Fenomena Langka “Kubah Panas” Selimuti Pantai Timur AS, Puluhan Juta Orang Serasa Terpanggang

Musim panas baru saja dimulai, namun wilayah timur dan tengah Amerika Serikat sudah dilanda fenomena langka berupa “kubah panas” (heat dome) bertekanan tinggi. Saat berada di luar ruangan, orang-orang merasa seperti berada di dalam “air fryer udara”—pengap dan sangat panas. Pada puncaknya, suhu yang dirasakan (indeks panas) bahkan melebihi 110°F (43°C). Gelombang panas ini diperkirakan akan berlangsung selama seminggu, dan suhu tinggi yang terus-menerus di kota-kota seperti New York dan Philadelphia diprediksi akan memecahkan rekor tertinggi dalam lebih dari satu dekade.

EtIndonesia. Pada pekan ini, wilayah timur dan tengah AS sedang diselimuti fenomena cuaca ekstrem yang berbahaya—kubah panas (heat dome)—yang menyebabkan suhu di banyak tempat melampaui 100°F (37,8°C), tertinggi dalam lebih dari 10 tahun terakhir. Menurut situs resmi pemerintah tentang kesehatan akibat panas, wilayah dari Chicago hingga Pittsburgh, serta sebagian besar North Carolina dan New York, berada dalam kategori risiko panas tertinggi.

Para ahli meteorologi menjelaskan bahwa “kubah panas” terjadi ketika sistem tekanan tinggi di lapisan atas atmosfer bertahan lama di satu tempat, seperti tudung yang memerangkap udara panas di bawahnya dan menghalangi masuknya udara dingin. Akibatnya, suhu di bawah “kubah” terus meningkat dan menyebabkan cuaca panas ekstrem selama berhari-hari.

Berdasarkan prakiraan cuaca, sekitar 245 juta orang di seluruh AS mengalami suhu di atas 90°F (32°C) pada hari Senin (23 Juni). Pada hari Selasa (24 Juni), suhu panas mencapai puncaknya di wilayah timur laut, dengan 33 juta orang menghadapi suhu di atas 100°F, dan karena kelembaban yang tinggi, indeks panas di beberapa wilayah bahkan bisa melampaui 110°F.

Para ahli mencatat bahwa New York belum pernah mencatat suhu 100°F sejak tahun 2011, dan Philadelphia juga belum mengalami suhu di atas 100°F selama beberapa hari berturut-turut sejak 2012. 

Pada Senin sore, suhu di pusat kota Baltimore melonjak hingga lebih dari 90°F, menyebabkan puluhan orang memadati pusat bantuan untuk berteduh. Beberapa pusat perbelanjaan lokal terpaksa tutup lebih awal karena kerusakan AC, dan berbagai kegiatan luar ruangan dibatalkan karena panas ekstrem.

Seorang pakar cuaca memperingatkan bahwa jika gelombang panas ini terjadi di akhir musim panas, tubuh manusia mungkin sudah mulai beradaptasi dengan suhu tinggi, sehingga risikonya tidak akan sebesar ini. Namun, gelombang panas kali ini datang segera setelah titik balik musim panas (summer solstice), sehingga memberikan tekanan lebih besar terhadap kesehatan manusia. (Hui/asr)

Laporan dari Liu Jiajia, reporter NTDTV, dari Amerika Serikat.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine