EtIndonesia. Situasi politik dan keamanan di Iran terus memburuk seiring dengan meningkatnya tekanan eksternal dan gejolak di dalam negeri. Dalam perkembangan terbaru yang menghebohkan, otoritas keamanan Taliban Afghanistan mengungkapkan bahwa sejumlah pejabat senior Iran, termasuk petinggi rezim dan komandan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), telah meminta agar Taliban mempertimbangkan kemungkinan memberikan suaka jika mereka harus melarikan diri dari Iran, terutama jika pemerintahan di Teheran benar-benar tumbang.
Taliban Diincar Jadi “Pelabuhan Terakhir”
Menurut sumber internal Taliban yang dikutip sejumlah media internasional, permintaan ini mulai disampaikan secara informal dalam beberapa hari terakhir, seiring berjalannya protes dan aksi perlawanan rakyat di berbagai kota besar Iran.
“Ada sejumlah permintaan dari pejabat Iran tingkat tinggi agar Afghanistan, khususnya otoritas Taliban, menyiapkan jalur evakuasi dan perlindungan bagi mereka jika situasi di Iran menjadi tak terkendali,” ujar seorang pejabat Taliban yang enggan disebut namanya demi alasan keamanan.
Fenomena ini menimbulkan banyak pertanyaan, mengingat selama ini Iran dan Taliban memiliki sejarah hubungan yang rumit. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama pragmatis di bidang keamanan dan ekonomi sempat meningkat, terutama sejak Amerika Serikat menarik pasukannya dari Afghanistan.
Mengapa Taliban, Bukan Tiongkok?
Menariknya, para pejabat senior Iran tampak lebih memilih melarikan diri ke Afghanistan yang kini dikendalikan Taliban, dibandingkan melarikan diri ke Tiongkok yang dikenal sebagai sekutu dekat Iran.
Menurut pengamat hubungan internasional, pilihan ini dilatarbelakangi kekhawatiran bahwa Tiongkok, yang sedang menghadapi krisis internal dan tekanan geopolitik, mungkin tak akan menyediakan perlindungan yang aman bagi mereka.
Sebuah komentar tajam dari pengamat kawasan menyebutkan, “Mereka (pejabat Iran) tahu persis bahwa Tiongkok saat ini tengah di ambang gejolak dalam negerinya sendiri. Ditambah lagi, Beijing kini lebih pragmatis dan tidak mau terseret dalam konflik Iran yang penuh ketidakpastian.”
Video Reza Pahlavi: Runtuhnya Komando di Teheran
Pada 19 Juni 2025, Pangeran Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran yang kini hidup di pengasingan, merilis sebuah video pernyataan yang dengan tegas menyatakan bahwa sistem komando dan koordinasi rezim Iran kini berada di ambang kehancuran.
Dalam videonya yang viral di media sosial dan mendapat perhatian luas dari komunitas internasional, Reza Pahlavi menyebut bahwa keruntuhan otoritas pusat terjadi jauh lebih cepat dari prediksi banyak kalangan. Ia juga menekankan bahwa para pemimpin dunia kini secara terbuka mulai membicarakan masa depan Iran pasca-rezim Islam.
Pernyataan ini tidak hanya menjadi sinyal kepada masyarakat Iran di dalam dan luar negeri, tetapi juga memperkuat persepsi bahwa dunia internasional telah kehilangan kepercayaan terhadap keberlanjutan rezim saat ini.
“Komunitas internasional kini lebih serius mendiskusikan langkah-langkah transisi kekuasaan dan bantuan kemanusiaan bagi Iran di era pasca-rezim Islam,” ujar Reza Pahlavi dalam pesannya.
Reaksi Dunia: Iran Diambang “Kemungkinan Terburuk”
Pada hari yang sama, media sosial dihebohkan dengan beredarnya tangkapan layar dari berita-berita media Tiongkok yang menyoroti kondisi Iran. Salah satu headline yang mencuri perhatian berbunyi, “Iran Kini Harus Bersiap Menghadapi Kemungkinan Terburuk.” Berita-berita ini dinilai oleh pengamat sebagai tanda bahwa bahkan sekutu-sekutu tradisional Iran seperti Tiongkok mulai mengambil jarak, atau setidaknya bersiap menghadapi kemungkinan perubahan drastis di Teheran.
Seorang analis politik Asia Timur mengatakan, “Jika media Tiongkok yang biasanya berhati-hati dalam mengomentari urusan sekutunya saja sudah mulai bicara ‘kemungkinan terburuk’, itu berarti Beijing juga mulai meragukan stabilitas rezim Iran.” Hal ini semakin mempertegas sinyal bahwa pergantian kekuasaan di Iran mungkin tinggal menunggu waktu.
Runtuhnya Jaringan Kekuasaan: Momentum Krisis Regional
Dalam situasi seperti ini, pilihan pejabat Iran untuk mencari perlindungan ke Taliban — alih-alih Tiongkok atau negara-negara lain — dinilai sebagai refleksi nyata dari semakin sempitnya opsi yang tersedia bagi lingkaran elite di Teheran. Sebuah sumber di lingkungan diplomatik Asia Tengah mengatakan, “Pilihan ke Taliban mungkin dianggap paling realistis, sebab Taliban selama ini menjaga hubungan cukup pragmatis dengan semua pihak, dan tak terikat langsung oleh tekanan Barat maupun kekuatan besar dunia.”
Selain itu, perkembangan di Iran kini mendapat sorotan global, bukan hanya karena potensi konflik internal, tetapi juga kemungkinan terjadinya eksodus pejabat dan keluarga elit, yang bisa berdampak luas ke stabilitas regional. Negara-negara tetangga seperti Turki, Irak, dan Pakistan kini disebut telah meningkatkan status siaga mereka untuk mengantisipasi kemungkinan gelombang pengungsi elite maupun pergolakan di perbatasan.
Sinyal Jelas: Dunia Mempersiapkan Era Baru di Iran
Rangkaian kejadian ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan dinamika di Iran. Dengan semakin terbukanya informasi soal permintaan suaka pejabat Iran ke Taliban, ditambah pengakuan terbuka dari tokoh oposisi seperti Reza Pahlavi, serta sikap “waspada” yang kini diambil oleh Tiongkok, tampaknya dunia internasional memang sedang mempersiapkan diri menghadapi Iran pasca-rezim Islam.
Salah satu diplomat senior Barat menegaskan, “Biasanya, rezim otoriter terlihat kuat sampai akhirnya runtuh dalam waktu sangat singkat. Iran saat ini berada di titik kritis. Dunia harus bersiap menghadapi segala kemungkinan, termasuk pergantian rezim yang bisa terjadi jauh lebih cepat dari prediksi.”
Penutup
Permintaan perlindungan dari para pejabat tinggi Iran ke Taliban adalah gambaran nyata dari kepanikan elit rezim dan menandakan ketidakpastian masa depan Iran. Dalam beberapa minggu ke depan, dunia akan mengamati dengan seksama apakah Iran benar-benar akan mengalami perubahan kekuasaan besar-besaran, dan sejauh mana dampak dari krisis ini akan mempengaruhi stabilitas kawasan serta peta geopolitik global. (***)


