Mereka menemukan 20 virus baru di ginjal kelelawar, termasuk dua henipavirus baru yang berpotensi menular ke manusia.
Para peneliti dari Tiongkok dan Australia menemukan 20 virus baru pada kelelawar dari Tiongkok barat daya, termasuk dua henipavirus yang berkerabat dengan virus mematikan Hendra dan Nipah, menurut sebuah studi yang diterbitkan pada Selasa (24/6/2025).
Sebanyak 22 virus—termasuk 20 yang tergolong baru—ditemukan setelah para peneliti meneliti ginjal dari 142 kelelawar yang dikumpulkan antara tahun 2017 dan 2021 dari lima kota atau kabupaten di Provinsi Yunnan, Tiongkok bagian barat daya. Para peneliti juga menemukan dua spesies bakteri yang “sangat melimpah,” termasuk satu spesies yang baru ditemukan, menurut studi tersebut.
“Dalam studi ini, kami melaporkan deteksi pertama dari dua genom henipavirus baru dari ginjal kelelawar di Tiongkok, salah satunya merupakan kerabat terdekat yang diketahui dari henipavirus patogen hingga saat ini,” demikian isi laporan tersebut.
Studi tersebut menyebutkan Henipavirus baru ini berkerabat dekat dengan virus Nipah (NiV), virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan radang otak pada manusia; serta virus Hendra (HeV), yang menyebabkan sejumlah wabah mematikan pada manusia dan kuda.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), tingkat kematian akibat infeksi NiV berada di kisaran 40 hingga 75 persen, dan “belum ada pengobatan yang berlisensi” untuk saat ini.
CDC menyatakan bahwa infeksi HeV pada manusia masih jarang terjadi, dengan hanya tujuh kasus yang pernah dilaporkan.
CDC juga menyebutkan bahwa obat antivirus ribavirin telah terbukti efektif melawan NiV dan HeV dalam eksperimen laboratorium, namun belum jelas seberapa efektif obat tersebut dalam mengobati manusia.
Para penulis studi memperingatkan adanya potensi penularan henipavirus baru ini ke manusia atau ternak karena virus ditemukan pada kelelawar yang tinggal di kebun buah di dekat permukiman warga.
Menurut para penulis, kelelawar berpotensi menularkan virus ke manusia dengan mencemari buah-buahan melalui air kencing mereka.
Dari seluruh 22 virus yang ditemukan, sembilan di antaranya diperkirakan mampu menginfeksi mamalia. Para penulis mencatat bahwa virus-virus yang berasosiasi dengan mamalia yang ditemukan di ginjal kelelawar—organ yang sebelumnya jarang diperiksa—berbeda dengan virus-virus yang ditemukan di jaringan rektum kelelawar yang sama.
Para penulis menyatakan bahwa temuan ini menyoroti pentingnya untuk meneliti berbagai organ dalam tubuh kelelawar, dan bahwa “penelitian di masa depan sebaiknya mencakup pengambilan sampel dari ginjal dan urin untuk mengevaluasi secara menyeluruh pelepasan patogen dan risiko penularan yang terkait.”
Studi ini diterbitkan di jurnal PLOS Pathogens, dan dilakukan oleh para peneliti Tiongkok dari Laboratorium Kunci Provinsi Yunnan untuk Pengendalian dan Pencegahan Zoonosis—lembaga afiliasi dari Institut Pengendalian Penyakit Endemik Yunnan milik negara—serta Laboratorium Kunci Nasional untuk Pelacakan dan Peramalan Cerdas Penyakit Menular, yang berafiliasi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok; Universitas Fudan, Universitas Sun Yat-sen; dan dua ilmuwan dari Universitas Sydney, Australia. (asr)
Sumber : Theepochtimes.com


