Tiongkok Terjebak dalam “Involusi Super”: Daerah-daerah Berebut Sampah, Pakar Ungkap Akar Masalahnya

Persaingan “involusi” dalam ekonomi Tiongkok semakin intens, bahkan industri pengelolaan sampah pun tidak luput dari dampaknya. Menurut laporan media, pabrik-pabrik pembakaran sampah di berbagai daerah di Tiongkok kini mulai berebut sampah, bahkan menggali kembali sampah lama yang telah lama dikubur. Fenomena absurd seperti membeli sampah dengan uang pun muncul. Apa sebenarnya alasan mendalam di balik fenomena ini? simak analisis para pakar

EtIndonesia. Menurut Laporan Situasi Lingkungan Ekologis Tiongkok 2024 yang baru-baru ini dirilis oleh Kementerian Ekologi dan Lingkungan Partai Komunis Tiongkok (PKT), pada tahun lalu total volume sampah rumah tangga perkotaan yang dikumpulkan di seluruh negeri mencapai 262,36 juta ton, dengan rata-rata 718.800 ton per hari. Sementara itu, kapasitas pengolahan sampah harian mencapai 1.155.500 ton, yang berarti terjadi kelebihan kapasitas yang cukup parah.

Untuk menutupi kekurangan sampah, banyak daerah mulai menggali kembali sampah yang telah lama dikubur di tempat pembuangan akhir (TPA). Bahkan di beberapa tempat terjadi perebutan sampah. 

Menurut laporan media Tiongkok, dua pabrik pembakaran sampah di Provinsi Hunan bahkan membeli sampah dan membayar “uang komisi” kepada perusahaan properti. Untuk setiap ton sampah, pihak pemberi bisa mendapatkan imbalan sebesar RMB. 50 .

“Fenomena absurd kekurangan sampah untuk dibakar sebenarnya mencerminkan tiga lapisan masalah. Pertama, secara permukaan, ini adalah akibat dari kebijakan lingkungan yang dipaksakan serta kelebihan kapasitas. Banyak pabrik pembakaran sampah terikat pada pencapaian politik, sehingga akhirnya menghasilkan kelebihan kapasitas,” kata ekonom Tiongkok yang bermukim di AS, Huang Dawei. 

“Kedua, perlambatan ekonomi Tiongkok, penurunan konsumsi, dan berkurangnya pesanan ekspor juga menyebabkan volume sampah berkurang. Ketiga, pada level yang lebih dalam, ini adalah gejala dari logika involusi, yang telah menyebar ke berbagai sektor, termasuk industri pengolahan sampah,” lanjutnya. 

Sejak tahun 2003, pengelolaan pembakaran sampah di Tiongkok dialihkan dari tanggung jawab pemerintah menjadi sistem kemitraan usaha terbatas (franchise), dan pemerintah mulai gencar mempromosikan model pembakaran sampah untuk pembangkit listrik melalui skema BOT (Build-Operate-Transfer). 

Pada tahun 2006, pemerintah juga meningkatkan subsidi untuk proyek energi terbarukan, sehingga pembakaran sampah menjadi sangat menguntungkan dan berkembang pesat menjadi industri populer di berbagai daerah.

Ekonom dari Institut Informasi dan Strategi Washington, Li Hengqing, menjelaskan: “Yang tampak sekarang adalah kekurangan bahan baku, tetapi akar masalah sebenarnya adalah masalah struktural. Selama ada keputusan dari pimpinan, subsidi fiskal segera tersedia, dan semua orang akan ikut-ikutan tanpa pertimbangan matang.”

Data menunjukkan bahwa hingga saat ini terdapat sekitar 2.100 pabrik pembakaran sampah di seluruh dunia, dan 1.010 di antaranya berada di Tiongkok.

Namun, menurut survei yang dilakukan oleh E20 Research Institute pada tahun 2023, tingkat pemanfaatan rata-rata (load factor) pabrik-pabrik pembakaran sampah di Tiongkok hanya sekitar 60%, artinya 40% kapasitas produksi tidak digunakan alias menganggur.

Analisis menunjukkan bahwa seiring dengan penurunan tajam indikator-indikator utama seperti populasi, ekonomi, pekerjaan, konsumsi, dan sumber daya, kondisi involusi di Tiongkok akan terus memburuk.

Huang Dawei mengatakan: “Dinginnya pasar pembakaran sampah adalah cerminan tidak langsung dari menurunnya vitalitas ekonomi perkotaan. Sampah bukanlah simbol pertumbuhan atau perlindungan lingkungan, melainkan mencerminkan stagnasi konsumsi, menurunnya produksi, terputusnya rantai logistik, dan berkurangnya aktivitas ekonomi secara keseluruhan.”

Li Hengqing menambahkan: “Masalah Tiongkok saat ini bisa digambarkan seperti menekan satu sisi labu tapi sisi lain malah muncul. Pabrik pengolahan sampah, pabrik distribusi, bahkan pabrik mobil, semuanya mengikuti pola yang sama—semuanya merupakan versi ulang dari model yang sudah usang. Hasilnya adalah kelebihan kapasitas produksi yang sangat besar.” (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD: Tang Rui dan Yi Ru

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine