Tenaga medis di rumah sakit Tiongkok terus melaporkan kasus ‘paru-paru putih’ dan kematian mendadak dalam gelombang penyakit terbaru.
EtIndonesia. Para dokter di Tiongkok memprediksi akan terjadi puncak besar kasus COVID-19 pada Juli mendatang, seiring dengan data terbaru yang dirilis oleh otoritas kesehatan Tiongkok yang menunjukkan bahwa varian NB 1.8.1 masih menjadi patogen utama penyebab lonjakan cepat infeksi COVID-19 di negara tersebut.
Para dokter dan profesional kesehatan di seluruh Tiongkok terus melaporkan kepada The Epoch Times bahwa infeksi, termasuk gejala “paru-paru putih”, dan kematian meningkat dalam gelombang terbaru COVID-19 ini, menggambarkan situasi yang jauh lebih parah dibandingkan pengakuan resmi pemerintah.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok pada 12 Juni merilis data infeksi saluran pernapasan akut untuk minggu epidemiologis ke-23 (2 Juni hingga 8 Juni). Patogen utama yang ditemukan dalam sampel pernapasan dari kasus seperti influenza di unit rawat jalan dan IGD rumah sakit sentinel di Tiongkok adalah SARS-CoV-2 (penyebab COVID-19), rhinovirus (penyebab flu biasa), dan enterovirus (penyebab penyakit saluran napas dan pencernaan).
Patogen yang terdeteksi dalam sampel pernapasan dari pasien rawat inap dengan infeksi saluran pernapasan akut berat terutama adalah SARS-CoV-2, rhinovirus, dan respiratory syncytial virus (RSV).
Data resmi rezim Tiongkok juga menunjukkan bahwa dalam empat minggu dari minggu ke-19 (5–11 Mei) hingga minggu ke-22 (26 Mei–1 Juni), tingkat positif COVID-19 dalam kasus mirip flu meningkat, masing-masing mencapai 18,3%, 20,2%, 23,8%, dan 22,8%.
CDC Tiongkok juga sebelumnya melaporkan pada awal Juni bahwa kasus COVID-19 di negara tersebut melonjak 160 persen dari April ke Mei.
Zhong Nanshan, penasihat kesehatan utama rezim Tiongkok dan seorang epidemiolog, mengatakan kepada media lokal pada 10 Juni bahwa NB 1.8.1 saat ini sangat menular namun memiliki tingkat patogenisitas yang jauh lebih rendah dibandingkan varian-varian sebelumnya.
Namun, mengingat sejarah Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam menutup-nutupi informasi dan mempublikasikan data yang tidak dapat dipercaya—termasuk meremehkan infeksi COVID-19 dan kematian terkait sejak awal 2020—laporan dari dokter dan tenaga medis lokal dapat memberikan informasi berharga untuk memahami situasi sebenarnya di negara totaliter tersebut.
Dokter: Puncak Besar pada Juli
Dr. Liu Kun (menggunakan nama samaran demi alasan keamanan), pemilik klinik pengobatan swasta di Kota Hohhot, Mongolia Dalam, Tiongkok utara, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa dalam beberapa bulan terakhir, jumlah pasien COVID-19, baik dewasa maupun anak-anak, telah meningkat secara signifikan.
Ia mengatakan jumlah pasien di kliniknya yang mencari pengobatan tradisional Tiongkok untuk penyakit ini juga meningkat. Gejala utama adalah batuk dan dahak, “dan biasanya berlangsung lama, dengan beberapa pasien tidak sembuh selama berbulan-bulan,” ujarnya.
Mayoritas pasien kritis adalah lansia, “namun kematian mendadak di kalangan orang muda dan setengah baya usia 30–50-an lebih sering terjadi,” katanya.
Berdasarkan tren saat ini dan tingkat penularan tinggi dari varian dominan, ia memperkirakan bahwa “wabah COVID-19 kali ini akan sangat parah pada bulan Juli,” bahkan “pertumbuhan eksplosif mungkin saja terjadi.”
Sun Xiansheng, seorang petugas pencegahan epidemi di Tiongkok selatan (juga menggunakan nama samaran karena alasan keamanan), mengatakan kepada The Epoch Times bahwa dalam beberapa hari terakhir, “menurut informasi internal dari departemen pemerintah terkait, wabah COVID-19 dipastikan akan mencapai tingkat pandemi, dan berdasarkan kecepatannya saat ini, bisa dimulai bulan ini.”
Tn. Wang, seorang staf rumah sakit di Kota Hefei, Provinsi Anhui, yang hanya memberikan nama belakangnya demi keselamatan, mengatakan kepada NTD, media afiliasi The Epoch Times, bahwa “banyak anak sekolah terinfeksi secara berkelompok,” dan banyak dari mereka didiagnosis parah dengan “paru-paru putih,” gejala yang umumnya dikaitkan dengan infeksi COVID-19 berat.
“Beberapa orang di sekitar saya mengalami paru-paru putih,” kata Wang. “Ada yang sudah keluar dari rumah sakit, ada yang belum. Mereka mencakup anak muda, pelajar, dan orang berusia 60–70 tahun.”
Ia menambahkan bahwa jumlah kasus paru-paru putih, “terutama jumlah nodul paru, meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya.” Wang menyebut hal ini sebelumnya tidak ditemukan pada pelajar. “Tapi sekarang, ditemukan pada banyak pelajar,” ujarnya.
“Nodul paru lama-lama akan berkembang menjadi pneumonia dan kanker paru-paru.”
Seorang blogger kesehatan di Tiongkok, yang juga seorang epidemiolog dan memahami isu tersebut, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa menurut laporan riset internal dari tim Cao Yunlong di Universitas Peking—yang belum dipublikasikan—varian NB.1.8.1 dan XFG menyebar dengan cepat.
Laporan tersebut menyatakan bahwa NB.1.8.1 telah mencapai keseimbangan antara kemampuan menghindari sistem imun dan afinitas terhadap reseptor ACE2.
Penulis laporan memperkirakan bahwa NB.1.8.1 mungkin menjadi varian dominan global berikutnya, dengan gejala seperti sakit tenggorokan tajam, demam, pilek, muntah, dan diare.
NB1.8.1 telah menjadi varian dominan di banyak wilayah Asia, termasuk Asia Tenggara.
Meskipun tingkat patogenisitasnya tidak meningkat secara signifikan, efek jangka panjang dari varian ini patut diperhatikan, kata Dr. Jonathan Liu, profesor di Canada Public College dan direktur Liu’s Wisdom Healing Centre, kepada The Epoch Times pada 14 Juni.
“Infeksi yang disebabkannya baru-baru ini mirip dengan flu biasa, tetapi sering berlangsung lama. Utamanya mengganggu fungsi kekebalan tubuh manusia dan menyebabkan berbagai gejala aneh,” ujarnya.
Seiring berlanjutnya gelombang infeksi di Tiongkok, banyak negara termasuk Amerika Serikat juga melaporkan peningkatan kasus NB1.8.1.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan NB1.8.1 sebagai “varian dalam pemantauan.” (asr)
Laporan ini turut disusun oleh Luo Ya, Fang Xiao, dan Xiong Bin.


