6 Bom Penembus Bunker Hancurkan Fasilitas Nuklir Fordow, Netanyahu Ucapkan Selamat ke Trump: “Akan Mengubah Sejarah”

EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu, 21 Juni, mengumumkan bahwa militer AS telah berhasil menyerang tiga fasilitas nuklir di Iran. Dengan ini, AS secara langsung bergabung dalam aksi Israel untuk menghancurkan program nuklir Iran. Trump  memberikan pidato kenegaraan pada Sabtu malam pukul 22.00 waktu setempat.

Pembawa acara Fox News, Sean Hannity, mengungkapkan bahwa Trump secara pribadi memberitahunya rincian serangan tersebut. Militer AS menggunakan enam bom penghancur bunker, masing-masing seberat 15 ton, yang dijatuhkan menggunakan pesawat pengebom siluman B-2 untuk menghancurkan fasilitas nuklir Fordow.

Trump menulis dalam unggahannya di media sosial Truth Social: “Telah dilakukan serangan yang sangat sukses terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.”

Ia menambahkan bahwa seluruh pesawat AS telah meninggalkan wilayah udara Iran.

Trump menulis lagi: “Saya akan menyampaikan pidato kenegaraan malam ini pukul 10.00 malam di Gedung Putih mengenai operasi militer kami yang sangat berhasil di Iran. Ini adalah momen bersejarah bagi Amerika, Israel, dan dunia. Iran sekarang harus sepakat untuk mengakhiri perang ini.”

Iran Balas dengan Rudal: 16 Orang Luka-Luka di Israel

Setelah serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran, pada pagi 22 Juni, Iran menembakkan 30 rudal ke Israel, menyebabkan sedikitnya 16 orang luka-luka di wilayah Israel tengah. Beberapa bangunan di Tel Aviv rusak parah.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyerukan agar Iran kembali ke meja perundingan.

Stasiun TV nasional Iran mengkonfirmasi peluncuran rudal. Organisasi penyelamat Magen David Adom menyatakan, rudal-rudal itu melukai sedikitnya 16 orang yang harus dilarikan ke rumah sakit.

Media menayangkan kerusakan berat di wilayah tengah Israel, termasuk Tel Aviv. Militer Israel kemudian menyatakan telah melancarkan gelombang serangan baru terhadap target militer di Iran bagian barat, namun belum memberikan rincian lebih lanjut.

Trump Peringatkan Iran: “Jika Balas, Akan Dihantam Lebih Kuat”

Setelah pidato kenegaraan pada 21 Juni malam, Trump kembali menulis di Truth Social: “Setiap balasan dari Iran terhadap Amerika Serikat akan menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang terlihat malam ini.”

Dalam pidatonya, Trump memperingatkan: “Iran hanya punya dua pilihan: perdamaian atau kehancuran yang jauh lebih besar dari apa yang terjadi dalam delapan hari terakhir.”

Trump menambahkan: “Masih banyak target yang belum dihancurkan. Malam ini kami sudah menghantam target yang paling sulit dan paling mematikan. Jika perdamaian tidak segera tercapai, kami akan menyerang target-target lain dengan cepat dan presisi. Sebagian besar target itu bisa dihancurkan dalam hitungan menit.”

“Tidak ada tentara lain di dunia yang bisa melakukan apa yang kami lakukan malam ini,” ujarnya.

Trump Desak Iran untuk Damai atau Kembali Diserang

Dalam wawancara singkat dengan Reuters, Trump mengatakan: “Mereka harus segera mencari perdamaian. Jika tidak, mereka akan diserang lagi. Iran harus berhenti membalas sekarang juga.”

Netanyahu Ucapkan Selamat ke Trump: “Akan Mengubah Sejarah”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji keputusan Trump, menyatakan bahwa kekuatan militer AS telah ditunjukkan secara luar biasa dalam serangan tersebut.

Netanyahu mengatakan: “Keputusan berani Anda, menggunakan kekuatan besar dan adil Amerika untuk menyerang fasilitas nuklir Iran, akan mengubah sejarah.”

Ia juga mengatakan : “Dalam Operasi Singa Bangkit, Israel melakukan hal luar biasa. Namun, dalam serangan malam ini terhadap fasilitas nuklir Iran, performa Amerika benar-benar luar biasa. Tidak ada negara lain yang mampu melakukan ini. Sejarah akan mencatat tindakan Presiden Trump yang bertujuan untuk mencegah rezim paling berbahaya di dunia memiliki senjata paling berbahaya di dunia.”

Iran: Fasilitas Nuklir yang Diserang Tidak Mengandung Radiasi

Media pemerintah Iran mengutip pejabat penyiaran nasional Iran yang mengatakan bahwa fasilitas nuklir yang diserang tidak mengandung bahan radioaktif.

Respon dari Parlemen AS

Pemimpin minoritas DPR dari Partai Demokrat, Hakeem Jeffries, mengatakan: “Setiap konsekuensi buruk dari aksi militer sepihak Trump, ia harus bertanggung jawab penuh.”

Sebaliknya, pemimpin Partai Republik di Senat dan DPR menyatakan dukungan:

  • Pemimpin mayoritas Senat John Thune:

    “Rezim Iran ingin menghancurkan Amerika dan menghapus Israel dari peta. Mereka menolak semua jalur diplomatik. Obsesi para mullah terhadap senjata nuklir harus dihentikan. Saya mendukung Presiden Trump.”
  • Ketua DPR Mike Johnson:

    “Aksi militer ini adalah pengingat jelas bagi lawan dan sekutu kita: Presiden Trump menepati janjinya. Ia telah memberikan kesempatan bagi Iran untuk berunding, tapi Iran menolaknya.”
  • Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Jim Risch, menyatakan:
    “Ini bukan respons berkepanjangan. AS tidak akan mengirim pasukan darat ke Iran. Ini adalah serangan terbatas, presisi, dan diperlukan — dan berdasarkan laporan, sangat sukses.”

Pemimpin Partai Republik Telah Mendapat Briefing dari Gedung Putih Sebelum Serangan ke Iran

Menurut konfirmasi dari DailyWire, Pemimpin Mayoritas Senat AS dari Partai Republik, John Thune, dan Ketua DPR AS, Mike Johnson, telah menerima briefing dari Gedung Putih sebelum serangan AS terhadap Iran dilakukan.

Serangan Militer AS ke Iran: Reaksi Beragam dari Washington

Kabar mengenai serangan militer AS ke Iran menjadi sorotan berita terbesar saat ini dan memicu beragam tanggapan dari kalangan politik AS.

Senator Demokrat dari Pennsylvania, John Fetterman, yang dikenal sebagai pendukung kuat Israel, menulis di platform X:

“Seperti yang selalu saya yakini, ini adalah tindakan yang benar dari Presiden Amerika.”
“Iran adalah sponsor utama terorisme global dan tidak boleh diberi kemampuan nuklir.”

Namun, Anggota DPR dari Partai Republik asal Kentucky, Thomas Massie, menyatakan penolakan terhadap serangan tersebut di platform X:

“Ini bertentangan dengan konstitusi,”
“Dan intervensi militer AS ini melanggar prinsip kebijakan America First (Amerika Didahulukan).”

AS Sempat Menghubungi Iran Lewat Jalur Diplomatik Sebelum Serangan

Menurut laporan CBS News, Amerika Serikat telah menghubungi Iran melalui jalur diplomatik sebelum serangan dilakukan pada Sabtu.

AS menyampaikan bahwa serangan tersebut merupakan keseluruhan dari rencana militer mereka, dan bahwa AS tidak berniat melakukan perubahan rezim di Iran.

Sebelumnya, beberapa pejabat AS mengatakan kepada CBS bahwa Trump menolak opsi pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

CBS: Trump Memberi Peringatan kepada Israel Sebelum Serangan ke Iran

CBS melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah memberi peringatan kepada Israel sebelum serangan udara ke Iran dilaksanakan. Setelah misi pemboman selesai, Trump dan Perdana Menteri Israel Netanyahu melakukan panggilan telepon.

Setelah Serangan, Israel Tingkatkan Keamanan Publik

Setelah AS melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir utama Iran, Israel memperketat kebijakan keamanan di dalam negeri.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa pembatasan keamanan publik telah diperluas ke seluruh wilayah. Langkah ini mencakup:

  • Pelarangan kegiatan pendidikan
  • Pelarangan pertemuan massa
  • Pembatasan kegiatan di tempat kerja

Momen Mengguncang dalam Hubungan Iran-Israel

Laporan BBC menyebut serangan ini sebagai momen mengguncang dalam hubungan antara Iran dan Israel, dan berpotensi berdampak besar terhadap keamanan Amerika Serikat.

Diperkirakan sekitar 40.000 personel militer AS ditempatkan di kawasan tersebut, yang kini berada dalam status siaga tinggi.

Pada Jumat sebelumnya, kelompok bersenjata Houthi yang didukung Iran di Yaman mengancam bahwa mereka akan kembali menyerang kapal-kapal AS di Laut Merah jika AS melanjutkan intervensi militer terhadap Iran.

Kekhawatiran besar kini mencuat mengenai kemungkinan pembalasan Iran terhadap aset militer dan kepentingan AS di kawasan, serta bagaimana Iran akan membalas terhadap Israel.

Analis: Pejabat Gedung Putih Anggap Serangan Udara “Efektif”

Analis urusan global CNN, Brett McGurk, menyatakan bahwa pejabat Gedung Putih menganggap serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran sangat efektif.

“Mereka menganggap serangan ini sangat berhasil,” ujar McGurk, yang pernah menjabat posisi tinggi di bidang keamanan nasional di bawah Presiden George W. Bush, Barack Obama, Donald Trump, dan Joe Biden.

Ia menambahkan bahwa dirinya telah berbicara dengan seorang pejabat tinggi pemerintahan mengenai serangan udara tersebut.

Menurut McGurk, pejabat itu menekankan pentingnya dialog yang terus dilakukan antara AS, para pemimpin kawasan, dan Iran. Ia menyatakan:

“Ini adalah tentang program nuklir Iran. Ini bukan tindakan untuk memperluas konflik. Mereka tetap berharap bisa kembali ke jalur diplomasi.”

Sumber: Trump Harap Serangan Dorong Proses Diplomatik Baru

Menurut sumber yang mengetahui situasi ini, Presiden Trump berharap bahwa serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran akan mendorong Iran kembali ke meja perundingan. Saat ini, AS tidak memiliki rencana untuk melakukan serangan tambahan di wilayah Iran, karena Trump sedang mendorong para pemimpin Iran untuk ‘setuju mengakhiri perang ini’.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump semakin yakin bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran yang dijaga ketat adalah tindakan yang diperlukan, menyusul kebuntuan dalam diplomasi.

Meskipun masih berharap ada kemajuan diplomatik, militer AS yang berada di kawasan telah bersiap menghadapi potensi serangan balasan dari Iran.

Iran Akui: Fordow Diserang

Pejabat Iran secara resmi mengakui bahwa fasilitas nuklir Fordow telah terkena serangan udara.

Juru bicara manajemen krisis Provinsi Qom, Morteza Heydari, mengatakan: “Sebagian wilayah fasilitas nuklir Fordow terkena serangan udara.”

Iran Konfirmasi Serangan Dekat Dua Fasilitas Nuklir

Wakil Gubernur Provinsi Isfahan urusan keamanan, Akbar Salehi, menyatakan: “Suara ledakan terdengar di Natanz dan Isfahan. Kami melihat area dekat fasilitas nuklir Natanz dan Isfahan diserang.”

Ketiga lokasi serangan yang disebut Trump kini seluruhnya telah dikonfirmasi oleh pejabat Iran.

Israel dan AS “Koordinasi Penuh” dalam Serangan terhadap Fasilitas Nuklir Iran

Menurut Reuters, seorang pejabat Israel mengatakan kepada penyiar publik Kan bahwa Israel dan Amerika Serikat telah berkoordinasi secara penuh dalam melaksanakan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

Jet Siluman B-2 AS Diduga Ikut dalam Serangan

Masih menurut Reuters, seorang pejabat AS mengkonfirmasi bahwa pesawat pembom siluman B-2 ikut serta dalam serangan udara ke Iran.

Sebelumnya pada hari Sabtu, B-2 terlihat dipindahkan ke pangkalan militer AS di Guam, yang memicu spekulasi mengenai keterlibatannya.

Setiap pesawat B-2 mampu membawa dua bom penghancur bunker (bunker buster) berat 15 ton — bom penghancur bunker raksasa (Massive Ordnance Penetrator/MOP) — yang hanya dimiliki oleh Amerika Serikat.

Pentingnya Bom Penghancur Bunker AS

Mark Dubowitz, CEO dari Foundation for Defense of Democracies, mengatakan kepada Fox News: “Hanya Amerika yang mampu menghancurkan Fordow dari udara.”

Sementara itu, menurut Jonathan Ruhe, Direktur Kebijakan Luar Negeri di Jewish Institute for National Security of America (JINSA), bom penghancur bunker dirancang untuk menembus lapisan tanah, batu, dan beton sebelum meledak di bawah tanah.

Ia menjelaskan bahwa tujuan dari bom tersebut adalah menghancurkan target bawah tanah sepenuhnya, atau jika tidak bisa dihancurkan secara langsung, setidaknya meruntuhkan struktur bangunannya.

Apakah Batas Waktu Dua Minggu untuk Diplomasi yang Ditetapkan Trump Merupakan Sebuah Strategi?

Sejak Israel melancarkan serangan terhadap Iran, publik terus berspekulasi apakah Presiden Trump akan memerintahkan militer AS untuk ikut serta dalam serangan udara.

Penetapan batas waktu dua minggu oleh Trump untuk proses negosiasi diplomatik tampaknya merupakan sebuah strategi, mungkin untuk membuat para pejabat Iran percaya bahwa mereka masih memiliki waktu untuk keluar dari krisis melalui jalur diplomasi.

“Saya mungkin akan melakukannya (menyerang Iran), atau mungkin juga tidak,” kata Trump kepada wartawan awal pekan ini.

 “Tidak ada yang tahu apa yang ingin saya lakukan.”

Menurut analisis BBC, Trump benar — serangan udara pada hari Sabtu menunjukkan bahwa cara Trump menjalankan kebijakan luar negeri hanya diketahui oleh lingkaran dalamnya yang paling dekat. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang ia rencanakan. (Hui/asr)

Sumber : NTDTV.com 

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine