EtIndonesia. Sore hari itu, setelah bekerja di depan meja selama beberapa jam, aku mulai merasa lapar. Namun di kantor memang tidak ada makanan, dan aku memang bukan tipe orang yang suka menyimpan camilan. Lalu aku teringat, akhir pekan lalu aku sempat membawa anak-anak ke kantor untuk lembur. Saat itu aku sempat membawa biskuit dan buah-buahan. Biskuitnya sudah habis dimakan anak-anak, dan hanya tersisa satu buah apel yang dibiarkan di dalam lemari.
Aku pun mengambil apel itu dan mengamatinya. Karena sudah cukup lama disimpan, kulit apelnya mulai tampak sedikit keriput, tapi masih terlihat menggoda dan tampak lezat. Maka aku memutuskan untuk memakannya untuk mengganjal perut. Apelnya memang kehilangan sedikit kadar air, namun justru terasa lebih manis. Aku duduk di sofa, menikmati apel terakhir ini sambil melihat-lihat ponsel.
Tiba-tiba aku teringat, sore ini anak-anak akan datang ke kantor menemuiku sepulang sekolah. Aku menatap setengah apel yang masih tersisa di tanganku, lalu berpikir: Haruskah aku menyisakannya untuk mereka? Toh tidak ada makanan lain di kantor. Meski mereka biasanya tidak terlalu suka makan apel, aku tetap memotong sebagian kecil dan menaruhnya di dalam gelas kertas.
Beberapa saat kemudian, anak-anak pun datang. Aku memberikan potongan apel itu sambil berkata: “Cuma tersisa sedikit, kalau kalian tidak mau, nanti di rumah masih ada apel yang baru.”
Kukira mereka tak akan tertarik. Ternyata, mereka berdua mengangguk dan mau memakannya. Akhirnya, aku harus membagi potongan apel kecil itu menjadi dua bagian.
Mungkin inilah makna dari pepatah: “Barang langka menjadi lebih berharga.”
Anak-anakku tidak peduli apakah apelnya segar atau tidak. Mereka bersama-sama menikmati sepotong kecil apel itu dengan begitu antusias, sampai-sampai aku hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Kalau ini terjadi di masa sulit, mungkin pemandangan seperti ini biasa saja. Tapi di zaman sekarang, saat kehidupan sudah berkecukupan dan apel bisa dengan mudah didapat di rumah, hal seperti ini menjadi momen yang menghangatkan hati. Di kantor, sepotong kecil apel bisa terasa seperti hidangan istimewa nan mewah.
Anak-anak menikmati apel itu sambil bercanda dan tertawa riang. Melihat mereka begitu bahagia, aku sadar bahwa hidup sederhana ternyata bisa membawa kebahagiaan tersendiri. Ketika semua hal begitu mudah untuk didapat, kita justru cenderung mengabaikannya. Namun saat kondisi lebih terbatas, kita akan menghadapi segala sesuatu dengan cara pandang yang berbeda. Seperti apel ini—kalau berada di keranjang buah di rumah, mereka pasti lewat begitu saja tanpa memperhatikan. Tapi di kantor, saat apel hanya tersisa sepotong kecil, justru dianggap makanan istimewa.
Maka dari itu, kebahagiaan sejati bukanlah soal melimpahnya materi. Ketika dunia luar terasa sederhana dan hati kita tenang, apa yang sebenarnya kita butuhkan tidaklah banyak…


