EtIndonesia. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth pada Minggu (22 Juni) di Pentagon menyatakan bahwa operasi pemboman terhadap Iran yang diberi nama “Midnight Hammer” (Palu Tengah Malam) telah meraih kesuksesan yang luar biasa dan menentukan, serta menghancurkan program nuklir Iran. Para analis menyebutkan bahwa keberhasilan operasi ini bergantung pada strategi militer menipu musuh, menciptakan pengalihan, dan penggunaan bom penembus bunker (drill bomb) secara cermat.
“Ini adalah operasi serangan terbesar dalam sejarah penggunaan pesawat pembom B-2 oleh Amerika Serikat, dan juga merupakan misi penerbangan terpanjang pesawat B-2 sejak aksi militer pasca-serangan 11 September 2001,” ujar Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Kane.
Menurutnya, pada hari Sabtu (21 Juni), militer AS meluncurkan Operasi Midnight Hammer, dengan pengerahan lebih dari 125 pesawat, termasuk pembom siluman B-2, pesawat pengisi bahan bakar, pesawat pengintai, dan jet tempur.
Zhou Ziding, pembawa acara “Detik Eksplorasi”, menjelaskan: “Yang paling mengesankan dari operasi militer AS kali ini adalah strategi militernya yang luar biasa: mengelabui langit dan laut, serta mengalihkan perhatian musuh. Kita tahu bahwa pada dini hari 21 Juni, dua gelombang pembom siluman B-2 lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Whiteman di Missouri.
Gelombang pertama berangkat sekitar pukul 00.00 tengah malam waktu setempat dan terbang menuju Timur untuk membombardir Iran.
Sementara itu, gelombang kedua berangkat sekitar 4,5 jam kemudian (pukul 04.30 pagi waktu setempat) dan terbang ke arah Barat, melewati California dan menuju ke atas Samudera Pasifik.”
Zhou menambahkan bahwa militer AS sengaja membocorkan informasi penerbangan dari gelombang kedua (yang menuju Pasifik), termasuk data pengisian bahan bakar di udara, untuk menarik perhatian publik dan intelijen musuh, sementara gelombang pertama yang sebenarnya melakukan pemboman berhasil menjalankan misinya dengan penyamaran tersebut.
Militer AS juga menyatakan bahwa dalam Operasi Palu Tengah Malam, untuk pertama kalinya mereka menggunakan bom penembus bunker raksasa GBU-57, dan total 14 bom dijatuhkan ke dua fasilitas nuklir Iran, yaitu:
- 12 bom ke fasilitas nuklir Fordow
- 2 bom ke fasilitas Natanz
Jenderal Dan Kane mengatakan: “Pada pukul 14.10 waktu AS Timur (pukul 02.10 waktu Iran), pesawat B-2 utama menjatuhkan dua bom penembus besar GBU-57 ke salah satu target di Fordow.”
Zhou Ziding menjelaskan bahwa fasilitas nuklir Iran dibangun di bawah lapisan granit alami, yang jauh lebih sulit ditembus dibanding beton biasa, sehingga militer AS kemungkinan menggunakan dua bom GBU-57 secara beruntun untuk menembus granit tersebut.
Ia menjelaskan lebih lanjut: “Dalam serangan terhadap Fordow, militer AS menggunakan 12 bom penembus bunker, dengan 6 kali sortie dari pembom B-2, artinya masing-masing B-2 membawa dua bom.
Berdasarkan citra satelit yang kita lihat hari ini, terlihat 6 lubang besar di permukaan tanah, ini mengindikasikan bahwa dua bom ditembakkan ke dalam satu lubang yang sama, di mana bom pertama menembus sedalam 20 hingga 30 meter, lalu bom kedua menembus lebih dalam lagi dan meledak di kedalaman yang diinginkan.”
Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Kane, menambahkan bahwa penilaian awal menunjukkan ketiga fasilitas nuklir bawah tanah Iran mengalami kerusakan dan kehancuran yang sangat parah. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


