Menhan AS Pete Hegseth Kecam Media Kiri karena Sebar Fitnah, Jenderal Dan Caine Ungkap Detail Serangan terhadap Fasilitas Nuklir

EtIndonesia. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth bersama Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal, Dan Caine menggelar konferensi pers, pada Kamis  (26 Juni) pagi pukul 08.00, untuk pertama kalinya mengungkap detail mengejutkan tentang serangan mendadak militer AS ke fasilitas nuklir Iran. 

Di awal konferensi, Hegseth dengan tegas mengecam sejumlah media karena menyebarkan laporan yang tidak akurat dan mencemarkan keberhasilan Operasi “Palu Tengah Malam”, serta mencoba menutupi pengorbanan besar para prajurit. Sementara itu, Jenderal Kane secara terbuka memaparkan rincian teknologi militer seperti sistem pertahanan rudal Patriot dan bom penghancur bunker super yang digunakan dalam serangan udara ke fasilitas nuklir Fordow.

Dalam rekaman simulasi yang dipublikasikan, terlihat ledakan hebat yang disusul kilatan cahaya menyilaukan—menampilkan bagaimana militer AS menjatuhkan bom GBU-57 penghancur bunker raksasa ke fasilitas nuklir Iran, dan bagaimana militer menjalankan salah satu operasi paling kompleks dan presisi dalam sejarah.

Sebelum video diputar, Menhan Hegseth mengecam sejumlah media karena, menurutnya, bermotif politik dan mencoreng keberhasilan operasi militer ini. Mereka disebut mengutip laporan awal dari Badan Intelijen Pertahanan (DIA) yang bocor, dan menyebarkannya secara tidak utuh untuk membangun persepsi bahwa serangan tersebut tidak efektif.

“Berapa banyak artikel yang membahas betapa sulitnya menerbangkan pesawat selama 36 jam? Apakah MSNBC pernah memberitakannya? Fox pernah memberitakannya? Ada yang pernah? Apakah sulit menulis dua atau tiga artikel tentang betapa sulitnya menembak jatuh drone dari F-15, F-16, F-22, atau F-35? Seberapa rumit sistem rudal Patriot? Atau pengisian bahan bakar di udara? Mengapa kalian tidak memberitakan betapa kompleks dan presisinya misi ini?,” ujarnya. 

“Wartawan seperti kalian menentang Trump seakan-akan itu sudah tertanam dalam DNA dan darah kalian. Kalian tidak ingin dia berhasil, jadi kalian pun menolak mengakui keberhasilan operasi ini.”

Hegseth menegaskan kembali bahwa operasi tersebut sukses dan berhasil menghentikan perang 12 hari antara Iran dan Israel. Ia mengatakan, penilaian dari Israel, Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan CIA menyimpulkan bahwa fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan, kemampuan nuklir mereka lumpuh atau mundur bertahun-tahun ke belakang.

“Direktur CIA Ratcliffe mengeluarkan pernyataan tadi malam,” kata Hagerseth. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan sumber informasi paling akurat dan dapat dipercaya dalam sejarah, beberapa fasilitas nuklir kunci Iran telah dihancurkan dan akan butuh bertahun-tahun untuk membangunnya kembali.

Sementara itu, Jenderal Caine mengungkapkan lebih banyak detail mengejutkan. Ia mengatakan militer AS telah meneliti fasilitas nuklir Fordow selama 15 tahun, hingga sangat memahami geologi batuan, sistem ventilasi, aliran listrik, dan sistem kendali lingkungan di dalamnya. Meski beberapa hari sebelum serangan Iran mencoba menyegel fasilitas bawah tanah dengan beton tebal, termasuk lubang ventilasi utama dan saluran samping, AS telah mengetahui semuanya secara detail.

“Kami mempekerjakan banyak doktor untuk mengembangkan bom penghancur bunker, melakukan pemodelan dan simulasi. Karena itu, secara diam-diam kami menjadi pengguna superkomputer terbesar di negara ini,” ujarnya. 

Pada 21 Juni, pesawat pembom siluman B-2 milik AS menjatuhkan 14 bom penghancur bunker ke tiga fasilitas nuklir utama Iran. Bom pertama digunakan untuk menghancurkan penutup beton, bom kedua hingga kelima menembus poros utama dengan kecepatan lebih dari 1.000 kaki per detik dan meledak di dalam target. Bom keenam berfungsi sebagai cadangan jika salah satu bom sebelumnya gagal.

“Hari Jumat itu, kru pesawat berpamitan pada keluarga sebelum berangkat kerja, tidak tahu apakah akan kembali. Baru Sabtu malam keluarga mereka diberitahu soal operasi ini. Hari Minggu, ketika jet-jet itu kembali ke Pangkalan Udara Whiteman, keluarga mereka sudah menunggu di sana, bendera berkibar, dan air mata mengalir. Saat mengingatnya, saya masih merinding,” katanya. 

Hegseth juga menjelaskan :  “Banyak pencapaian prajurit kita yang berani telah tertutup oleh kebencian media, oleh upaya kalian menyebar kebocoran dan memelintir fakta, menyatakan bahwa operasi ini gagal. Itu tidak bertanggung jawab.”

 “Mengapa kita tidak memberi penghormatan pada mereka? Mengapa tidak membicarakan bahwa yang membuat Amerika luar biasa adalah karena kita punya kemampuan seperti ini?” (Hui/asr)

Laporan oleh wartawan NTD, Wang Ziyi, dari Amerika Serikat

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine