Paska Serangan ke Iran, AS Tangkap 11 Warga Iran, Ada Eks Penembak Jitu dan Mantan Garda Revolusi

EtIndonesia. Pemerintah Amerika Serikat meningkatkan status waspada nasional dan memperketat pengawasan terhadap imigran ilegal asal Iran, menyusul eskalasi ketegangan dengan Teheran setelah serangan udara ke fasilitas nuklir Iran pada akhir pekan lalu. Dalam sebuah operasi terpadu selama dua hari yang dipimpin oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE) bersama Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) serta Federal Bureau of Investigation (FBI), otoritas berhasil menangkap 11 warga negara Iran tanpa izin tinggal di delapan negara bagian dan sembilan kota besar di seluruh AS.

Operasi Besar-besaran ICE Pasca Serangan Udara ke Iran

Penangkapan ini diumumkan langsung oleh pejabat tinggi DHS pada Selasa (24/6) pagi, dengan penjelasan bahwa operasi telah dimulai sejak Minggu malam. Fokus utama operasi kali ini adalah mendeteksi dan mencegah potensi ancaman terorisme yang berasal dari jaringan imigran ilegal, khususnya mereka yang memiliki kaitan dengan militer atau kelompok radikal Iran.

Dalam konferensi pers, Juru Bicara DHS menegaskan bahwa pergeseran prioritas ini merupakan respons langsung atas laporan intelijen terbaru, yang menunjukkan adanya peningkatan risiko dari kelompok imigran ilegal yang berasal dari negara-negara dengan status geopolitik sensitif, termasuk Iran.

Rangkaian Penangkapan dan Profil Para Tersangka

Dari sebelas orang yang diamankan, sejumlah kasus menonjol menyorot perhatian publik dan penegak hukum:

  • Karimi, seorang pria Iran berusia 30-an yang diketahui pernah menjadi penembak jitu di militer Iran, masuk ke AS menggunakan visa tunangan pada Oktober 2024. Setelah kedatangannya, Karimi tidak pernah mengurus status legalitasnya dan diketahui menetap secara ilegal di Alabama. Karimi akhirnya ditangkap ICE dan kini menunggu proses deportasi.
  • Nejad, pria Iran yang telah memiliki catatan kekerasan dalam rumah tangga, ditangkap di Texas dengan kepemilikan pistol 9mm berpeluru tajam. Padahal, dia sudah dinyatakan bersalah dan divonis deportasi, namun tetap tinggal secara ilegal hingga akhirnya diamankan kembali oleh aparat.
  • Bayat, warga Iran yang telah menerima perintah deportasi sejak 2005, tercatat memiliki dua kasus pidana narkoba serta satu kasus mengemudi tanpa SIM. Dia baru saja bebas dari penjara sebelum kembali ditangkap oleh petugas ICE.
  • Sahli, mantan anggota parlemen Garda Revolusi Iran yang kini berdomisili di Minnesota, mengakui bahwa dirinya memiliki hubungan dengan kelompok Hizbullah Lebanon. Meski sudah divonis deportasi, Sahli tetap bertahan secara ilegal di Amerika hingga akhirnya kembali diamankan.

Warga Amerika Juga Diamankan karena Melindungi Imigran Ilegal

Selain penangkapan warga Iran, operasi kali ini juga menyeret seorang warga negara Amerika Serikat, Vatanian, yang diduga sengaja memberikan perlindungan serta tempat tinggal bagi imigran ilegal asal Iran. 

Saat petugas ICE mencoba melakukan penangkapan, Vatanian sempat mengancam akan menembak aparat yang memasuki kediamannya. Setelah dikeluarkan surat perintah resmi, Vatanian beserta imigran ilegal yang ditampungnya akhirnya diamankan tanpa perlawanan.

Catatan Kriminal dan Potensi Ancaman Keamanan

Dari sebelas orang yang diamankan, lima di antaranya diketahui memiliki catatan kriminal di AS, seperti kasus narkoba, pencurian berat, dan kepemilikan senjata api ilegal. Sementara hingga kini belum ditemukan bukti kuat keterlibatan mereka dalam jaringan terorisme aktif, pihak ICE dan FBI menilai mereka tetap berpotensi menimbulkan ancaman signifikan terhadap keamanan publik.

“Keamanan nasional adalah prioritas utama. Tidak ada toleransi bagi siapa pun yang melanggar hukum imigrasi, apalagi yang terlibat tindak pidana atau memiliki kaitan dengan kelompok bersenjata di luar negeri,” tegas Menteri Keamanan Dalam Negeri, Kristi Noem.

Konteks Operasi dan Upaya Pencegahan Nasional

Operasi besar-besaran ini dilakukan tak lama setelah serangan udara Amerika Serikat ke tiga fasilitas nuklir Iran, yang memicu peningkatan status siaga keamanan nasional di seluruh negeri. Sejumlah laporan intelijen juga menyebutkan adanya kemungkinan upaya balas dendam terhadap kepentingan AS oleh individu atau kelompok yang memiliki afiliasi dengan rezim Iran.

DHS memastikan, koordinasi lintas lembaga dengan aparat penegak hukum di setiap negara bagian akan terus dilakukan untuk mencegah segala bentuk ancaman, baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung.

Respons Masyarakat dan Pemerintah

Penangkapan 11 warga Iran dan satu warga AS ini menuai respons beragam dari masyarakat. Sebagian mendukung langkah tegas pemerintah dalam menindak tegas pelanggar hukum imigrasi demi menjaga stabilitas nasional, sementara sebagian lain menyerukan perlunya pendekatan yang berimbang agar hak asasi manusia tetap terjaga.

Pihak ICE menegaskan, seluruh proses hukum terhadap para tersangka tetap mengedepankan prinsip due process serta memberikan hak yang sama dalam pembelaan diri di pengadilan imigrasi.

Penutup

Dengan situasi keamanan nasional yang masih penuh ketidakpastian, pemerintah Amerika Serikat menegaskan komitmennya dalam menjaga keselamatan warga negara serta mencegah segala bentuk infiltrasi atau ancaman dari luar negeri. Seluruh operasi dan investigasi akan terus berlanjut dengan memprioritaskan kolaborasi lintas lembaga dan transparansi kepada publik.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine