Manusia dan Humanoid di Tiongkok

Partai Komunis Tiongkok Mempercepat Integrasi Luas Robot Berbasis AI ke Seluruh Lapisan Masyarakat

James Gorrie 

Pesatnya peningkatan tren  menggantikan manusia dengan humanoid di Tiongkok ini, paling ringan terasa mengganggu—dan dalam skenario terburuk, menjurus ke arah distopia yang tak terbayangkan.

Dengan alasan yang sulit dipahami secara logis dan berkelanjutan, Partai Komunis Tiongkok (PKT) tampak bertekad untuk mengintegrasikan robot—baik humanoid maupun non-humanoid—ke dalam setiap aspek kehidupan masyarakat, mulai dari lantai pabrik, ruang publik, toko-toko, hingga pelayanan di rumah pribadi.

Lebih dari itu, di beberapa wilayah perkotaan, integrasi humanoid terjadi lebih cepat daripada yang disadari banyak orang.

Penggunaan luas robot bertenaga AI ini bukan kebetulan, melainkan didorong oleh kebijakan PKT dan sektor teknologi Tiongkok yang bergerak cepat. Ini terjadi di saat Tiongkok sedang menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan sosial yang mengancam kelangsungan rezim, yang membuat kehidupan rakyat semakin sulit setiap harinya.

Tak diragukan lagi, pergeseran menuju tenaga kerja robotik akan menjadi bencana bagi masyarakat biasa di Tiongkok.


Paradoks Ketenagakerjaan

Salah satu masalah mendesak yang dihadapi Tiongkok saat ini adalah pengangguran. Di satu sisi, populasinya menua dengan cepat, dengan puluhan juta pekerja yang akan pensiun dalam waktu dekat. Ketika populasi lansia membengkak dan tak lagi produktif, kebutuhan mereka akan layanan kesehatan dan kebutuhan lain akan menambah tekanan pada sistem sosial negara yang sudah sangat terbebani.

Di sisi lain, mayoritas lansia hanya memiliki satu anak dewasa. Menurunnya jumlah penduduk berarti semakin sedikit tenaga kerja yang tersedia untuk mengisi pekerjaan di sektor manufaktur. Dalam waktu yang sama, banyak dari pekerjaan tersebut tidak akan lagi diisi oleh manusia. Seorang pakar jaminan sosial Tiongkok baru-baru ini memperingatkan PKT bahwa 70 persen dari 123 juta pekerjaan manufaktur di negara itu berisiko otomatisasi.

Dalam beberapa tahun ke depan, krisis pengangguran potensial di Tiongkok diperkirakan akan jauh lebih parah dibandingkan sekarang. Saat ini, Tiongkok memiliki jumlah robot di dunia kerja yang 12 kali lebih banyak daripada prediksi para ahli sebelumnya.

Namun, sebagian besar kebutuhan tenaga kerja akan diisi oleh pekerja non-manusia. Singkatnya: akan ada lebih sedikit tenaga kerja manusia, lebih sedikit pekerjaan, dan lebih banyak robot yang mengambil alih pekerjaan manusia. Jutaan pekerja Tiongkok mungkin akan segera kehilangan pekerjaan karena tidak mampu bersaing dengan robot cerdas yang efisien, tidak makan, tidak tidur, tidak mengeluh, tidak butuh gaji, dan tidak membutuhkan pensiun.

Statistik menunjukkan hal ini: di pusat-pusat manufaktur Tiongkok, sudah ada 470 robot humanoid per 10.000 pekerja manusia. Jika tren ini berlanjut, rasio tersebut akan terus meningkat.


Industri Robotik Tiongkok

Secara menyedihkan, peningkatan jumlah pekerja humanoid ini masuk akal secara bisnis dan demografi. Kepemimpinan global Beijing dalam bidang robotika mencakup 63 persen rantai pasok global robot humanoid. Ini termasuk dominasi dalam area penting seperti 45 persen perangkat keras inti dunia dan 90 persen proses pengolahan logam tanah jarang.

Selain itu, biaya tenaga kerja robotik turun secara drastis, menjadikan integrasi massal robotik sebagai langkah yang secara ekonomi tak terhindarkan.

Namun, integrasi humanoid di Tiongkok melangkah lebih jauh. Misalnya, pada awal 2025, perusahaan AgiBot yang berbasis di Shanghai telah memproduksi 1.000 robot humanoid yang mampu berpikir dan menjalankan tugas manusia dalam kehidupan nyata.

Singkatnya, kemunculan humanoid secara sengaja membalikkan sistem ketenagakerjaan di Tiongkok menjadi tidak menguntungkan bagi manusia. Tren pengangguran di sektor pabrik terlihat suram dan kemungkinan besar tidak akan membaik.

Sebaliknya, permintaan akan tenaga kerja terkait robotik justru meningkat. Ini termasuk insinyur, analis data, perancang AI, desainer produk, teknisi pemeliharaan, dan sektor terkait lainnya.

Namun, sebagai pemimpin global dalam pabrik otomatis, kecil kemungkinan PKT akan menambahkan beban tenaga kerja manusia yang mahal ke dalam ekonominya yang menyusut, baik dalam jangka pendek maupun panjang.


Munculnya “Tentara” Humanoid?

Seperti banyak teknologi ganda (dual-use), mengalihkan robot berbasis AI untuk keperluan sipil ke fungsi polisi atau bahkan militer sangatlah mungkin. Faktanya, kebijakan PKT adalah membangun robot humanoid serba guna yang dapat dengan mudah dialihfungsikan untuk peran kepolisian atau militer pada akhir tahun ini.

Kemampuan terbaru dari robot humanoid—dalam hal kecerdasan, pengawasan, dan interaksi dengan manusia—dapat menjadikannya kekuatan yang tangguh untuk tugas pengumpulan intelijen dan penjagaan ketertiban. Ini bisa membantu Partai menjaga stabilitas jika terjadi kerusuhan sipil. Paling tidak, humanoid yang berfungsi tinggi dan beroperasi di tengah populasi manusia bisa makin mengikis privasi warga, terutama di wilayah perkotaan.

Kemungkinan—atau niat—untuk menegakkan hukum dan ketertiban di masa kerusuhan sipil, atau bahkan mengerahkan robot tentara melawan “musuh”, bukanlah hal yang melampaui batas perilaku dan kebijakan PKT.

Pertanyaan yang lebih tepat mungkin: “Mengapa mereka tidak melakukannya?”


PKT Ingin Menormalkan Kehadiran Humanoid

Proyeksi pasar terbaru menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 17 persen untuk pasar humanoid, dari 64 juta dolar AS pada 2023 menjadi 195 miliar dolar AS pada 2030.

Di wilayah padat penduduk seperti Shenzhen dan Shanghai, humanoid sudah mulai terlihat di tengah populasi.

Normalisasi ini penting karena beberapa alasan. PKT melihat adopsi internasional atas robot buatan Tiongkok—baik untuk industri maupun rumah tangga—sebagai sumber pertumbuhan baru yang vital bagi ekonominya yang melemah. Beijing juga berharap hal ini akan menarik investasi asing langsung yang sangat dibutuhkan dan menciptakan lapangan kerja baru, setidaknya bagi sebagian kecil tenaga kerja domestik.

Langkah agresif PKT dalam merambah dunia robotika berbasis AI mencerminkan keterkaitan antara teknologi humanoid, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas sosial di era baru yang kompleks ini.

Dalam kenyataannya, hasilnya tampak suram, dan masa depan tak tampak cerah—setidaknya bagi manusia. Situasi ini menjadi peringatan bagi kita semua.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah opini penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan The Epoch Times.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine