Berbuat Baik kepada Sesama, Maka Berkah akan Datang Sendiri

EtIndonesia. Biasanya jika pergi ke pusat kota, aku lebih suka naik taksi. Soalnya, mencari tempat parkir di sana cukup sulit. Naik taksi memang praktis, tapi karakter para sopirnya tidak bisa ditebak. Untuk menghindari situasi yang tidak mengenakkan, aku biasanya tidak banyak bicara selama perjalanan. Kalau sampai bertemu sopir yang terlalu banyak bicara atau terlalu banyak tingkah, bisa-bisa jadi perjalanan yang bikin capek hati.

Kemarin, aku ada urusan di pusat kota. Setelah selesai, aku bersiap mencari taksi untuk pulang. Tapi waktu itu sedang jam pulang kerja—waktu yang rawan. Taksi kosong sangat jarang. Beruntung, aku tak perlu menunggu terlalu lama. Ada sebuah taksi yang berhenti tak jauh dari tempatku berdiri. Aku segera menghampiri. Ternyata penumpangnya masih membereskan barang-barangnya, jadi aku menunggu sebentar di luar mobil.

Sopir taksi melihatku, lalu mengangguk dari balik kaca. Aku merasa lega. Anggukannya itu berarti dia bersedia mengambil penumpang berikutnya—aku. Aku pun masuk ke dalam, duduk, dan memberitahunya tujuan. Tanpa banyak bicara, dia menyalakan mesin dan menjalankan mobil dengan tenang.

Hari itu cuacanya cukup panas. Aku mengambil tisu untuk mengelap keringat. Sopir itu mulai membuka percakapan dengan sopan, mengomentari cuaca hari itu. Mungkin dia menyadari logat bicaraku agak berbeda dari orang lokal, lalu mulai menjelaskan tentang karakter cuaca di daerah tersebut. Walau aku cukup akrab dengan kota ini, dari penjelasannya aku baru tahu bahwa suhu di berbagai distrik kota ini ternyata bisa berbeda-beda.

Pengetahuan umum tentang cuaca mungkin bisa didapat dari internet. Tapi hal seperti yang dibagikan sopir ini—detail kecil yang hanya diketahui penduduk lokal yang sudah lama tinggal dan menjalaninya—itulah yang membuat obrolan jadi menarik. Meski tidak banyak bicara, dia bisa memberi informasi yang bermanfaat. Aku pun jadi ikut menanggapi, sambil mengeluh bahwa saat jam sibuk seperti ini, memang susah sekali dapat taksi.

Sopir itu tertawa dan berkata: “Penumpang memang merasa sulit dapat taksi. Tapi kami para sopir juga tidak selalu gampang dapat penumpang.”

Dia melanjutkan: “Kita terbiasa memandang situasi dari sudut pandang masing-masing. Sebagai penumpang, saat tak bisa dapat taksi, pasti berpikir semua mobil penuh. Padahal sering juga kami mengemudi berkeliling dengan mobil kosong, tidak ada yang menghentikan.”

Aku tersenyum dan berkata: “Hari ini Anda cukup beruntung, penumpang baru saja turun, langsung saya yang naik. Benar-benar nyambung tanpa jeda.”

Sopir itu ikut tertawa: “Kalau kebetulan seperti ini memang paling enak. Tapi tidak bisa selalu begitu. Makanya harus tetap sabar dan pasrah saja.”

Begitulah obrolan kami sepanjang perjalanan. Tak terasa sudah sampai di tujuan. Aku segera membayar menggunakan aplikasi pembayaran digital. Setelah menyelesaikan transaksinya, aku bilang: “Sudah saya bayar ya.”

Tapi sopir itu belum melihat notifikasi pembayaran di sistemnya. Dia hanya tersenyum dan menjawab dengan tulus: “Nggak apa-apa, nggak masalah. Perjalanan pendek kok, anggap saja sekalian mengantar.”

Aku benar-benar tersentuh. Bertemu sopir yang begitu pengertian, hangat, dan berhati besar adalah keberuntungan tersendiri. Rasanya seperti takdir mempertemukan kami.

Aku membuka pintu untuk turun, dan tepat saat itu, dua orang penumpang baru berdiri di sisi jalan dan hendak naik. Sekali lagi, sopir ini tidak perlu repot mencari penumpang. Penumpang yang malah datang menghampiri. Di momen itu, aku merasakan betapa menakjubkannya yang disebut “kebetulan”. Di kota sebesar ini, penumpang bisa saja tidak bertemu dia—tapi nyatanya, mereka justru datang di saat yang sangat tepat.

Banyak hal dalam hidup tampaknya terjadi secara acak dan tidak teratur. Tapi saat kita memperhatikan lebih dalam, semuanya ternyata punya pola dan urutannya sendiri.
Mungkin karena sopir itu suka berbuat baik kepada orang lain, maka keberuntungan pun terus berdatangan kepadanya. Mungkin karena ia menyebarkan kebaikan dalam hidup, maka semesta pun terus mengatur kebetulan-kebetulan kecil yang indah baginya.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine