Baru-baru ini, Kabupaten Rongjiang di Provinsi Guizhou, Tiongkok, dilanda banjir besar. Tim penyelamat menemukan seekor anjing putih besar yang terjebak di tengah banjir. Meskipun dua kali didatangi perahu penyelamat, anjing itu menolak naik dan tetap bertahan di tempat semula, dengan setia menunggu kedatangan tuannya.
EtIndonesia. Pada 24 Juni, banjir besar menerjang Kabupaten Rongjiang dan Congjiang di Guizhou, Tiongkok. Tiga sungai di wilayah Rongjiang meluap hebat dan airnya meluber ke kota. Banyak area kota terendam air.
Video yang beredar di internet menunjukkan derasnya aliran air di jalanan Rongjiang. Toko-toko di lantai satu seluruhnya terendam, dan beberapa orang terjebak di lantai dua.
Tim penyelamat masuk ke kota menggunakan perahu untuk mengevakuasi warga yang terjebak. Seorang anggota tim penyelamat perempuan merekam video dan menceritakan bahwa saat mereka menyusuri daerah banjir, mereka melihat seekor anjing besar yang terjebak. Namun, anjing itu dua kali menolak untuk naik ke perahu penyelamat dan tetap menunggu di tempat yang sama.
“Saat kami melihat anjing itu, kami langsung ingin menyelamatkannya, tapi anjing itu tidak mau naik perahu. Saat kami kembali untuk kedua kalinya, posisinya sangat dekat, kami tetap ingin menyelamatkannya, tapi ia tetap tidak mau naik perahu,” kata petugas penyelamat wanita itu.
6月24日,貴州狗狗被困洪水不要救援,只等主人来接。 pic.twitter.com/qVbReXXcwm
— ying tang (@yingtan04410735) June 26, 2025
“Lalu, ketika kami berbalik arah lagi, kami melihat tuannya datang menyelamatkan dia,” katanya.
Dalam video terlihat seorang pria berusia sekitar 30 tahun mendayung perahu kecil menembus banjir. Seekor anjing putih besar duduk di ujung perahu. Pria itu melambaikan tangan ke arah tim penyelamat sebagai tanda terima kasih.
Kesetiaan anjing putih ini yang rela menunggu tuannya di tengah banjir membuat banyak netizen tersentuh. Mereka menjulukinya sebagai “Hachiko versi nyata”:
- “Dia tahu kalau dia pergi, tuannya tidak akan bisa menemukannya.”
- “Pasti tuannya bilang: ‘Nanti aku balik jemput kamu, jangan takut, anjing baik!’”
- “Dia yakin tuannya akan kembali. Dan tuannya tahu dia akan menunggu.”
- “Yang satu percaya dan menunggu, yang satu tidak mengecewakan. Cinta keduanya sangat mengharukan.”
- “Yang satu penuh kasih, yang satu penuh kesetiaan.”
Pada 24 Juni, hujan deras mengguyur Provinsi Guizhou. Beberapa bendungan melepaskan air, menyebabkan tujuh sungai termasuk Duliu, Liu, dan Rong meluap dan melampaui ambang batas siaga banjir. Kabupaten Rongjiang, Congjiang, serta beberapa daerah di Kota Liuzhou, Guangxi seperti Sanjiang dan Rong’an, juga diterjang banjir.
Kabupaten Rongjiang adalah salah satu wilayah terdampak paling parah, dengan seluruh kota terendam. Seorang warga bernama Wang mengatakan kepada NTD bahwa dalam waktu setengah jam sejak pagi hari, air sudah meluap ke dalam kota:
Wang berkata: “Hanya butuh sekitar sepuluh menit, air sudah sampai lantai dua. Di kota tua air naik sampai lantai empat, di kota baru sekitar lantai dua. Kami tidak tahu harus evakuasi ke mana, hanya bisa naik ke lantai yang lebih tinggi. Setelah itu listrik dan air padam, dan tidak ada jaringan internet.”
Beberapa netizen juga mengabarkan kepada Epoch Times bahwa banjir telah mencapai lantai tiga di beberapa tempat, dan situasinya sangat menakutkan. Beberapa daerah bahkan tampak seperti lautan.
Seorang netizen lokal dengan nama samaran Tian Ming mengatakan: “Jalan Changba di Rongjiang paling parah terendam. Saya tidak bisa menghubungi orang tua saya, di sana mati listrik dan air, dan air sudah naik sampai lantai tiga.”
Warga lainnya, dengan nama samaran Wang Heng, mengatakan: “Air naik sangat cepat karena bendungan di daerah Sandu tidak mampu menahan air dan harus membuangnya. Dalam kondisi normal saja, Rongjiang tidak sanggup menampung aliran air seperti itu, apalagi kalau sedang dibuang air dari bendungan.”
Ia menambahkan bahwa kini air sudah mulai surut: “Sekarang hujan sudah berhenti, tapi pemerintah belum mengumumkan jumlah korban atau kerugiannya. Sepertinya ada korban, tapi pemerintah tidak melaporkannya, jadi kami tidak berani bilang.” (Hui/asr)
Laporan oleh jurnalis Luo Tingting / Editor: Wen Hui


