Selama beberapa bulan terakhir, sering terdengar kabar bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, telah kehilangan kekuasaan secara signifikan, mengalami masalah kesehatan, dan bahwa Zhang Youxia, Wakil Ketua Pertama Komisi Militer Pusat (CMC), bersama para sesepuh partai, telah mengambil alih kekuasaan. Ini menunjukkan kekisruhan di Zhongnanhai (pusat pemerintahan Partai Komunis Tiongkok) semakin kencang.
EtIndonesia. Perubahan misterius dalam konstelasi politik di tubuh elite PKT ini juga mulai menarik perhatian para ahli Barat, yang menyebut muncul berbagai tanda Xi akan turun dari jabatan, serta menyebutkan bahwa struktur kekuasaan di tingkat tertinggi PKT akan mengalami perubahan besar.
Menjelang Sidang Pleno Keempat PKT, pada 27 Juni, sekutu militer Xi di pusat kekuasaan, Miao Hua, Direktur Departemen Politik CMC, diberhentikan dari keanggotaan Komisi Militer Pusat. Pada hari yang sama, Li Hanjun, Kepala Staf Angkatan Laut, juga dicopot dari statusnya sebagai delegasi Kongres Rakyat Nasional. Sementara itu, sekutu militer Xi lainnya, He Weidong, Wakil Ketua CMC, telah menghilang sejak Maret dan belum muncul kembali.
Menurut berbagai sumber, Xi awalnya berencana mengandalkan Miao Hua dan He Weidong untuk mengendalikan militer, serta menggunakan dalih “pemberantasan korupsi” untuk membersihkan kubu Zhang Youxia dan menjatuhkannya. Namun justru mendapat serangan balik dari Zhang dan para sesepuh PKT di belakangnya.
Keanehan yang terjadi di tingkat tertinggi rezim ini pun menarik perhatian para pejabat dan pengamat Barat.
Pada 28 Juni, mantan diplomat senior AS, Gregory W. Slayton, dalam artikelnya di New York Post, menyebut bahwa melihat perkembangan beberapa bulan terakhir, kemungkinan Xi Jinping akan lengser semakin mendesak. Para sesepuh PKT diyakini sedang mengatur segalanya di balik layar, termasuk Hu Jintao, yang pernah dipermalukan oleh Xi dalam Kongres Nasional PKT tahun 2022.
Artikel itu menyebut, saat ini Zhang Youxia telah sepenuhnya menguasai militer, sementara kesehatan Xi memburuk, dan sangat mungkin pada Agustus nanti ia akan pensiun, atau hanya memegang jabatan simbolis.
Artikel tersebut juga merinci lima tanda utama bahwa Xi telah kehilangan kekuasaan:
- Puluhan perwira tinggi militer yang loyal pada Xi telah disingkirkan, bahkan beberapa meninggal secara misterius, dan digantikan oleh jenderal dari faksi lain.
- Makam ayah Xi, Xi Zhongxun, telah dihapuskan namanya. Tidak lagi disebut sebagai Makam Xi Zhongxun.
- Jumlah pengawal pribadi Xi dikurangi hingga setengahnya. Pemimpin mana yang dengan sukarela mengurangi keamanan pribadinya?
- Pada akhir Mei hingga awal Juni, Xi menghilang hampir dua minggu tanpa penjelasan, sementara pemimpin lain menerima tamu asing di Beijing. Di saat bersamaan, Xi nyaris tidak muncul di halaman utama media partai, People’s Daily.
- Beberapa profesor dari universitas ternama di Tiongkok mulai menulis artikel yang secara langsung mengkritik Xi, sesuatu yang sangat langka sebelumnya.
Artikel menyimpulkan bahwa semua ini hanya sebagian dari banyak tanda luar biasa di Beijing yang mengisyaratkan bahwa struktur kekuasaan di tubuh PKT akan mengalami perubahan besar.
Miao Hua, yang dulunya merupakan salah satu orang paling dipercaya Xi, kini telah secara resmi disingkirkan dari posisi komando tertinggi militer.
Pada 28 Juni, Rod Martin, aktivis konservatif AS sekaligus CEO Martin Capital, juga menulis di platform X:
“Apakah kekuasaan Xi Jinping sedang terancam? Tampaknya memang seperti itu.”
Ia menambahkan, “PKT sedang menuju kegelapan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah: ini bukan kejadian tunggal. Dalam rezim otoriter, pembersihan elite biasanya bukan tanda kontrol, tapi tanda ketidakstabilan.”
Martin menegaskan, jika Xi yang telah mengkonsolidasikan kekuasaan selama lebih dari satu dekade kehilangan posisi-posisi militer kunci dan tak mampu menghentikan tren ini, maka artinya “rezim ini mungkin sedang memasuki fase perpecahan internal yang berbahaya.”
Selain itu, pada 27 Juni, Michael Flynn, pensiunan Letnan Jenderal Angkatan Darat AS dan mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, juga memposting di X:
“Jelas sekali, saat ini sedang terjadi pergantian kekuasaan di Tiongkok. Para pengamat perlu memantau dengan cermat anggota utama PKT, khususnya pejabat di sektor publik dan keamanan nasional, apakah mereka mulai kehilangan kepercayaan pada kepemimpinan saat ini.”
Ia menambahkan, “Perubahan kepemimpinan di PKT akan membawa konsekuensi yang sangat besar.”
The Epoch Times dari sumber internal menyebutkan bahwa sejak April tahun lalu, Xi Jinping sudah mulai kehilangan kekuasaan. Meskipun secara lahiriah masih berkuasa, kenyataannya ia sudah kalah, dan kini Zhang Youxia, Wen Jiabao, dan para sesepuh lainnya menjadi kekuatan utama di balik kendali politik Tiongkok. Walaupun Xi sempat beberapa kali melawan balik, bahkan memakai senjata, namun semuanya gagal. Kini ia hanya “berakting sesuai skenario”, melakukan apa pun yang diperintahkan padanya.
Pada 16 Juni, komentator luar negeri “Xiao Shuojia” mengutip informasi internal bahwa di tubuh PKT terjadi perbedaan pendapat dalam menangani Xi Jinping. Zhang Youxia dan Wen Jiabao mendukung penyelesaian total terhadap Xi, sementara Hu Jintao dan lainnya ingin Xi turun secara “terhormat” demi menjaga stabilitas rezim.
Pada 26 Juni, kolumnis independen Du Zheng, dalam artikelnya di media Taiwan Shang Bao, mengungkap bahwa seorang tokoh politik senior anti-Xi dari Beijing mengatakan, “Tunggu saja, akan ada perubahan di musim gugur. Pada Oktober segalanya akan menjadi jelas.” (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


