EtIndonesia. Ancaman spionase yang melibatkan Partai Komunis Tiongkok (PKT), meningkatnya serangan siber terhadap Rusia, hingga operasi militer skala besar di Timur Tengah dan Ukraina menandai babak baru dalam ketegangan geopolitik global.
Spionase PKT dan Bahaya Serangan Drone di Amerika Serikat
Dalam siaran khusus FOX News, analis geopolitik Zhang Jiadun memperingatkan publik Amerika mengenai potensi serangan drone dari dalam negeri sendiri, yang diduga bisa dimotori oleh jaringan spionase PKT maupun Iran. Zhang menyoroti bahwa, berbeda dengan Israel yang menghadapi Iran secara terbuka atau Ukraina yang melawan invasi Rusia, ancaman Tiongkok justru bisa berwujud serangan dari balik “pintu rumah sendiri”. Hal ini dimungkinkan karena lebih dari 1 juta unit drone buatan Tiongkok saat ini terdaftar resmi di Amerika, belum termasuk jutaan unit lain yang tidak terdaftar.
“Jika Xi Jinping mengeluarkan perintah, maka kerusakan besar-besaran di wilayah Amerika Serikat bisa terjadi dalam waktu singkat tanpa perlu menyelundupkan perangkat apa pun,” ujar Zhang.
Dia menegaskan, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS) harus segera memusatkan sumber dayanya untuk mengungkap dan membongkar jaringan spionase PKT dan Iran, yang kini dinilai sebagai ancaman paling nyata di dalam negeri AS.
Perang Siber Tiongkok-Rusia: Musuh di Tengah Konflik
Ketegangan tidak hanya terjadi di darat dan udara, tetapi juga di ranah siber. Sejak meletusnya perang Rusia-Ukraina, kelompok peretas yang diduga memiliki afiliasi dengan Pemerintah Tiongkok berulang kali membobol perusahaan dan lembaga strategis pertahanan Rusia. Sasaran utama mereka adalah pencurian informasi dan teknologi militer sensitif.
Menurut dokumen internal dinas keamanan Rusia yang beredar, Tiongkok (PKT) kini secara terbuka dicap sebagai “musuh” oleh Rusia, meski secara diplomatik kedua negara masih kerap menunjukkan kemesraan di hadapan publik dunia.
Perusahaan keamanan siber Taiwan, TeamT5, mengungkapkan bahwa salah satu kelompok peretas bernama “Sanyo”, yang diduga berafiliasi dengan PKT, telah berhasil mencuri data kapal selam nuklir Rusia. Data ini bukan hanya sensitif secara militer, tetapi juga sangat vital untuk keamanan nasional Rusia, sehingga memperdalam rasa saling curiga antara Moskow dan Beijing.
Krisis Ukraina: Antara Invasi Rusia dan Pengurangan Dukungan Barat
Guru Besar Universitas South Carolina, Prof. Xie Tian, menjelaskan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin dalam pernyataan terakhirnya menyatakan bersedia bertemu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, namun hanya pada tahap akhir negosiasi damai. Sementara itu, menurut laporan Reuters tanggal 20 Juni, partai komunis Rusia telah mengumumkan bahwa pekan depan akan diputuskan tanggal untuk putaran ketiga perundingan damai Rusia-Ukraina.
Namun, di tengah upaya diplomasi yang masih jauh dari harapan, situasi di medan perang justru semakin membara. Rusia melancarkan serangan udara paling intens sejak awal invasi, menargetkan kota-kota utama Ukraina dan infrastruktur militer penting. Sebagai respons, Ukraina melancarkan serangan drone besar-besaran ke pangkalan udara Rusia. Dalam pernyataannya, Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina saat ini sangat membutuhkan minimal 40 miliar dolar AS per tahun dari sekutu Barat untuk mempertahankan perlawanan dan menjaga eksistensi negara.
Prof. Xie juga menyoroti dampak perang Timur Tengah terhadap Ukraina.
Dia menjelaskan: “Rudal-rudal pertahanan yang semestinya dikirim ke Ukraina kini banyak dialihkan ke Israel. Hal ini menyebabkan dukungan militer Barat ke Ukraina berkurang drastis.”
Akibatnya, Rusia semakin leluasa mempercepat laju serangan dan merebut lebih banyak wilayah, memanfaatkan situasi global yang kian terpecah.
Operasi Udara Israel “Rise of the Lion”: Serangan Decapitation yang Mengguncang Iran
Pada 13 Juni, Israel meluncurkan operasi udara masif bertajuk “Rise of the Lion” yang telah mencatatkan sejarah baru dalam operasi militer presisi. Dalam serangan ini, setidaknya 20 jenderal tinggi Garda Revolusi Iran (IRGC) dan enam pakar nuklir top Iran tewas, bahkan beberapa di antaranya dalam kondisi tertidur di kediaman mereka. Serangan ini dinilai sebagai “decapitation strike” atau pemenggalan struktur komando yang super presisi, dengan tujuan utama melumpuhkan kepemimpinan militer dan infrastruktur nuklir Iran.
Media nasional Iran akhirnya mengakui kejatuhan sejumlah petinggi, termasuk Komandan IRGC Hossein Salami, Kepala Staf Militer Mohammad Bagheri, serta beberapa ilmuwan nuklir seperti mantan Kepala Badan Nuklir Fereydoun Abbasi dan pakar teknologi Tehranji bersama empat peneliti nuklir lainnya. Kerugian ini disebut sebagai pukulan telak yang bisa memperlambat program nuklir Iran bertahun-tahun ke depan.
CNN dan Wall Street Journal melaporkan bahwa Israel menggunakan taktik “kuda Troya” modern—mengirim ratusan drone kecil, suku cadang senjata, dan alat komunikasi melalui koper diplomatik serta kontainer logistik ke dalam wilayah Iran, lalu melakukan koordinasi serangan secara simultan dari dalam negeri. Total lebih dari 100 target strategis dihantam dalam waktu singkat. Menurut sejumlah analis, operasi ini telah direncanakan selama sedikitnya 8 bulan oleh komunitas intelijen Israel dan sekutunya.
Mossad Dituding Masuk ke Seluruh Jaringan Iran, Gelombang Penangkapan Meluas
Serangan udara besar-besaran ini mengguncang seluruh aparat keamanan Iran. Pemerintah Iran secara terbuka menyatakan telah menangkap 28 orang yang diduga kuat sebagai agen Mossad di Teheran. Bahkan, satu terduga lama dieksekusi secara kilat. Pemerintah meminta seluruh warga aktif melapor jika menemukan perilaku mencurigakan di lingkungan mereka—seperti aktivitas keluar-masuk malam hari, perubahan penampilan ekstrem, suara asing di sekitar rumah, dan sebagainya.
Otoritas Iran juga memperketat pengawasan lewat patroli Basij di permukiman strategis serta memblokir sekitar 60 akun media sosial di wilayah Isfahan yang diduga dipakai untuk koordinasi aksi spionase dan sabotase.
Langkah ini mencerminkan tingkat ancaman yang dirasakan rezim Teheran. Mossad diyakini telah menyusup ke hampir semua lini penting Iran, mulai dari sektor militer, pemerintahan, hingga komunitas riset teknologi. Perlu dicatat, dalam beberapa tahun terakhir Mossad sudah dikaitkan dengan sederet kasus pembunuhan ilmuwan nuklir Iran—termasuk pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh pada tahun 2020 yang sempat mengguncang dunia internasional.
Kesimpulan: Dunia di Tengah Pusaran Perang Generasi Baru
Dari Washington hingga Kiev, dari Teheran hingga Tel Aviv, dunia kini berada di tengah pusaran perang modern: ancaman spionase tanpa batas negara, serangan siber lintas sekutu dan musuh, serta operasi militer presisi dengan sasaran utama pemimpin dan ilmuwan. Keseimbangan kekuatan global sedang diuji. Jika eskalasi ini tidak diredam, para pengamat memperingatkan, dunia bisa menghadapi gelombang baru krisis yang lebih destruktif, bukan hanya di medan perang, tetapi juga di ranah ekonomi, teknologi, dan sosial.


