Rusia Mengamuk di Ukraina, Dunia Terjebak Perang Psikologis Putin—Benarkah Moskow Sudah Lemah?

EtIndonesia. Rusia kembali melancarkan serangan udara terbesar ke Ukraina sejak invasi skala penuh yang dimulai pada Februari 2022. Kepala Departemen Komunikasi Komando Angkatan Udara Ukraina, Yurii Ihnat, pada Minggu (29/6), mengungkapkan bahwa serangan terbaru ini menandai eskalasi paling signifikan sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina lebih dari dua tahun lalu.

Rusia Hujani Ukraina dengan Ratusan Drone dan Rudal

Menurut Yurii Ihnat, total 537 unit senjata serangan udara dikerahkan dalam waktu singkat, terdiri dari 477 drone—termasuk drone tempur dan drone umpan—serta 60 rudal berbagai tipe. Angkatan Udara Ukraina melaporkan keberhasilan menembak jatuh 249 drone, sementara 226 lainnya diduga gagal mengenai target akibat gangguan elektronik. Namun, puluhan rudal tetap berhasil lolos dan menghantam sejumlah wilayah vital di Ukraina.

Laporan dari Associated Press menegaskan bahwa serangan ini tidak hanya terfokus di garis depan, tetapi juga menghantam wilayah Ukraina bagian barat yang selama ini relatif aman. Imbas serangan memicu kekhawatiran meluas hingga ke Polandia. Militer Polandia menyatakan telah menerbangkan pesawat tempur bersama sekutu NATO untuk memastikan keamanan wilayah udara mereka, sebagai respons atas kemungkinan drone atau rudal nyasar ke wilayah negara anggota NATO.

Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur

Serangan brutal tersebut menelan korban jiwa dan luka-luka di beberapa wilayah. Gubernur Kherson, Oleksandr Prokudin, melaporkan satu orang tewas akibat serangan drone di wilayahnya. Di Kharkiv, Gubernur Oleh Oleg Syniegubov juga mengonfirmasi satu korban meninggal dunia. Sementara itu, di wilayah Cherkasy, Gubernur Ihor Taburets mengungkapkan sedikitnya enam orang mengalami luka-luka, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.

Tragedi juga menimpa militer Ukraina. Angkatan Udara Ukraina menyebutkan sebuah jet tempur F-16 bantuan negara-negara Barat mengalami kerusakan dan jatuh saat melakukan misi penembakan terhadap target udara Rusia. Pilot pesawat tersebut dinyatakan gugur dalam insiden tersebut, menambah daftar panjang kerugian personel dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Ukraina.

Rusia Klaim Kemajuan di Donetsk, Ukraina Hadapi Tekanan Berat

Di tengah gempuran udara, militer Rusia mengklaim telah menguasai Desa Novoukrainka di wilayah Donetsk yang kini diduduki Rusia. Pasukan Rusia terus berusaha menerobos pertahanan Ukraina di berbagai titik sepanjang lebih dari 1.200 kilometer garis depan.

Panglima Tertinggi Ukraina, Jenderal Oleksandr Syrskyi, memaparkan bahwa di satu sektor pertempuran saja, tercatat 111.000 tentara Rusia telah dikerahkan, terutama di sekitar Kota Pokrovsk yang menjadi pusat pertempuran di Donetsk. Sebagai perbandingan, pada Desember 2023 lalu, jumlah pasukan Rusia di kawasan ini masih sekitar 70.000 orang, menurut data Staf Umum Ukraina.

Tekanan besar ini mempertegas bahwa Rusia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan perang, bahkan terus meningkatkan intensitas ofensifnya.

Putin Umumkan Pemotongan Anggaran Militer Mulai 2026, Dunia Meragukan Niat Damai Rusia

Dalam perkembangan mengejutkan di ranah geopolitik, Presiden Rusia, Vladimir Putin mengumumkan di Minsk, Belarus, pada 27 Juni, bahwa Rusia akan memangkas anggaran militernya mulai tahun 2026. Pernyataan ini muncul di tengah perhatian internasional yang sedang tertuju pada keputusan NATO menaikkan target belanja pertahanan kolektif hingga 5% Produk Domestik Bruto (PDB) untuk dekade mendatang.

Langkah Putin ini segera menuai beragam interpretasi. Banyak analis dan pengamat menilai, pernyataan Putin hanyalah “manuver pengalihan perhatian”. Mereka membandingkannya dengan taktik yang kerap digunakan Presiden AS, Donald Trump, seperti ketika mengumumkan rencana aksi militer ke Iran namun justru langsung menghancurkan program nuklir Iran dua hari kemudian.

Sejumlah pengamat menilai, pengumuman pemotongan anggaran militer Rusia ini sekadar strategi untuk menciptakan persepsi bahwa Moskow mulai lelah dan ingin mengakhiri perang. Di sisi lain, tak sedikit yang meyakini bahwa langkah ini merupakan upaya menipu Barat—terutama NATO—agar menurunkan kewaspadaan, sementara Rusia perlahan-lahan terus berupaya mencaplok wilayah Ukraina.

NATO Tingkatkan Anggaran Pertahanan, Putin Tuding NATO Agresif

Pada 25 Juni, NATO secara resmi mengumumkan bahwa seluruh negara anggota sepakat menaikkan target pengeluaran pertahanan hingga 5% PDB. Langkah ini diambil sebagai respons atas ancaman jangka panjang yang ditimbulkan Rusia terhadap keamanan kawasan Eropa dan dunia.

Menanggapi kebijakan ini, Presiden Putin menegaskan bahwa kenaikan anggaran NATO “tidak ada kaitannya dengan Rusia” dan menuding tuduhan “agresi Rusia” sebagai propaganda Barat. Dia juga mengklaim bahwa Rusia selama ini justru menjadi korban janji-janji palsu NATO, khususnya terkait komitmen agar aliansi tersebut tidak memperluas pengaruh ke arah timur. Putin menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa era kompromi sepihak dengan Barat sudah selesai.

Namun, respons publik internasional cenderung skeptis. Di media sosial X (Twitter), banyak komentar yang menyarankan agar setiap pernyataan Putin “dibaca terbalik”, merujuk pada reputasi Rusia dalam menjalankan strategi disinformasi dan pengelabuan di panggung global. Sebagian warganet juga menyoroti tekanan ekonomi di dalam negeri Rusia—tingginya inflasi, beban anggaran militer, serta krisis sosial yang terus memburuk.

Perang Belum Usai, Dunia Bersiap Hadapi Krisis Baru

Situasi di medan perang Ukraina dan di panggung diplomasi internasional menunjukkan bahwa konflik Rusia-Ukraina masih jauh dari kata selesai. Kenaikan drastis anggaran pertahanan NATO menandai babak baru perlombaan militer di Eropa, dan sekaligus mengirim sinyal bahwa Barat belum akan melepaskan Ukraina.

Di saat yang sama, dunia menunggu bagaimana Amerika Serikat, yang baru saja mengakhiri perang Israel-Iran, akan menentukan arah kebijakan berikutnya terhadap konflik Rusia-Ukraina. Dengan eskalasi yang terus meningkat dan manuver politik yang semakin rumit, situasi ini berpotensi memicu krisis global baru yang dampaknya meluas ke berbagai belahan dunia.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine