Xi Jinping Akan Segera Lengser? Mantan Diplomat AS Ungkap Serangkaian Tanda Mencurigakan

EtIndonesia. Beberapa bulan terakhir, beredar luas rumor bahwa pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT) Xi Jinping telah kehilangan kekuasaan. Baru-baru ini, mantan diplomat Amerika Serikat, Gregory W. Slayton, menulis di New York Post, menganalisis berbagai tanda tak biasa terkait Xi, dan memperkirakan bahwa Xi kemungkinan akan lengser pada Sidang Pleno PKT Agustus mendatang atau hanya akan memegang jabatan simbolis.

Dalam tulisannya, Slayton menyatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, telah muncul tanda-tanda luar biasa bahwa Xi Jinping — yang sebelumnya tampak mengendalikan segalanya — mungkin akan segera turun dari kekuasaan. Ia juga menyebut bahwa mantan pemimpin PKT Hu Jintao, yang pernah dipermalukan secara terbuka oleh Xi, mungkin kini berperan sebagai pengatur di balik layar.

Slayton menjelaskan bahwa rumor mengenai turunnya Xi memang bukan hal baru, tetapi belum pernah terjadi sebelumnya puluhan loyalis Xi di militer secara kolektif dibersihkan atau bahkan meninggal secara misterius, dan kemudian digantikan oleh jenderal dari faksi lain. Saat ini, Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat yang sebelumnya berseteru dengan Xi, disebut telah menjadi pemimpin de facto militer PKT.

Selain itu, langkah “de-naming” museum peringatan Xi Zhongxun, ayah Xi Jinping, juga menjadi sorotan. Museum tersebut, yang dibangun di provinsi Shaanxi untuk mengenang Xi Zhongxun, saat dibuka pada Mei lalu tiba-tiba tidak lagi menggunakan nama ayah Xi, dan diganti menjadi “Museum Revolusi Guanzhong” — sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Slayton juga mencatat bahwa jumlah pengawal pribadi Xi Jinping baru-baru ini dikurangi hingga setengahnya, dan mempertanyakan: “Pemimpin dunia mana yang akan mengurangi pengamanan pribadinya?”

Selain itu, Xi Jinping menghilang selama hampir dua minggu dari akhir Mei hingga awal Juni, dan selama masa itu, semua penyambutan tamu negara dilakukan oleh pejabat tinggi PKT lainnya. Frekuensi kemunculan Xi di media resmi PKT, seperti People’s Daily, juga menurun drastis.

Xi akhirnya muncul kembali pada awal Juni, bertemu dengan Presiden Belarusia Lukashenko, namun menurut pengamatan Slayton, Xi terlihat sangat letih, bahkan tampak murung seperti baru saja mengalami kekalahan. Pertemuan tersebut berlangsung di lokasi bergaya rumah pribadi di Zhongnanhai, yang tidak pernah digunakan untuk acara kenegaraan, dan hanya dihadiri oleh sedikit orang, tanpa kehadiran penerjemah atau staf senior. Ini sangat berbeda dengan protokol resmi sebelumnya.

Sebaliknya, pertemuan kenegaraan yang dilakukan oleh pemimpin PKT lainnya masih tetap dilakukan di aula resmi yang megah, mencerminkan otoritas dan kekuasaan.

Bahkan, setelah Xi melakukan panggilan telepon dengan Presiden AS Donald Trump baru-baru ini, media resmi PKT seperti CCTV tidak menyebutkan jabatan resmi Xi.
Slayton menyebut, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun kemudian diralat sebagian, ia yakin itu bukan kesalahan yang tidak disengaja.

Ia juga menyoroti bahwa beberapa profesor dari universitas ternama di Tiongkok kini berani menulis kritik langsung terhadap Xi, sesuatu yang sangat tabu di masa lalu.

Slayton menilai semua ini hanyalah sebagian dari beragam sinyal tak biasa yang berasal dari Beijing, yang mengindikasikan perubahan besar dalam struktur kekuasaan PKT.
Mengenai siapa yang akan menggantikan Xi, meskipun belum pasti, tampaknya Zhang Youxia dan para sesepuh PKT telah memilih Wang Yang sebagai pengganti.

Wang Yang, mantan Wakil Perdana Menteri PKT, yang terpaksa pensiun pada 2023 setelah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC), dikenal sebagai tokoh reformis moderat yang dipromosikan oleh Deng Xiaoping. Ia mendukung pasar bebas dan diplomasi lunak.

Slayton menyatakan, Tiongkok adalah sebuah “misteri yang dibungkus teka-teki,” dan tidak ada yang bisa benar-benar yakin akan apa pun. Namun mengingat akibat bencana dari kekuasaan otoriter Xi Jinping, lengsernya ia tidaklah mengejutkan.

Ia menyebut beberapa contoh seperti:

  • Total utang Tiongkok yang telah melebihi 50 triliun dolar AS
  • Gelombang migrasi orang kaya Tiongkok beserta asetnya ke luar negeri
  • Tingkat pengangguran yang menyamai era Depresi Besar

Semua ini membuat kerusuhan lokal, pembakaran pabrik, dan protes anti-pemerintah di berbagai tempat di Tiongkok bukan hal yang mengejutkan lagi.

Bagi Amerika Serikat, menurut Slayton, jika dikelola dengan baik, perubahan ini dapat membawa dampak positif besar bagi AS dan sekutu-sekutunya yang demokratis.
Trump bahkan bisa memenangkan Perang Dingin melawan PKT tanpa melepaskan satu peluru pun. Negara-negara seperti Rusia, Korea Utara, dan Iran pun bisa ikut terdampak secara negatif.

Tulisan itu menutup dengan menyebutkan bahwa Xi Jinping sekali lagi membuktikan pepatah terkenal: “Kekuasaan cenderung menyimpang, dan kekuasaan absolut menyimpang secara absolut.” 

Slayton berharap pengganti Xi bisa belajar dari keberhasilan negara-negara demokratis Barat dan Asia, membawa Tiongkok ke arah pasar bebas, masyarakat bebas, demokrasi sejati, dan supremasi hukum. Meskipun perjalanan menuju ke sana mungkin penuh kekacauan, namun ia yakin hasil akhirnya akan sepadan. (Hui/asr)

Laporan diterjemahkan oleh wartawan Xue Fei / Lin Qing

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine