EtIndonesia. Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant menyatakan bahwa Israel pernah berniat untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, namun belum menemukan kesempatan yang tepat. Ia juga menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak memerlukan izin dari Amerika Serikat.
“Kami ingin melenyapkan Khamenei, tetapi belum ada kesempatan untuk bertindak,” ujar Gallant dalam wawancara dengan saluran TV Channel 13 Israel pada (26/6/2025).
Ia menyebut Khamenei takut dibunuh, sehingga memilih “bersembunyi di kedalaman bawah tanah” dan memutus kontak dengan komandan baru Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dalam serangan gelombang pertama, Israel berhasil membunuh komandan tertinggi Garda Revolusi Iran serta beberapa ilmuwan nuklir.
Gallant juga menekankan bahwa Israel tidak perlu meminta izin dari AS jika memutuskan untuk menghabisi Khamenei.
Khamenei adalah pemimpin tertinggi spiritual dan politik Iran. Setelah konflik Iran-Israel meletus, Presiden AS Donald Trump sempat mengingatkan bahwa militer AS mengetahui lokasi persembunyian Khamenei, namun tidak bermaksud membunuhnya untuk saat ini.
Pada 13 Juni, Israel melancarkan serangan kejutan terhadap berbagai fasilitas nuklir dan target militer Iran, menewaskan sejumlah perwira tinggi IRGC dan ilmuwan nuklir penting. Israel menyatakan bahwa Iran hampir memproduksi beberapa bom nuklir, yang dianggap sebagai ancaman serius bagi Israel dan dunia.
Iran kemudian membalas dengan serangan terhadap Israel. Khamenei bahkan mengancam akan menggunakan senjata nuklir. Namun, peristiwa mengejutkan terjadi ketika pada 21 Juni, Presiden Trump memerintahkan militer AS untuk membombardir tiga fasilitas nuklir Iran, dan kemudian mengumumkan bahwa ancaman nuklir Iran telah berhasil dihancurkan.
Setelah itu, Iran meluncurkan rudal secara simbolis ke pangkalan militer AS di Qatar, tetapi intervensi militer AS justru memicu gencatan senjata antara Israel dan Iran.
Trump menyatakan bahwa Iran kini bersikap bersahabat terhadap AS. Dalam konferensi pers KTT NATO pada 25 Juni, Trump mengatakan bahwa sebelum Iran menyerang pangkalan militer AS, mereka telah berkomunikasi dengan pihak AS, bahkan berdiskusi tentang waktu serangan dan mendapat persetujuannya.
“Mereka bilang, ‘Kami akan menembakkan rudal. Jam 1 siang, boleh?’ Saya bilang oke, semua orang di pangkalan sudah dievakuasi,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa Iran telah memberitahu militer AS untuk mengevakuasi pasukan lebih dulu, sehingga tidak ada korban.
“14 rudal mereka semua berhasil kami tembak jatuh,” kata Trump. (Hui/asr)
Laporan oleh Luo Tingting | Wen Hui – NTDTV.com


