EtIndonesia. Gambar satelit baru-baru ini menunjukkan adanya aktivitas di sekitar fasilitas nuklir Fordow Iran yang dihantam oleh serangan udara AS seminggu lalu. Para ahli memperingatkan bahwa ambisi nuklir Iran belum padam. Selain itu, pemimpin tertinggi Syiah Iran pada Minggu (29 Juni) mengeluarkan fatwa yang secara terbuka menghasut para pengikutnya untuk melakukan serangan teror terhadap Presiden Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, memicu kecaman luas.
“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Mereka telah menginginkannya selama bertahun-tahun dan sekarang mereka hanya berjarak beberapa minggu dari benar-benar memilikinya,” kata Presiden AS Donald Trump.
Pada tengah malam seminggu yang lalu, militer AS melancarkan operasi kejutan dengan sandi “Palu Tengah Malam”, menghantam tiga fasilitas nuklir penting Iran. Namun, apakah ini berarti Iran akan menghentikan ambisi nuklirnya?
Senator Partai Republik Lindsey Graham: “Pertanyaan bagi dunia adalah, apakah rezim Iran masih ingin membuat senjata nuklir? Jawabannya adalah: ya.”
Gambar satelit terbaru yang dirilis pada Minggu menunjukkan adanya aktivitas di lokasi pabrik pengayaan uranium Fordow yang dihancurkan oleh pembom siluman B-2 AS. Sebuah ekskavator dan beberapa pekerja terlihat bekerja di sekitar ventilasi di lereng bukit.
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi: “Jelas terlihat bahwa fasilitas itu mengalami kerusakan parah, meskipun tidak sepenuhnya hancur. Iran memiliki kemampuan industri dan teknologi. Jika mereka menginginkannya, mereka bisa kembali memulai pengayaan uranium.”
Pada Senin (30 Juni), Iran menolak permintaan inspeksi dari IAEA terhadap fasilitas yang dihancurkan tersebut. Parlemen Iran bahkan menyetujui penghentian kerja sama dengan lembaga tersebut. Prancis, Jerman, dan Inggris langsung mengeluarkan pernyataan bersama untuk mengecam langkah Iran.
Mengenai perundingan nuklir, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Taher Torabanchi, dalam wawancara dengan BBC mengatakan bahwa AS menunjukkan sinyal ingin bernegosiasi, tetapi negosiasi tidak akan dilanjutkan kecuali AS menjamin tidak akan menyerang selama proses dialog.
Namun, Presiden Trump menegaskan pada Senin bahwa tidak ada negosiasi dengan Iran dan bahwa AS tidak akan memberikan konsesi apapun kepada Teheran.
Sebelumnya dilaporkan bahwa AS mungkin mempertimbangkan memberikan bantuan dana senilai 30 miliar dolar AS kepada Iran untuk pembangunan proyek energi nuklir sipil. Namun Trump membantah keras kabar tersebut dan menekankan bahwa jika Iran berani melanjutkan program nuklirnya, AS tidak segan untuk melakukan serangan ulang.
Selain itu, menurut laporan New York Post yang mengutip New York Sun, pemimpin spiritual tertinggi Syiah Iran, Khamenei, pada Minggu mengeluarkan fatwa terhadap Trump dan Netanyahu, menyebut mereka sebagai “musuh Allah”, dan menghasut umatnya untuk mengeksekusi mereka dengan hukuman ekstrem seperti memotong tangan dan kaki serta disalib.
Seorang komentator politik berdarah Iran-Inggris, Niyak Ghorbani, mengecam keras fatwa tersebut. Ia menyebut tindakan itu sebagai bukti bahwa Iran secara resmi mendorong terorisme internasional, dan menekankan bahwa fatwa itu merupakan ajakan untuk jihad kekerasan terhadap pemimpin dunia Barat.
Ghorbani menyerukan dunia Barat untuk menyadari bahwa rezim diktator Iran tidak hanya menindas rakyatnya sendiri, tetapi juga siap menyebarkan kekerasan global atas nama agama. (Hui/asr)
Laporan oleh: Yi Jing, NTD Television


