Baru-baru ini, Falun Dafa Information Center atau Pusat Informasi Falun Dafa kembali menerima sejumlah email ancaman bom anonim. Mantan Duta Besar Urusan Perempuan Global dari Departemen Luar Negeri AS, Kelley Currie, menyerukan agar semua negara bagian di AS mendorong undang-undang untuk mengekang aksi penindasan lintas negara oleh rezim asing.
EtIndonesia. Menurut laporan Epoch Times, antara 29 Mei hingga 17 Juni, Falun Dafa Information Center menerima beberapa email ancaman bom yang ditulis dengan identitas palsu.
Laporan menyebutkan, pada 29 Mei, pusat tersebut menerima email yang mengancam akan menyerang Gedung Putih dengan bom jika Amerika Serikat tidak berhenti mendukung Falun Gong. Pada 8 Juni, email lain—mengatasnamakan Dr. Zheng Zhi, pelapor kejahatan pengambilan organ hidup oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT)—mengancam akan mengebom kampus pelatihan Shen Yun Performing Arts di New York.
Pada 14 Juni, email lainnya mengaku sebagai pendiri Falun Gong dan menggunakan alamat email editor Epoch Times untuk mengancam akan melakukan penembakan massal dan serangan bom dalam parade ulang tahun ke-250 Angkatan Darat AS di Washington, D.C., dengan menyamar sebagai praktisi Falun Gong.

Sejak Maret 2024, total ancaman anonim seperti ini telah mencapai 154 kasus, banyak di antaranya ditujukan langsung kepada lokasi pertunjukan Shen Yun, kampus pelatihan, maupun individu praktisi Falun Gong. Sebagian lainnya menyasar anggota Kongres AS dan lembaga pemerintah yang mendukung Falun Gong.
Falun Dafa Information Center menyatakan bahwa semua kasus ini telah dilaporkan ke aparat penegak hukum dan saat ini masih dalam penyelidikan.
Faktanya, ancaman-ancaman ini hanyalah bagian dari represi transnasional oleh PKT terhadap Falun Gong. Dilaporkan bahwa pada Kongres Partai ke-20 tahun lalu, pemimpin PKT secara terbuka menyerukan gelombang baru penindasan terhadap Falun Gong di luar negeri.

Pada 17 Juni, rumah Cheng Peiming, satu-satunya korban selamat yang diketahui dari praktik pengambilan organ secara hidup-hidup oleh PKT, kembali mengalami percobaan pembobolan mencurigakan.
Menanggapi serangkaian ancaman ini, mantan Duta Besar Urusan Perempuan Global dari Departemen Luar Negeri AS, Kelley Currie, menyatakan bahwa dirinya sedang mendorong legislasi di tingkat negara bagian di seluruh AS untuk menanggulangi tindakan penindasan lintas negara yang dilakukan oleh rezim asing.

Sementara itu, Chris Smith, Ketua Komisi Eksekutif Kongres AS untuk Tiongkok (CECC) dan anggota DPR AS, juga tengah mendorong pengesahan “UU Kebijakan Penindasan Transnasional”, yang bertujuan untuk menangani secara menyeluruh tindakan kriminal semacam ini.
Falun Gong adalah sebuah latihan pikiran dan tubuh dari Tiongkok yang diperkenalkan kepada publik di Tiongkok pada tahun 1992. Latihan ini mengajarkan para pengikutnya untuk mematuhi prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Menurut perkiraan resmi saat itu, pada tahun 1999 Falun Gong telah menarik setidaknya 70 juta orang di seluruh negeri. Karena khawatir popularitas Falun Gong menjadi ancaman bagi kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT), rezim tersebut melancarkan kampanye brutal untuk memberantas latihan ini pada Juli 1999.

Sejak saat itu, jutaan praktisi Falun Gong telah ditahan di dalam penjara, kamp kerja paksa, dan fasilitas lainnya, dengan ratusan ribu di antaranya disiksa selama masa penahanan, menurut Falun Dafa Information Center.
Penindasan transnasional oleh rezim Tiongkok yang menarget para praktisi Falun Gong di luar Tiongkok telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Rezim tersebut telah memanfaatkan media, sistem hukum, dan berbagai institusi lainnya di Amerika Serikat untuk menyerang Falun Gong dan entitas-entitas yang berafiliasi dengannya, termasuk Shen Yun Performing Arts, sebuah perusahaan tari klasik Tiongkok yang berbasis di New York, menurut laporan tersebut.
Shen Yun, yang didirikan pada tahun 2006 oleh para praktisi Falun Gong, menampilkan pertunjukan tari dan musik dengan motto “Tiongkok sebelum komunisme.” Pertunjukannya mencakup kisah-kisah tentang pelanggaran hak asasi manusia yang dialami oleh para praktisi karena mempertahankan keyakinan mereka di Tiongkok. Beberapa penampil dan anggota keluarga mereka telah mengalami penganiayaan tersebut secara langsung.
Selama setahun terakhir, serangan rezim terhadap Shen Yun meningkat secara signifikan, dengan puluhan ancaman bom dan pembunuhan yang ditujukan untuk mengintimidasi teater-teater yang menjadi tuan rumah pertunjukan Shen Yun, serta fasilitas pelatihan perusahaan tersebut di wilayah utara negara bagian New York. (Hui/asr)
Laporan oleh Liu Jiajia, NTD News, dari Amerika Serikat


