EtIndonesia. Dinamika geopolitik Timur Tengah dan Eropa kembali mencuri perhatian dunia. Dalam konferensi pers yang digelar di Tel Aviv, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, secara resmi mengumumkan ambisi Pemerintah Israel untuk memperluas cakupan Abraham Accords—sebuah kerangka perjanjian perdamaian dan normalisasi hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab yang dipelopori oleh Amerika Serikat sejak 2020.
Menurut laporan Reuters, Gideon Sa’ar menegaskan bahwa Israel secara aktif mendorong upaya pembicaraan dengan berbagai negara di kawasan, termasuk dua negara yang selama ini dikenal sangat berseberangan, yaitu Suriah dan Lebanon.
“Kami terbuka untuk memperluas Abraham Accords ke negara mana pun yang siap bergerak ke arah perdamaian dan stabilitas kawasan. Tidak ada negara yang kami tutup pintunya, bahkan Suriah dan Lebanon,” ujar Gideon Sa’ar.
Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Amerika Serikat, khususnya Presiden Donald Trump yang sejak Mei lalu terus mendorong inisiatif normalisasi baru dan bahkan telah mengumumkan pencabutan semua sanksi terhadap Suriah untuk mendorong dialog konstruktif.
Perkembangan Konflik Ukraina-Rusia: Senjata Korea Utara Muncul di Medan Perang
Di saat isu Timur Tengah terus bergejolak, kawasan Eropa Timur pun tidak kalah panas. Pada 30 Juni, unit drone militer Ukraina mengumumkan sebuah keberhasilan signifikan di garis depan: sebuah kendaraan peluncur roket berganda buatan Korea Utara yang dipasok kepada Rusia berhasil dihancurkan melalui serangan drone presisi.
Berdasarkan video yang dirilis oleh pihak militer Ukraina, kendaraan peluncur roket tipe M1991 kaliber 240mm—yang memiliki jangkauan tembak hingga 60 kilometer—meledak hebat setelah dihantam drone Ukraina. Dua personel militer Rusia yang berada di dalam kabin dilaporkan berhasil melarikan diri sebelum kendaraan tersebut terbakar habis.
Sebelumnya, menurut sejumlah laporan intelijen Barat, sejak awal 2024 Korea Utara telah memasok sekitar 100 unit peluncur roket M1991 ke Rusia. Penggunaan senjata ini oleh militer Rusia pertama kali terungkap ke publik pada bulan April, saat video penembakan roket tersebut beredar luas di media sosial dan menjadi sorotan dunia internasional.
Ukraina Mundur dari Konvensi Ottawa Akibat Agresi Rusia
Masih di tanggal yang sama, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengumumkan langkah besar yang langsung menjadi perbincangan internasional: Ukraina secara resmi menarik diri dari Konvensi Ottawa—sebuah perjanjian internasional yang melarang penggunaan, produksi, dan penyimpanan ranjau darat anti-personil.
Langkah ini diambil menyusul intensitas serangan Rusia yang kian membabi buta dengan penggunaan ranjau mematikan di wilayah Ukraina. Dalam konferensi video yang digelar bersama para pejabat tinggi Ukraina, Zelenskyy menegaskan bahwa keselamatan negara dan rakyat Ukraina kini harus menjadi prioritas utama di tengah ancaman agresi militer yang belum mereda.
“Karena serangan Rusia yang tak pandang bulu dengan menggunakan ranjau, Ukraina terpaksa menarik diri dari Konvensi Ottawa demi melindungi kedaulatan negara dan keselamatan warganya,” ungkap Zelenskyy.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina menambahkan bahwa keputusan ini telah disampaikan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan akan berlaku enam bulan setelah pemberitahuan resmi diterima. Namun, jika pada saat tenggat tersebut Ukraina masih dalam kondisi perang atau darurat militer, maka penarikan diri akan efektif setelah konflik benar-benar dinyatakan berakhir.
Sebagai catatan, Amerika Serikat dan Rusia memang sejak awal tidak menjadi anggota Konvensi Ottawa, dengan alasan pertimbangan strategis dan keamanan nasional masing-masing negara.
Kesimpulan:
Situasi geopolitik internasional terus bergerak dinamis. Di Timur Tengah, Israel berupaya memperluas perdamaian ke wilayah-wilayah yang selama ini dikenal penuh konflik, sementara di Eropa Timur, Ukraina mengambil keputusan ekstrem demi kelangsungan negara di tengah serangan Rusia yang tak kunjung reda. Langkah-langkah ini menegaskan bahwa peta politik global masih jauh dari kata stabil, dan berbagai negara terus menyesuaikan strategi demi bertahan dalam arus perubahan zaman.


