EtIndonesia. Pria berasal dari Mars, wanita dari Venus—dua dunia yang berbeda, seolah-olah “satu negara di masing-masing sisi, dengan pernyataan masing-masing”. Ungkapan ini kerap digunakan untuk menjelaskan mengapa pria dan wanita sulit menjadi sahabat sejati.
Ditambah lagi dengan pengaruh hormon seks, kedekatan fisik antara lawan jenis kerap memicu gejolak hati; rasa cemburu pun bisa membuat orang yang paling rasional sekalipun merasa terbakar ketika pasangannya akrab dengan teman lawan jenis.Kesimpulannya: pria dan wanita memang berbeda sejak lahir, jadi mustahil menjadi teman murni… atau benarkah?
Apa Kata Para Ahli?
Menurut para pakar hubungan, anggapan bahwa pria dan wanita tak mungkin menjadi teman murni berasal dari masa “pria di luar rumah, wanita di dalam rumah”. Dulu, satu-satunya ruang interaksi pria-wanita adalah dalam konteks percintaan atau pernikahan. Namun kini, mereka bekerja bersama, memiliki hobi yang sama, dan bersosialisasi di ruang yang sama.
Perubahan budaya inilah yang membuat psikolog, sosiolog, dan pakar komunikasi mulai menyuarakan argumen baru: pria dan wanita bisa menjadi sahabat dekat yang murni. Meski hubungan ini rumit dan penuh tantangan, alasan untuk menjalin persahabatan itu sangatlah kuat.
Manfaat Persahabatan dari Perspektif Pria
Persahabatan pria dan wanita memiliki karakteristik yang berbeda.
· Wanita cenderung menghabiskan waktu membicarakan perasaan dan pikiran.
· Pria lebih suka kegiatan kelompok: olahraga, perjalanan, atau membahas saham. Mereka jarang berbagi emosi atau perasaan pribadi.
Dalam bukunya “We’re Just Good Friends”, Kathy Werking dari Eastern Kentucky University menyebut bahwa aktivitas utama dalam persahabatan pria-wanita cenderung lebih “feminin”, seperti percakapan tatap muka, makan bersama, atau berkendara sambil berbicara. Dengan saling bertukar pikiran, pandangan, dan perasaan secara terus-menerus, mereka menciptakan dukungan emosional yang kuat.
Psikolog Linda Sapadin dari New York menemukan bahwa pria menilai persahabatan dengan wanita jauh lebih menyenangkan dan bermanfaat dibandingkan persahabatan sesama pria. Mereka mengakui, ada banyak hal yang mereka bisa bicarakan dengan wanita—tetapi tidak akan pernah mereka bicarakan dengan teman pria mereka.
Manfaat Persahabatan dari Perspektif Wanita
Persahabatan antar wanita terkadang terlalu mendalam hingga melelahkan. Siapa pun yang pernah menemani sahabat wanita yang patah hati semalaman pasti memahaminya. Namun dengan teman pria, wanita bisa bersenda gurau dan bercanda tanpa beban emosional yang berat. Pria tidak terlalu sensitif, sehingga pertemanan dengan pria terasa lebih ringan dan menyenangkan.
Banyak wanita bahkan menganggap teman prianya seperti kakak laki-laki, yang memberikan rasa aman, perlindungan, dan perhatian hangat. Di sisi lain, mereka juga bisa mendapatkan wawasan tentang cara berpikir pria, yang mungkin tak bisa mereka temukan di kalangan teman wanita.
Tantangan dalam Persahabatan Lawan Jenis
Meski bermanfaat, persahabatan antara pria dan wanita tetap menghadapi berbagai tantangan serius.
Tantangan 1: Bagaimana Mendefinisikan Hubungan Ini?
Profesor Don O’Meara dari University of Cincinnati menulis dalam jurnal Sex Roles bahwa persahabatan platonis antara pria dan wanita memang nyata, tapi sulit didefinisikan. Dalam studi terhadap 20 pasang teman lawan jenis, terungkap bahwa banyak orang bingung membedakan cinta, ketertarikan seksual, dan persahabatan.
“Kalau kamu menyukai seseorang, tapi tidak cukup kuat untuk mengencaninya, itu artinya apa? Persahabatan? Cinta? Sesuatu di antaranya?” Ketiadaan definisi budaya yang jelas membuat orang bingung bagaimana seharusnya merasa dan bersikap.
Tantangan 2: Bagaimana Menghadapi Daya Tarik Seksual?
Ini adalah tantangan paling sensitif dan membingungkan. Daya tarik seksual kerap diam-diam bersembunyi di balik persahabatan, lalu tiba-tiba muncul dan mengacaukan keseimbangan.
Pelukan sederhana bisa tiba-tiba terasa “bermakna”, dan niat menjaga hubungan pertemanan jadi terganggu oleh kesadaran bahwa lawan bicara adalah pria atau wanita.
Dalam survei terhadap 150 pria dan wanita di lingkungan kerja, wanita menyebut “ketegangan seksual” sebagai aspek paling tidak disukai dari persahabatan lawan jenis. Sebaliknya, banyak pria justru menganggap ketertarikan seksual sebagai motivasi awal persahabatan, dan bahkan mempererat hubungan itu. 62% responden mengakui bahwa ketegangan seksual hadir dalam persahabatan antar lawan jenis.
Tantangan 3: Bagaimana Membangun Relasi yang Setara?
Persahabatan idealnya adalah hubungan yang setara. Namun kenyataannya, dalam budaya patriarki, pria masih memegang lebih banyak kekuasaan, status, dan pengaruh sosial. Meski zaman sudah berubah, wanita dalam persahabatan lawan jenis masih sering tanpa sadar memainkan peran yang tunduk atau “mengalah”.
Tantangan 4: Bagaimana Menghadapi Pandangan Sosial?
Banyak orang masih sulit menerima bahwa pria dan wanita bisa berteman tanpa unsur romantis. Apalagi generasi tua yang terbiasa dengan pembatasan antara pria dan wanita sebelum menikah.
Teman lawan jenis sering mendapat komentar seperti: “Kalian beneran cuma teman, nih?”—dengan lirikan dan sindiran yang menyiratkan keraguan.
Tantangan 5: Bagaimana Memulai dan Menjaga Persahabatan?
Sejak kecil, anak-anak cenderung membentuk kelompok berdasarkan jenis kelamin—fenomena ini disebut “segregasi sukarela berbasis gender”.
Baru saat remaja, mereka mulai berinteraksi karena dorongan seksual. Akibatnya, mereka tidak pernah belajar mengembangkan pertemanan murni dengan lawan jenis.
Begitu memasuki dunia kerja atau kehidupan sosial dewasa, kesempatan berteman tetap terbatas, apalagi jika sudah memiliki pasangan atau menikah.
Bahkan pasangan yang paling percaya satu sama lain pun enggan jika pasangannya membangun persahabatan baru dengan lawan jenis, terutama jika lawan jenis itu menarik. Seiring bertambahnya usia, jumlah teman lawan jenis juga menurun.
Menurut Rosemary Blieszner, penulis Friendship in Adulthood, hanya sekitar 2% wanita paruh baya yang memiliki sahabat pria.
Menjadikan Persahabatan Melebihi Daya Tarik Seksual
Meski penuh tantangan, persahabatan antara pria dan wanita bukan hanya mungkin—tapi juga diperlukan. Jika pria dan wanita ingin hidup berdampingan dalam masyarakat modern, mereka harus belajar saling memahami dan berkomunikasi.
Faktanya, seks tidak selalu menjadi faktor utama dalam hubungan pria-wanita—karena orientasi seksual, ketertarikan fisik yang rendah, atau karena masing-masing sudah menjalin hubungan asmara.
Bahkan banyak orang mengakui bahwa sifat-sifat yang bisa ditoleransi dalam hubungan persahabatan, belum tentu bisa diterima dalam hubungan cinta. Setelah bertahun-tahun menjadi teman, sangat sulit mengubah hubungan itu menjadi romantis.
Kathy Werking menyarankan:
Agar persahabatan lawan jenis berhasil, kedua pihak harus jujur, terbuka, dan membicarakan makna hubungan mereka.
Dengan begitu, mereka bisa menetapkan batasan yang sehat.
Dan jika isu daya tarik seksual tidak diabaikan tapi ditangani dengan dewasa, maka persahabatan antara pria dan wanita bisa terjalin dengan sukses dan bertahan lama.(jhn/yn)


