Mendidik Anak Tanpa Kekerasan: Jangan Biarkan Amarah Merusak Hubungan Orang Tua dan Anak

EtIndonesia. Setiap kali kita membiarkan diri melakukan tindakan kekerasan, yang terluka bukan hanya anak—tetapi juga anak yang hidup dalam diri kita.

Saat orang tua melampiaskan amarahnya dalam bentuk kekerasan, yang rusak bukan hanya anak, tetapi juga hubungan antara orang tua dan anak, bahkan melukai batin sang pelaku itu sendiri.

Padahal sebagai orang tua, kita bisa membentuk citra diri yang lebih baik. Jangan biarkan kekerasan merusak ikatan dengan anak.

Ketika kita mampu menyampaikan pesan cinta kepada mereka, kita pun akan merasakan cinta itu tumbuh dalam diri kita.

Apakah Kamu Telah Melakukan Kesalahan yang Tak Bisa Diperbaiki?

Perlu diketahui: tindakan kekerasan bukan sesuatu yang tak bisa diperbaiki. Jika kita berpikir bahwa kesalahan itu tidak bisa ditebus, maka kita akan kesulitan memperbaiki hubungan dengan anak.

Langkah pertama untuk memperbaikinya adalah menyadari perbuatan kita. Ya, mengakui bahwa kita telah melakukan kekerasan memang tidak mudah. Kita cenderung menyepelekan keseriusannya, atau malah menyalahkan anak.

Langkah berikutnya adalah menggali apa yang sebenarnya memicu kemarahan kita, bukan hanya ledakan emosinya. Kita perlu memahami akar permasalahan agar anak—yang menjadi “korban”—tidak terus menerus memikul beban rasa bersalah.

Apa yang Dibutuhkan Anak: Bukan Permintaan Maaf, Tapi Empati

Kita perlu memahami perasaan anak yang menjadi korban kekerasan. Lebih dari sekadar permintaan maaf, anak butuh empati dan penjelasan.

Anak berhak marah pada kita. Ia butuh waktu untuk:

·        mengenali perasaannya sendiri,

·        berani mengatakan bahwa ia takut, terluka, atau marah.

Berikan waktu itu padanya. Hanya setelah itu, barulah kita bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita.

Penjelasan ini akan membantu anak tidak lagi merasa bahwa dirinya bertanggung jawab atas ledakan emosi orang tua.

Biasanya, ketika kita sungguh-sungguh memahami luka anak, tidak menyepelekan perasaan mereka, tidak mencari pembenaran—komunikasi tulus seperti ini sudah cukup untuk mulai memperbaiki hubungan.

Tes Diri: Mana yang Paling Mewakili Sikapmu?

a. Saya mendengarkan anak dengan sungguh-sungguh dan berusaha memperbaiki hubungan kami.
b. Saya minta maaf, lalu tidak membahasnya lagi.
c. Saya mengakui bahwa saya kelewat batas, tapi menolak meminta maaf pada anak.
d. Saya tidak tahu bagaimana cara meminta maaf.
e. Saya tidak akan minta maaf—justru dia yang harusnya minta maaf pada saya!

Penjelasan atas Jawabanmu:

·        a: Kamu mampu memahami dirimu dan anakmu. Anakmu akan tahu bahwa ia bisa mempercayaimu.

·        b: Mungkin kamu menghindari sesuatu.

·        c: Kamu masih terjebak dalam permainan kuasa.
Kemungkinan kamu belum menyadari bahwa amarahmu adalah pantulan dari pengalaman masa kecilmu.

      Kamu mungkin ingin tetap mengontrol anak, sebagaimana orang tuamu dulu mengontrolmu—ketika kamu merasa sangat tak berdaya. Ini adalah bentuk balas dendam yang tidak disadari. Namun anakmu tidak akan tertipu selamanya.
Saat ia masih kecil, mungkin ia akan takut padamu dan kamu menganggap itu sebagai keberhasilan. Tapi sebenarnya, ia hanya tunduk, bukan percaya. Dan saat ia tumbuh besar, ia akan sadar bahwa kamu tidak bisa diandalkan.

·        d: Permintaan maaf sebaiknya sederhana.
Fokuskan pada anak dan apa yang dia alami saat kamu marah. Jelaskan pula apa yang terjadi padamu:

“Maaf, aku tahu saat aku membentakmu tadi, itu pasti menyakitkan. Mungkin kamu takut.
Aku terlalu berlebihan. Sebenarnya, aku sudah merasa kesal sejak sebelum pulang.
Hari ini di tempat kerja aku stres (jika ini memang benar—jangan mengarang!).
Ketika aku melihat kamu meletakkan jaket di kursi, aku langsung meledak.
Memang seharusnya kamu bisa menggantungnya, tapi reaksi aku terlalu berlebihan.”

Terlalu panjang? Mungkin. Tapi percayalah, ini akan menghemat banyak waktu dan luka di kemudian hari.

·        e: Jika kamu masih merasa sangat marah dan memproyeksikannya ke anak, itu adalah tanda peringatan.
Mungkin masih ada bagian dirimu yang gelap, terluka, atau terabaikan.
Apa yang dirasakan anak dalam situasi seperti itu?
Kesedihan, kemarahan, ketakutan, keputusasaan, jijik…
Semua itu mungkin juga pernah kamu rasakan saat kecil, hanya saja kamu tak diberi ruang untuk mengekspresikannya. Tapi emosi itu masih hidup dalam dirimu.

Setiap Kali Kita Bersikap Kasar, Kita Juga Menyakiti Diri Sendiri

Ketika kita menyakiti anak, sebenarnya kita juga menyakiti anak kecil dalam diri kita sendiri.
Namun, saat kita menyampaikan pesan cinta, kita akan merasakan cinta itu tumbuh kembali dalam hati kita.

Semua orang bisa saja sesekali dikuasai oleh dorongan kebencian. Tapi tetap saja, kita selalu bisa memilih antara menyakiti atau mencintai. Penting untuk selalu ingat bahwa pilihan itu ada.

Jika Amarah Sudah Terlalu Kuat—Carilah Bantuan Profesional

Ketika dorongan untuk menyakiti anak terlalu besar, saat kita merasa kehilangan kendali, jangan tunda—segeralah konsultasi ke profesional. Mendalami akar dari perilaku kita adalah tugas seorang psikoterapis. Mereka tahu bagaimana membantu kita.

Jangan mengatakan:

“Ini hanya fase… Nanti juga akan lewat… Tidak terlalu serius…”

Karena ini serius!

Baik untuk anak, untuk dirimu sendiri, untuk pasanganmu, untuk masa kini, dan masa depan kalian.

Pilih untuk Menyembuhkan

Kita memang tidak wajib menjalani terapi. Tapi jika ada cara agar kita bisa lebih bahagia sebagai orang tua, jika ada cara untuk membentuk citra diri yang lebih sehat dan penuh cinta,  mengapa tidak mencobanya?

Masa lalu kita tidaklah seburuk itu hingga tak bisa disembuhkan. Jangan biarkan masa lalu itu merusak hubungan kita dengan anak-anak.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine