EtIndonesia. Situasi di Timur Tengah tengah mengalami perubahan besar. Dalam kondisi ini, bagaimana sikap Amerika Serikat mengirimkan sinyal ke Partai Komunis Tiongkok (PKT)? Apakah keterlibatan jangka panjang AS dalam konflik di Timur Tengah akan menguntungkan Partai PKT? Dan jika rezim di Iran tumbang, apa dampaknya bagi AS, sekutunya, dan juga PKT? Wartawan NTD mewawancarai penasihat kebijakan keamanan nasional dari lembaga Polaris National Security, Yousif Kalian, untuk menyimak pandangannya.
Steve Lance (Wartawan NTD): “Yousif, selamat datang.”
Yousif Kalian (Penasihat Kebijakan Keamanan Nasional Polaris): “Terima kasih atas undangannya.”
Steve Lance: “Saat ini AS sedang menghadapi konflik di Timur Tengah. Bagaimana cara memastikan bahwa ancaman dari PKT tidak terabaikan?”
Yousif Kalian : “PKT sebenarnya sedang memantau dengan saksama dukungan AS terhadap Israel, guna menguji bagaimana respons AS terhadap isu Taiwan. PKT tahu bahwa Israel adalah sekutu terdekat AS di Timur Tengah. Jika AS berdiam diri ketika Israel diserang oleh Iran, itu akan menjadi sinyal bagi PKT bahwa menyerang Taiwan mungkin tidak akan mendapat balasan besar. Oleh karena itu, membela Israel adalah sinyal kuat bahwa kekuatan pencegahan AS masih sangat besar, baik di Taiwan maupun di wilayah lainnya di dunia.”
Steve Lance: “Jika AS terlibat dalam urusan Timur Tengah dalam jangka panjang, apakah itu akan menguntungkan PKT karena ‘pengalihan strategis’? Seperti yang dikatakan beberapa orang, saat perang melawan teror terjadi, PKT menyusup ke AS dan banyak negara lain.”
Yousif Kalian : “Saya melihat Iran kini menjadi kunci strategi PKT, tujuannya adalah membentuk poros anti-AS bersama Rusia. Iran yang memiliki senjata nuklir hanya akan memperburuk ancaman dari PKT, memungkinkan Beijing mengendalikan kawasan yang sangat penting bagi perdagangan global, energi, dan kepentingan keamanan nasional AS. Kita telah melihat PKT menginvestasikan miliaran dolar di Teheran melalui proyek Belt and Road, memperdalam hubungan energi, dan melanggar sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran. Suka atau tidak suka, konflik ini saling terkait. Menurut saya, ini bukan sekadar pengalihan strategis, ini bagian dari strategi besar mereka.”
Steve Lance: “Seberapa dalam hubungan antara Iran dan PKT? Jika terjadi perubahan rezim di Iran, apa dampaknya bagi Tiongkok?”
Yousif Kalian : “PKT telah menginvestasikan miliaran dolar dalam ekspor minyak Iran. Kedua negara juga bekerja sama di bidang teknologi, dan PKT membangun banyak infrastruktur di Iran. Hubungan mereka makin erat, menandatangani banyak perjanjian, dan dalam kebijakan luar negeri pun makin sejalan. Beijing jelas sedang menopang rezim ini. Jadi jika rezim ini melemah atau akhirnya tumbang, itu akan sangat merugikan kepentingan Beijing di Timur Tengah. Karena itu akan memperkuat kekuatan dan pengaruh AS, serta menghancurkan pengaruh Iran di Irak, Lebanon, dan wilayah lain melalui para proksinya. Tatanan kawasan akan lebih menguntungkan AS dan para sekutunya, termasuk mitra di kawasan Teluk. Semua ini tentu merugikan PKT.”
Steve Lance: “Jika perubahan rezim di Iran benar-benar terjadi, bagaimana itu bisa terjadi? Apa pandangan rakyat Iran? Apa sikap mereka terhadap pergantian pemerintahan?”
Yousif Kalian : “Kita tahu bahwa rakyat Iran tidak menyukai rezim yang sekarang. Ada jajak pendapat yang menunjukkan bahwa hampir 75% rakyat Iran menolak sistem Republik Islam saat ini, dan sekitar 80% ingin membentuk pemerintahan baru, bukan hanya sekadar reformasi.”
“Pangeran Iran sebelumnya juga telah beberapa kali menyatakan bahwa ia memiliki kontak dengan militer dan pejabat pemerintah Iran. Jadi untuk saat ini, dia mungkin menjadi tokoh yang paling diterima dan paling mungkin untuk memimpin pemerintahan transisi di Iran.”
Steve Lance: “Youssef Kalilian, terima kasih atas wawasan Anda. Terima kasih.” (Hui/asr)


