Tidak Suka Melihat Orang Lain Bahagia? Hati-hati, Rasa Iri Bisa Menghancurkanmu

EtIndonesia. Rasa iri bagaikan ular berbisa—dia meracuni jiwa dan merusak hubungan sosial. Meski menyakitkan untuk diakui, kenyataannya, rasa iri hidup dalam alam bawah sadar setiap orang. Untuk menaklukkannya, kita harus membuka hati, merangkul keindahan dunia, dan mengembangkan empati terhadap sesama, agar dapat keluar dari ketimpangan emosi yang ekstrem.

Kapan Seseorang Merasa Iri?

Setidaknya ada empat faktor utama yang memicu rasa iri:

1. Kedekatan hubungan dengan orang yang lebih baik dari kita.

2. Orang yang dulunya berada di bawah kita, kini justru melampaui kita.

3. Keberhasilan di bidang yang sangat kita pedulikan justru diraih orang lain.

4. Ketidakmampuan diri kita secara terang-terangan diungkap oleh orang lain.

Jika keempat faktor ini muncul bersamaan, rasa iri bisa tumbuh sangat kuat dan membara.

Semakin Dekat, Semakin Iri

Sebagai contoh, tidak banyak karyawan kantoran yang benar-benar iri kepada Bill Gates atau Mark Zuckerberg. Juga, seorang pegawai rendahan tidak akan terlalu terusik bila melihat manajer senior naik jabatan menjadi direktur—karena jarak sosial dan kemampuan mereka memang jauh.

Namun, bila yang mendapat promosi adalah rekan kerja seangkatan atau bahkan bawahan, kita bisa mulai merasa:

“Kok dia bisa? Padahal aku lebih lama kerja di sini!”

Hal ini berlaku juga di klub olahraga, ketika siswa tahun pertama menjadi bintang utama, padahal kita yang sudah di tingkat tiga justru tak menonjol—emosi kita bisa terguncang hebat.

Bagi wanita, mungkin tak akan iri dengan supermodel atau Putri Kate dari Inggris, karena mereka terlalu jauh dari dunia kita. Tapi, ketika rekan kerja perempuan mendapat perhatian lebih dari rekan pria, rasa tak nyaman bisa muncul.

Industri hiburan pun serupa: saat ada anggota baru dalam grup idola yang langsung naik daun, sulit bagi anggota lama untuk tidak merasa terancam.

Semakin dekat jaraknya, dan semakin “biasa” orang itu sebelumnya, semakin besar rasa iri yang muncul.

Namun, jika keberhasilan orang lain berada di bidang yang tidak kita minati, biasanya kita tidak akan merasa iri.

Misalnya:

·        Rekan kerja menang lomba binaraga, padahal kita tidak suka olahraga?
→ Kita akan dengan tulus berkata: “Keren juga kamu!”

·        Teman membeli mobil Ferrari, padahal kita tak peduli soal mobil?
→ Mungkin kita hanya berpikir: “Wah, boros juga ya.”

Sebaliknya, jika itu berkaitan dengan hal yang kita pedulikan, maka komentar kita bisa berubah:

·        “Apa-apaan sih, cuma dia doang.”

·        “Masih muda gitu udah sok-sokan.”

·        “Ah, cewek doang!”

Kenapa Kita Tidak Iri pada Orang yang Menang Undian?

Karena menang undian bukan hasil dari kemampuan, maka kita tidak merasa terganggu.

·        “Wah, hoki banget!”

·        “Aku pengen juga, sih.”

Tapi tidak sampai berpikir:

“Aku harus menjatuhkan dia.”

Namun beda cerita jika rekan kerja sukses membangun bisnis sendiri. Ini menyangkut usaha dan kemampuan, dan kalau kita akui keberhasilannya, kita merasa harga diri kita terancam. Maka muncullah komentar seperti:

“Ah, itu cuma hoki!”
“Tunggu aja, pasti bangkrut juga.”

Ada Orang yang Selalu Iri, Bahkan ke Orang Tak Dikenal

Beberapa orang memiliki watak yang iri secara ekstrem. Bahkan saat melihat orang asing di media sosial terlihat bahagia, mereka langsung menulis komentar sinis—bukan karena benci secara pribadi, tapi sekadar melampiaskan frustrasi.

Mereka berkata:

“Semoga keluargamu celaka!”
“Cih, norak banget pamer gitu!”

Waspadai! Iri Bisa Membuatmu Kehilangan Akal Sehat

Ada yang saking dikuasai rasa iri, sampai meninggalkan komentar jahat dan mengutuk orang lain di media sosial. Bagi orang normal, ini terdengar kekanak-kanakan dan menjijikkan.

Namun, orang yang tenggelam dalam rasa iri tak lagi berpikir jernih. Bahkan mereka menganggap diri benar, seolah-olah menyuarakan keadilan.

Bahaya dari iri hati adalah: dia membutakan logika dan menjerumuskan seseorang ke dalam penderitaan.

Ketika hati dipenuhi dengki, maka:

·        Pekerjaan terganggu.

·        Hidup tidak bahagia.

·        Pikiran terus-menerus ingin menjatuhkan orang lain.

·        Emosi tidak stabil.

Dan yang lebih parah:

Pikiran negatif akan menarik hal-hal buruk.

Karena mereka tidak memikirkan hal-hal baik, maka yang datang hanyalah masalah.

Penutup: Jika Iri Datang, Kendalikan Sebelum Menghancurkan hidupmu

Jika suatu hari kamu merasakan:

·        Ketidaksukaan mendalam terhadap keberhasilan orang lain,

·        Keinginan membandingkan diri terus-menerus,

·        Atau dorongan untuk mengejek diam-diam,

Maka berhati-hatilah—itu adalah tanda bahwa rasa iri sedang tumbuh.

Sebelum perasaan itu meracuni hidupmu dan merusak hubunganmu dengan orang lain, kendalikanlah.
Rasa iri tidak membuat kita lebih unggul—justru membuat kita tenggelam dalam ketidakbahagiaan yang tak ada ujungnya.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Sosok Moch. Afan Zulkarnain: Mengajar dengan Hati, Menginspirasi Generasi Digital

oleh: Sang Fajar Dunia pendidikan Indonesia terus berubah dengan cepat, terutama setelah pandemi COVID-19. Transformasi digital menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari, dan guru-guru di...

Kearifan Kesehatan Tiongkok Ribuan Tahun : Apa yang Dikatakan Kitab Ritus tentang Tubuh

Dalam Pemikiran Klasik Tiongkok, Kebajikan Menghasilkan Dampak Fisik yang Dapat Diamati pada Tubuh Kitab Ritus (Liji) adalah salah satu dari tiga kitab ritual kanonik Tiongkok...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine