EtIndonesia. Setelah Amerika Serikat menyerang fasilitas nuklir utama Iran, dunia kini memantau dengan ketat bagaimana Iran akan merespons. Menurut laporan, Parlemen Iran telah menyetujui langkah untuk menutup Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi energi dunia. Pada 22 Juni, dua kapal tanker super terlihat berbalik arah di dalam selat, menandakan potensi terganggunya pelayaran komersial di kawasan tersebut.
Selat Hormuz adalah perairan yang berbatasan dengan Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab, lebarnya sekitar 25 km, dan merupakan jalur pengiriman hampir seperempat pasokan minyak dunia.
Serangan gabungan AS dan Israel pada 21 Juni menyebabkan kerusakan besar di Iran dan dianggap sebagai serangan militer terbesar dari negara-negara Barat terhadap Iran sejak Revolusi Islam tahun 1979.
Stasiun televisi pemerintah Iran, Press TV, melaporkan bahwa parlemen telah menyetujui langkah penutupan Selat Hormuz. Namun, implementasi keputusan ini masih memerlukan persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang dipimpin oleh pejabat yang ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut laporan Reuters, pemungutan suara ini tidak bersifat mengikat, karena keputusan akhir tetap ada di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Namun, bahkan sebelum hasil pemungutan suara diumumkan, para analis sudah memprediksi kenaikan harga minyak sebesar US$5.
Para pengamat memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz benar-benar ditutup oleh Iran, maka akan memutus pasokan minyak dari Teluk Persia, menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, merusak perekonomian global, dan memicu konflik dengan Armada Kelima Angkatan Laut AS yang saat ini bertugas menjaga keamanan selat tersebut.
Menurut laporan AFP, harga minyak melonjak tajam pada pembukaan perdagangan 22 Juni. Minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 4%, mencapai level tertinggi sejak Januari tahun ini, meskipun kemudian sedikit turun.
Hingga pukul 23:35 GMT tanggal 22 Juni, harga minyak Brent naik 2,4% menjadi US$78,83 per barel, dan WTI naik 2,5% menjadi US$75,66 per barel.
Mengutip data pelacakan kapal yang dikumpulkan oleh Bloomberg News, dalam situasi risiko yang meningkat: Kapal tanker Coswisdom Lake dan South Loyalty pada 22 Juni masuk ke Selat Hormuz namun tiba-tiba berbalik arah dan bergerak ke selatan, menjauh dari mulut Teluk Persia.
Coswisdom Lake terdaftar dan dimiliki oleh perusahaan di Hong Kong, sedangkan South Loyalty berlayar di bawah bendera Kepulauan Marshall, dengan data kepemilikan yang tidak disebutkan, namun tercatat terhubung dengan Perusahaan Penyewaan Kapal Internasional Hong Kong.
Menteri Luar Negeri AS sekaligus Penasihat Keamanan Nasional, Marco Rubio, pada 22 Juni mendesak pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk mencegah Iran menutup Selat Hormuz.
“Saya menyarankan pemerintah PKT agar segera menyerukan kepada Iran untuk tidak melakukan hal ini, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk pasokan minyak mereka,” katanya.
“Jika Iran melakukan hal ini, itu akan menjadi kesalahan besar lainnya. Itu akan sama saja dengan bunuh diri ekonomi. Kami memiliki berbagai opsi untuk menanggapi situasi ini, namun negara-negara lain juga harus mempertimbangkan. Dampaknya terhadap ekonomi mereka bisa jauh lebih parah daripada kami,” ujarnya.
Sebelumnya, para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak Iran untuk tidak mengambil tindakan yang dapat merusak stabilitas kawasan.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan tidak boleh lagi menjadi ancaman bagi keamanan regional. (Hui/asr)


