Di tengah tekanan besar dari pemerintahan Trump, Harvard Kennedy School—yang dijuluki sebagai “sekolah partai luar negeri” Partai Komunis Tiongkok (PKT)—mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) demi menghadapi kesulitan keuangan.
EtIndonesia. Dekan Harvard Kennedy School, Jeremy M. Weinstein, pada Rabu (25/6/2025) mengumumkan melalui email kepada staf akademik dan administrasi bahwa universitas tersebut sedang memberlakukan penghentian perekrutan dan kenaikan gaji berbasis kinerja di seluruh kampus. Di samping itu, Kennedy School juga akan memangkas biaya operasional, termasuk melakukan PHK.
Dalam email tersebut disebutkan bahwa baik Harvard University maupun Kennedy School tengah menghadapi “tantangan keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Oleh karena itu, sekolah ini terpaksa memangkas sejumlah staf dan merombak beberapa jabatan untuk menjaga keberlanjutan keuangan jangka panjang.
Manajemen sekolah telah memberitahukan staf yang terdampak PHK pada Rabu sore itu juga. Namun, juru bicara Harvard Kennedy School menolak mengungkapkan jumlah pasti staf yang diberhentikan.
Harvard University tengah berada di bawah tekanan besar dari pemerintahan Trump karena menolak untuk membatalkan program Diversity, Equity, and Inclusion (DEI, Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusi) dan juga karena melakukan penyaringan terhadap mahasiswa internasional.
Weinstein mengatakan bahwa Kennedy School sebenarnya sudah mulai merencanakan penghematan anggaran sejak Februari lalu, namun tindakan dari pemerintahan Trump baru-baru ini telah memberikan “hambatan baru yang luar biasa”.
Ia juga mengungkapkan bahwa Gedung Putih telah memangkas miliaran dolar dana riset untuk Harvard. Selain itu, dua ancaman besar lain terhadap anggaran adalah kemungkinan berkurangnya jumlah mahasiswa internasional dan wacana pemerintah untuk menaikkan pajak atas dana abadi (endowment) universitas secara signifikan.
Media Partai Komunis Tiongkok, Jiefang Daily (Surat Kabar Pembebasan), melalui situs Shangguan News pada tahun 2014 pernah menulis bahwa “jika harus memberi peringkat sekolah partai luar negeri terbaik PKT, maka Harvard Kennedy School jelas layak menjadi nomor satu.”
The Wall Street Journal juga pernah menurunkan artikel berjudul “Harvard Melatih Banyak Pejabat PKT, Mereka Menyebutnya ‘Sekolah Partai’”. Artikel itu mengungkap bahwa selama beberapa dekade terakhir, PKT telah mengirim ribuan pejabat tingkat menengah dan atas ke universitas-universitas Amerika untuk pelatihan, dengan Harvard menjadi tujuan utama. Beberapa orang Tiongkok bahkan menyebut Kennedy School sebagai “sekolah partai terbaik di luar negeri,” tempat pelatihan untuk kader-kader PKT yang menjanjikan.
Alumni Harvard mencakup sejumlah tokoh elite PKT, seperti mantan Wakil Presiden PKT dan anggota Politbiro Li Yuanchao; mantan Wakil Perdana Menteri Liu He; dan anggota Politbiro sekaligus Wakil Ketua Kongres Rakyat Nasional Li Hongzhong.
Selain itu, anak-anak pejabat tinggi PKT juga pernah belajar di Harvard. Misalnya, putri Xi Jinping, Xi Mingze, masuk Harvard pada awal 2010-an dengan nama samaran. Cucu mantan pemimpin PKT Jiang Zemin, Jiang Zhicheng, serta putra mantan anggota Politbiro Bo Xilai, Bo Guagua, juga termasuk alumni Harvard.
Sejak tahun 1990-an, PKT secara sistematis mengirim pejabat ke Amerika Serikat untuk “belajar” demi menyerap pengalaman kebijakan publik dan tata kelola dari negara-negara Barat. Selain Harvard, universitas-universitas terkenal lain di AS yang juga memberikan pelatihan kepada pejabat Tiongkok termasuk Syracuse University, Stanford University, dan University of Maryland. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


