Ibu di Korea Bertemu Putrinya yang Telah Tiada Lewat VR — Menyentuh Hati Jutaan Netizen

EtIndonesia. Sebuah video di YouTube baru-baru ini kembali menjadi viral dan telah ditonton lebih dari 10 juta kali. Video tersebut menampilkan momen haru seorang ibu bertemu kembali dengan putrinya yang telah meninggal, dalam bentuk virtual. Putrinya yang berusia 7 tahun telah meninggal sejak tahun 2017. Melalui teknologi realitas virtual (VR) yang dikembangkan oleh tim penyiaran MBC Korea Selatan, momen pertemuan kembali ini berhasil direkonstruksi, dan membuat banyak penonton meneteskan air mata bersama sang ibu.

Saat Rindu Tak Terobati, Teknologi Menjawab dengan Cinta

Bagi Jang Ji-sung, seorang ibu asal Korea Selatan, kerinduan terhadap putrinya, Nayeon, yang meninggal pada usia 7 tahun pada tahun 2017, terlalu dalam dan menyakitkan.

Kehilangan anak secara mendadak membuatnya sangat terpukul dan penuh penyesalan, terutama karena dia merasa tidak sempat mengucapkan selamat tinggal yang layak kepada putrinya.

Proyek Emosional Bertajuk “Meeting You”

Pada awal Februari, MBC Korea merilis sebuah dokumenter berjudul “Meeting You” di YouTube. Dalam waktu kurang dari dua minggu, video ini telah ditonton oleh hampir 10 juta orang.

Tujuan dari proyek ini adalah membantu sang ibu yang patah hati untuk mendapatkan rasa lega, meski hanya melalui sebuah pertemuan virtual.

Tim produksi kemudian menggandeng perusahaan VIV Studio, yang mengembangkan teknologi VR khusus untuk merekonstruksi sosok virtual dari Nayeon, berdasarkan data dan referensi yang tersedia.

Membangun Kembali Sosok Anak yang Telah Tiada

Para teknisi memulai proyek dengan mewawancarai keluarga Jang Ji-sung, dan mengumpulkan semua foto dan video Nayeon dari ponsel sang ibu. Mereka meneliti gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan kebiasaan Nayeon, lalu merekrut seorang gadis kecil dengan postur tubuh yang mirip untuk melakukan pemodelan fisik secara 3D.

Tak hanya bentuk tubuh dan wajah, mereka juga berusaha menghidupkan kembali suara Nayeon. Untuk itu, mereka merekam suara dari lima anak-anak, kemudian menggabungkannya secara digital agar menyerupai suara Nayeon.

Sebagai latar pertemuan, tim menciptakan sebuah taman virtual, yang merupakan tempat favorit Nayeon dan ibunya semasa hidupnya. Seluruh proses ini memakan waktu delapan bulan hingga selesai.

Hari yang Dinanti: Ibu dan Anak Bertemu Kembali di Dunia Virtual

Saat waktu pertemuan tiba, Jang Ji-sung memasuki studio MBC, mengenakan headset VR dan sarung tangan dengan sensor sentuhan, lalu masuk ke dunia virtual.

Suaminya dan ketiga anak lainnya menyaksikan proses ini dari ruangan terpisah, di balik layar.

Meski sadar bahwa semua ini hanyalah simulasi virtual, saat Jang Ji-sung melihat anak perempuannya muncul, dia langsung menangis tersedu-sedu. Para staf produksi dan kru yang merekam pun tidak kuasa menahan air mata dan ikut terhanyut dalam emosi yang mendalam.

Curahan Hati Seorang Ibu, dan Doa Seorang Anak

Dalam momen pertemuan itu, Jang Ji-sung mengungkapkan semua kata-kata yang tak sempat dia ucapkan semasa hidup Nayeon. Dia menyanyikan lagu ulang tahun untuk putrinya, yang dalam dunia virtual itu juga meniup lilin dan mengucapkan harapan:

“Tolong… jangan biarkan ayah merokok… dan jangan biarkan Ibu menangis lagi…”

Mereka juga saling mengucapkan “Aku mencintaimu” dan “Selamat tinggal.” Momen itu sangat mengharukan, dan banyak penonton yang ikut larut dalam tangis.

Setelah Pertemuan: Hati yang Lebih Tenang

Dalam wawancara usai rekaman, Jang Ji-sung berkata: “Aku sangat ingin menyentuhnya. Aku mencoba meraih tangannya, menyentuh wajahnya…”

Meski tahu bahwa itu bukan benar-benar anaknya, dia mengakui bahwa pengalaman tersebut terasa nyata.

“Meski tak sepenuhnya seperti Nayeon, tapi rasanya seperti benar-benar melihatnya di hadapanku saat ini,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa setelah pertemuan itu, hatinya terasa lebih ringan. Dia tidak lagi dihantui kerinduan yang menyiksa, melainkan menyimpan cinta itu dalam hati untuk selamanya.

Penutup: Teknologi yang Menyentuh Jiwa

Kisah ini menunjukkan bahwa teknologi—yang sering dianggap dingin dan tidak berperasaan—bisa menjadi jembatan harapan dan kehangatan, bila digunakan dengan empati dan cinta.

Dalam dunia di mana kehilangan sering kali tidak bisa diperbaiki, sebuah pertemuan virtual mampu menjadi pelipur lara, memberi ruang bagi mereka yang berduka untuk mengucapkan selamat tinggal yang tak pernah sempat terucap.

Tidak semua kenangan bisa kita pegang, tapi kadang, sejenak melihat kembali wajah yang kita cintai—meski dalam dunia maya—cukup untuk menenangkan jiwa.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine