga harus siap melakukan langkah ekstrem demi mencegah sejarah kelam itu terulang,” tegas Katz.

Ketika ditanya apakah eliminasi Khamenei menjadi target resmi Israel, Katz tidak menampik.

“Tujuan utama perang ini adalah menghilangkan ancaman nuklir, menghancurkan semua sumber daya penghancuran massal, serta mengakhiri ancaman rudal yang membahayakan warga Israel. Dalam kerangka ini, Pasukan Pertahanan Israel sudah mendapat instruksi jelas, dan setiap target sudah dipetakan. Sosok seperti Khamenei memang tidak boleh dibiarkan eksis lebih lama lagi,” tegasnya.

Ketegangan Menuju Krisis Baru?

Di tengah gejolak politik dan militer, perhatian dunia kini benar-benar tertuju pada Timur Tengah. Kemungkinan terjadinya eskalasi perang besar-besaran tidak bisa diabaikan. Baik Israel, Iran, Amerika Serikat, Rusia, maupun Tiongkok, kini terus melakukan kalkulasi strategis yang rumit.

Belum ada tanda-tanda deeskalasi. Justru, retorika saling ancam, tuduhan pengkhianatan, hingga seruan eliminasi pemimpin tertinggi musuh, menandakan bahwa dunia kini berada di ambang babak baru konflik yang bisa membawa dampak sangat luas, tidak hanya bagi kawasan, tapi juga bagi stabilitas global.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine