EtIndonesia. Telepon penipuan sudah bukan hal yang asing. Modusnya beragam dan tak jarang mengandalkan emosi korban, seperti rasa takut, cemas, dan panik agar korban mudah tertipu. Salah satu skenario klasik adalah anak kecil menangis memanggil “Mama” di ujung telepon, berpura-pura sebagai anak korban yang sedang dalam bahaya.
Namun siapa sangka, ketika modus seperti ini dijalankan kepada seorang ibu luar biasa asal Kaohsiung, Taiwan, bernama “Ibu Xiao Bi”, justru membalikkan keadaan. Satu kalimat jujur darinya membuat anggota sindikat penipuan tersadar, mengucapkan permintaan maaf, dan bahkan mendoakan dirinya.
“Kalau anak saya bisa panggil ‘Mama’, saya akan sangat berterima kasih pada Anda.”
Dalam unggahan yang dia bagikan di sebuah grup Facebook, Ibu Xiao Bi menceritakan saat menerima telepon dari penipu yang berbicara dengan logat Tiongkok daratan. Di seberang telepon, terdengar suara seorang anak laki-laki menangis memanggil “Mama”.
Tapi bukannya panik, dia justru dengan tenang menjawab: “Kalau anak saya benar-benar bisa memanggil ‘Mama’, saya akan sangat berterima kasih pada Anda.”
Lawannya di seberang telepon terdiam, lalu dengan suara penasaran bertanya: “Kenapa?”
Dengan ketulusan yang menyentuh, Ibu Xiao Bi menjawab: “Karena anak saya mengalami cerebral palsy (kelumpuhan otak). Dia tidak bisa berjalan, tidak bisa makan sendiri, bahkan tidak bisa bicara. Selama 18 tahun saya merawatnya sendirian.”
Mendengar pengakuan tersebut, anggota sindikat penipuan itu terdiam cukup lama. Akhirnya, dia berkata lirih: “Maaf telah mengganggu Anda… Semoga Tuhan memberkati Anda.”
Setelah itu, dia menutup telepon begitu saja.
“Saya belum sempat tanya, kalian masih buka lowongan atau tidak!”
Dengan gaya khasnya yang penuh humor, Ibu Xiao Bi menambahkan dalam unggahannya: “Saya bahkan belum sempat tanya, kalian masih butuh orang nggak? Kenapa buru-buru ditutup sih? Sakit hati banget, loh!”
Unggahan tentang peristiwa tersebut dalam waktu kurang dari satu hari mendapat puluhan ribu tanda suka dari warganet. Banyak yang tersentuh dan kagum akan ketegaran Ibu Xiao Bi, serta tak lupa memberikan dukungan dan doa untuk dirinya dan sang anak.
Perjuangan Seorang Ibu: Sendiri, Tapi Tak Pernah Menyerah
Di balik senyum cerah dan candaan Ibu Xiao Bi, tersimpan cerita yang penuh perjuangan dan luka.
Menurut laporan media Taiwan, nama asli Ibu Xiao Bi adalah Chen Jialing. Dia melahirkan anaknya, yang akrab dipanggil “Xiao Bi”, 18 tahun lalu. Saat usia enam bulan, setelah mendapatkan imunisasi, Xiao Bi mengalami reaksi buruk yang memicu kejang hebat dan akhirnya berujung pada cerebral palsy berat (kelumpuhan otak parah).
Ayah biologis Xiao Bi memilih meninggalkan mereka, tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa anaknya tak bisa bicara dan tak bisa bergerak. Sejak saat itu, Chen Jialing memikul seluruh beban hidup dan merawat Xiao Bi seorang diri.
Biaya pengobatan, operasi, terapi, serta kebutuhan sehari-hari yang luar biasa berat membuat Chen Jialing jatuh dalam depresi. Saat Xiao Bi berusia 10 tahun, dia sempat mencoba bunuh diri dengan menelan obat.
Namun, takdir berkata lain. Dia selamat, hanya mengalami kerusakan ringan pada pita suara.
“Kalau Tuhan belum mau saya pergi, berarti saya harus tetap hidup untuk merawat anak saya,” ujarnya.
Sejak itu, dia bangkit kembali. Apa pun kesulitan yang datang, dia hadapi. Dia tak pernah lagi lari dari kenyataan.
“Karena ini adalah pelajaran yang Tuhan berikan untuk saya. Tidak ada orang lain yang bisa mengerjakannya selain saya,” katanya.
Menemukan Harapan Lewat Lari
Dua tahun lalu, seorang teman mengajaknya ikut acara lari bersama (charity run). Awalnya hanya untuk hiburan, tapi kegiatan itu justru menjadi titik balik hidupnya. Saat berlari, beban hidup terasa lebih ringan. Dia bisa melepaskan tekanan yang begitu menyesakkan dada.
Lebih dari itu, kegiatan ini memberinya kesempatan untuk mengajak Xiao Bi keluar rumah dan melihat dunia. Dunia yang selama ini hanya bisa dilihat Xiao Bi dari balik jendela kamar.
“Anak ini bukan beban, tapi malaikat,” ujarnya lirih.
Banyak orang yang mencibir, mengatakan bahwa Xiao Bi adalah beban. Tapi Ibu Xiao Bi menanggapi dengan cara yang lembut dan penuh cinta: “Anak ini adalah malaikat. Meski saya mengorbankan banyak hal, cinta saya sebagai ibu mengatakan: tidak bisa hanya karena dia sakit lalu saya menganggapnya sebagai beban.”
Dia tidak pernah menyesal telah melahirkan Xiao Bi. Meskipun jalannya penuh air mata dan peluh, namun setiap sedikit kemajuan yang ditunjukkan anaknya adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.
Menjadi Cahaya untuk Orang Lain
Kini, setelah melewati badai kehidupan yang begitu panjang, Ibu Xiao Bi tampil dengan senyum cerah seperti mentari pagi. Dia berharap dapat menjadi cahaya dan inspirasi bagi siapa pun yang sedang berada dalam masa-masa sulit.
Dia juga berharap, masyarakat tidak memandang anak-anak dengan keterlambatan tumbuh kembang (anak “malaikat”) dengan tatapan aneh, melainkan dengan kasih dan pengertian.
Dan bagi para orang tua yang memiliki anak “malaikat”, dia berpesan: “Ajak mereka keluar rumah. Biarkan mereka melihat dunia. Dan percayalah, mereka juga membawa cahaya dalam hidup kita.” (jhn/yn)


