EtIndonesia. “Lentera berputar” adalah sejenis lentera hias yang dinyalakan dengan lilin di dalamnya. Panas dari nyala lilin menciptakan aliran udara yang menyebabkan poros lentera berputar. Potongan kertas siluet yang ditempatkan pada poros ini kemudian memantulkan bayangan bergerak ke dinding sekeliling, menciptakan kesan gambar yang terus berputar seperti film.
Dalam konteks kehidupan, istilah ini digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan fenomena saat seseorang berada di ambang kematian, di mana pikiran mereka dengan sangat cepat memutar kembali seluruh kenangan hidup—seolah-olah sedang menonton film kehidupan mereka sendiri.
Dalam buku Seeing Life karya Bruce Greyson, dijelaskan bahwa sekitar 25% orang yang pernah mengalami pengalaman mendekati kematian (near-death experience) menyatakan bahwa mereka sempat mengalami kilas balik kehidupannya. Beberapa merasakannya secara kronologis dari awal hingga akhir, sementara lainnya justru mengalaminya secara terbalik. Bagi mereka, semuanya tampak seperti menonton film yang diputar kilat di depan mata.
1. Mengapa Menjelang Kematian Manusia Melihat “Lentera Kehidupan” Berputar?
Fenomena munculnya “film kehidupan” sebelum kematian bukanlah sekadar cerita mistik. Penelitian terbaru bahkan membuktikan bahwa ini adalah kejadian nyata dan teramati secara ilmiah.
Pada 22 Februari 2022, sekelompok ilmuwan dari Amerika Serikat mempublikasikan hasil studi mereka di jurnal Frontiers in Aging Neuroscience. Mereka mengungkapkan bahwa gelombang otak manusia sesaat sebelum meninggal menunjukkan pola yang sangat mirip dengan kondisi ketika seseorang sedang bermimpi, mengingat kenangan, atau bermeditasi. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi teori tentang “film kehidupan yang berputar” menjelang ajal.
Tim peneliti dari Universitas Michigan yang dipimpin oleh Jimo Borjigin juga mempublikasikan studi dalam jurnal PNAS yang menganalisis gelombang otak dari empat pasien sekarat. Mereka menemukan bahwa saat ventilator dihentikan, aktivitas gelombang gamma di otak melonjak hingga 391 kali lipat dan berlangsung hingga fase awal kematian. Ledakan aktivitas ini menunjukkan munculnya apa yang disebut sebagai kesadaran laten (covert consciousness).
Dari sisi neurosains, hal ini diduga terkait dengan nukleus locus coeruleus—sebuah pusat pengatur di otak yang mengontrol reaksi terhadap stres dan mengaktifkan sistem memori. Ketika seseorang menjelang kematian, area ini kemungkinan besar terstimulasi kuat, sehingga seluruh sistem memori aktif, menayangkan kembali seluruh peristiwa hidup bak lentera berputar.
2. Mengapa Menjelang Kematian Terjadi Fenomena “Cahaya Terakhir” atau ‘Kesadaran Sekilas’?
Selain fenomena lentera kehidupan, ada pula yang disebut cahaya yang bersinar sesaat sebelum padam. Dalam budaya medis, ini sering disebut sebagai fenomena “kesadaran terakhir”—di mana seseorang yang sebelumnya tampak sekarat mendadak terlihat sadar, berbicara normal, atau bahkan tampak membaik sesaat sebelum meninggal.
Kematian secara medis umumnya melalui tiga tahap:
1. Tahap sekarat (near-death) – organ-organ vital mulai gagal, tetapi masih bisa diselamatkan jika ditangani segera.
2. Kematian klinis – napas dan detak jantung berhenti, tekanan darah dan nadi hilang. Dalam kondisi tertentu masih bisa dihidupkan kembali.
3. Kematian biologis – seluruh aktivitas otak dan batang otak berhenti secara permanen. Inilah titik tidak bisa kembali.
Fenomena “kesadaran terakhir” biasanya terjadi di antara tahap pertama dan kedua. Saat itu, tubuh mengaktifkan mekanisme darurat yang dikendalikan oleh sumbu HPA (hipotalamus-pituitari-adrenal) dan sistem saraf simpatis-adrenal, yang melepaskan hormon dalam jumlah besar—terutama adrenalin dan kortisol. Hormon ini membuat tubuh tampak “segar” sejenak.
Selain itu, sel-sel manusia menyimpan ATP (Adenosin Trifosfat) sebagai sumber energi utama. Saat menghadapi stres ekstrem, ATP akan cepat diubah menjadi ADP (Adenosin Difosfat), melepaskan energi besar untuk memberikan tenaga tambahan terakhir. Inilah yang membuat orang yang sedang sekarat tiba-tiba terlihat pulih, walau hanya sesaat.
3. Mengapa Banyak Orang Mengaku Melihat Kerabat yang Sudah Meninggal?
Menjelang ajal, banyak orang melaporkan “melihat” arwah atau sosok orang terkasih yang telah tiada—entah itu orangtua, pasangan, anak, atau teman dekat. Fenomena ini tidak hanya dijumpai dalam kisah fiksi atau kepercayaan tradisional, tapi juga di berbagai budaya, agama, dan zaman—dan secara mengejutkan memiliki pola yang serupa.
Fenomena ini telah tercatat dalam sejarah manusia selama ribuan tahun. Namun, baru pada abad ke-20 para ilmuwan mulai menelitinya secara serius.
Pada tahun 1926, Sir William Barrett, profesor fisika dari Royal College of Science di Dublin, mempublikasikan penelitian yang mengungkapkan bahwa sangat umum bagi orang yang sedang sekarat untuk “melihat” kerabat atau teman yang sudah meninggal.
Kemudian pada 1960–1970-an, dr. Karlis Osis, dari American Society for Psychical Research, melakukan studi lebih luas dan menemukan bahwa fenomena ini terjadi lintas budaya:
· Sebagian orang melihat malaikat atau figur keagamaan,
· Sebagian lain melihat tokoh mitologis,
· Namun, yang paling umum adalah melihat orang terdekat yang telah tiada.
Yang menarik, banyak dari mereka merasakan ketenangan dan kebahagiaan, tidak seperti orang yang sehat yang justru ketakutan saat melihat “hantu”. Para pasien yang mengalami fenomena ini bahkan tetap sadar penuh akan kondisi mereka dan lingkungan sekitarnya, sehingga tampaknya bukan akibat delusi atau gangguan kesadaran.
Penutup: Maut sebagai Kepastian, Misteri, dan Pelajaran
Kematian adalah satu-satunya kepastian dalam hidup manusia. Namun, saat dia datang mendekat, manusia tetap diliputi rasa takut, bingung, dan rasa ingin tahu.
Dengan mengenali fenomena-fenomena seperti lentera kehidupan, kesadaran sesaat, dan penglihatan akan orang yang telah tiada, kita semakin menyadari betapa kompleksnya proses menuju akhir kehidupan.
Memahami dan menghargai kematian, justru menjadi cara terbaik untuk menjalani hidup ini dengan lebih bermakna dan penuh martabat.(jhn/yn)


