Konflik antara Israel dan Iran terus berlanjut. Sebagian rakyat Iran secara terbuka menyambut baik serangan terhadap rezim Iran, sementara yang lain mengecam serangan udara karena menyebabkan korban sipil. Menurut para ahli, penindasan jangka panjang oleh rezim Iran dan krisis ekonomi yang berkepanjangan telah memicu kemarahan rakyat yang sewaktu-waktu dapat meletus menjadi dorongan untuk menggulingkan pemerintahan.
EtIndonesia. Kini, konflik antara Israel dan Iran telah memasuki hari ke-10. Militer Israel menargetkan fasilitas nuklir dan peluncur rudal Iran. Beberapa komandan tinggi dan ilmuwan nuklir Iran dilaporkan telah dibunuh secara terarah, membuat rezim Iran terpuruk dalam krisis.
Shahin Nezhad, juru bicara Gerakan Kebangkitan Iran (Iranian Renaissance Movement), mengatakan bahwa peluang Israel untuk memperoleh dukungan rakyat Iran sangat kecil, dan untuk saat ini masih sulit menilai sejauh mana dukungan rakyat Iran terhadap Israel atau Amerika Serikat.
Dengan serangan udara Israel yang terus berlangsung, jumlah korban sipil pun terus meningkat. Lebih dari 400 orang tewas, meskipun Israel mengklaim bahwa target utama mereka adalah pejabat militer. Namun, beberapa rudal juga menghantam kawasan permukiman.
Shahin Nezhad mengatakan: “Jika serangan udara terus berlanjut tanpa hasil nyata atau tanpa menggulingkan rezim ini, rakyat Iran bisa saja berkata: ‘Oke, Israel hanya ingin menghancurkan kami, tetapi tidak menawarkan harapan masa depan yang lebih baik. Itu tidak baik.’”
Ia memprediksi dua kemungkinan skenario ke depan:
- Israel hanya menghancurkan fasilitas nuklir, yang dapat mengakibatkan rezim Iran semakin menindas rakyat secara brutal dalam jangka panjang;
- Atau, terjadi perubahan rezim di Iran.
Nezhad menekankan: “Jika dalam beberapa hari ke depan, Presiden Trump mengambil keputusan cepat, itu bisa sangat penting dan menentukan bagi nasib rakyat Iran.”
Ia meyakini bahwa beberapa tokoh dalam lingkaran elit pemerintahan Iran telah menjaga komunikasi dengan AS dan Israel, dan berusaha membentuk pemerintahan transisi. Namun ia juga menegaskan bahwa setiap perubahan rezim harus dilakukan tanpa campur tangan militer asing.
Nezhad menyebut bahwa Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir dari Dinasti Pahlavi yang kini tinggal di AS, mungkin menjadi tokoh kunci dalam proses transisi tersebut. Pada Senin, 23 Juni mendatang, Reza Pahlavi dijadwalkan menggelar konferensi pers di Paris.
Pada Jumat, 20 Juni, negara-negara Eropa mengadakan pertemuan selama empat jam dengan Menteri Luar Negeri Iran di Jenewa, namun belum membuahkan terobosan diplomatik. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memutuskan dalam dua minggu apakah militer AS akan ikut campur secara langsung. (Hui/asr)
Laporan oleh wartawan NTDTV: David Vives, Qiu Yue, dan Tian Yuan


